Jumat, 28 November 2014

Universe


Beberapa minggu belakangan ini aku selalu menonton, membaca, menyaksikan sesuatu yang agak “berat”, let’s call it interstellar stuff. Hal-hal tentang dilatasi waktu, gravitasi, matahari, dimensi kesekian, dan teman-temannya yang lain. Jujur aja aku ga punya kapasitas untuk membahasnya secara ilmiah, karena aku ga mendalami ilmunya dan yang bisa kubanggakan hanyalah pengetahuan hasil dari menonton film semacam “Einstein & Eddington”. Weeeeell -_-
Beberapa pengetahuan yang aku dapat hanyalah hal-hal standar semacam: waktu adalah ukuran yang relatif, di mana satu hari di bumi tidak sama dengan 1 hari di “sana”, alam semesta diibaratkan bentangan kain, dan planet-planet di dalamnya seumpama bola-bola yang diluncurkan di atasnya
Menyaksikan film, buku, atau artikel tentang alam semesta ini selalu membuatku berdecak kagum. Mungkin, apabila aku tidak menjadi ekonom, aku akan mencoba peruntunganku di bidang astrologi, eh, maksudnya astronomi. Mungkin aku akan menjadi salah satu anggota misi terbang ke planet X yang katanya ada kehidupan. Hahaha.
Anyway, point yang mau kusampaikan adalah, alam semesta ini merupakan misteri besar yang belum, dan tidak akan, pernah terpecahkan. Apa yang manusia ketahui hanyalah remah-remah yang ada dalam satu kaleng Khong Ghuan utuh. Film seperti Lucy, Interstellar, Einstein & Eddington, Armagedon, dan sejenisnya memang mungkin masih belum bisa diterima sebagai suatu fakta yang mungkin dan dapat terjadi dalam kehidupan nyata. Tapi siapa yang tahu? Mungkin 500 tahun lagi terbang ke bulan adalah sebiasa naik commuter Jakarta-Bekasi (aku bukan mau bilang Bekasi itu sejauh bulan kok, bukan). Kita, khususnya, manusia yang hidup sekarang, sekali lagi, adalah seperseratus dari remah-remah Khong Ghuan.
Berbicara tentang alam semesta, bagi saya yang percaya, tidak akan pernah lepas dari membicarakan penciptanya. Newton, dalam mengemukakan teorinya, menyisakan satu pertanyaan tak terjawab sampai akhir hayatnya dan ia menyisakan satu tempat untuk Tuhan menjawabnya. Mereka mengatakan bahwa seorang ilmuwan bisa gila bukan karena mereka terlalu pintar, namun karena ada pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa dijawab, namun mereka tetap mengeraskan hati, dan tidak berterima kalau jawabannya haruslah sesuatu yang berhubungan dengan Sang Pencipta. Bagaimana dengan kita yang hanya terima jadi? Akankah kita masih boleh sombong?
Hal lain yang kupelajari adalah tentang cinta sejati. Kenapa cinta sejati? Dalam film Interstellar, ia menggambarkan sebuah perjalanan ke planet X yang dianggap bisa menggantikan bumi sebagai tempat hidup manusia. Digambarkan dalam film tersebut, bahwa setiap jam yang mereka habiskan di planet X itu sama dengan tujuh tahun kehidupan di bumi.  Itu memang fiksi, tapi aku yakin pasti semua sudah diperhitungkan dan memang ada dasar teorinya, yaitu relativitas waktu. Btw, itu masih tempat yang bisa terjangkau oleh manusia, walaupun dengan pesawat ulang-alik tercanggih. Coba lau pikir aja. Surga, yang bahkan tidak mampu dilihat keberadaannya, akan sama seperti apa satu jam di sana dengan di bumi? Ya, mungkin 75 tahun hidupmu hanya berlaku 1 jam di sana, atau 1 menit, atau...1 detik? Tidakkah kau lihat sekarang, bahwa hidup adalah kesia-siaan? Siapa yang sanggup mencintai seseorang begitu dalam hanya dengan 1 detik melihatnya? 
Dalam film Interstellar dijelaskan seorang ayah yang sangat mencintai putrinya namun harus bertugas pergi ke planet X dalam misi penyelamatan umat manusia. Ketika ia kembali ke bumi, ia tidak banyak berubah, namun putrinya sudah menjadi seorang nenek. Begitulah analoginya. Konsep kekekalan itu tidak bisa dipisahkan dari cinta sejati. If we love one person with a deep, true, heart, does time matters? No.
Dalam film Lucy, aku inget beberapa hal yang dikatakannya, salah satunya adalah “Time is the only true unit of measure, it gives proof to the existence of matter, without time, we don’t exist”. Sekarang, simak apa kata Alkitab tentang waktu, “There is a time for everything, and a season for every activity under the heavens,”. Aku melihat ayat tersebut artinya gini: Segala sesuatu di bawah surga, pasti ada masanya. Bumi bisa berbeda waktu dengan Saturnus, planet X, atau planet-planet lain. Boleh ada perbandingan waktu, namun tetap ada “waktu”. Tuhan memberikan masa untuk semua kehidupan di alam semesta ini. Tapi di surga, waktu tidak berlaku. Itulah konsep kekekalan yang sejati menurutku. Tidak ada siang, tidak ada malam, tidak ada waktu tidur. Satu hari di pelataranNya akan sama dengan waktu yang tak terhingga di bumi. Konsep penciptaan menjadi jelas ketika kitab berkata, “Hari pertama Allah menciptakan langit dan bumi,”. Ya, satu hari di surga mungkin sama dengan milyaran tahun di bumi ketika langit dan bumi dipercaya timbul dari hasil evolusi yang amat sangat lama.
Karena konsep itulah, Tuhan bebas mengintervensi setiap hidup manusia, baik masa lalu, masa sekarang, ataupun masa depannya. Ya, ia datang dari dimensi yang lebih tinggi untuk memberikan masa bagi ciptaanNya, mereka yang hanya ditemuinya 1 detik dan langsung mencintainya saat itu juga.
Aku sudah agak lama memikirkan misteri ini. Aku mau membagikannya agar mereka, yang mungkin harus dicekokin dengan logika, menjadi mengerti.
Teruntuk mereka yang memilih untuk tidak percaya karena tidak melihat, marilah renungkan lagi misteri ini. It has made perfect sense for me. What about you?

Selasa, 04 November 2014

Syukur

Tuhan aku bersyukur.
Untuk pulsa yang diisikan Papa.
Untuk telepon darinya walau hanya sekedar menanyakan kadar seperti biasa.
Aku bersyukur untuk sahabatku.
Yang mau repot-repot menolongku mengambil charger laptop yang tertinggal.
Dan mengirimkannya lewat pos.
Aku bersyukur karena ia hanya menertawakan kebodohanku.
Dan langsung mengiyakan permohonanku tanpa komplain.
Aku bersyukur untuk mama yang sangat bijak.
Yang tanpanya aku mungkin aku belum sampai Bandung dengan selamat sekarang.
Aku bersyukur untuk data skripsi yang sudah sebagian besar rampung.
Dan orang-orang di sana yang melayaniku dengan senyum yang tampak tulus.
Aku bersyukur untuk makan malamku barusan, soto daging yang hangat dan enak.
Aku bersyukur untuk semuanya hari ini.
Termasuk untuk email yang tadi aku terima.
Dari dosen pembimbingku.
Yang paling jenius.
Yang selama ini mengabaikanku :)

Kamis, 30 Oktober 2014

18 MB

Masa-masa skripsi memang masa yang paling bikin pusing.
No. Seriously.
Di situlah saat-saat paling banyak pikiran, paling rempong, paling jerawatan, paling menguras air mata, keringat, dan darah. Atau hasil eskresi lainnya.
Jujur saja saat ini aku lagi stress mikirin data skripsi yang tak kunjung sampai di genggaman tanganku terkait birokrasi yang ribet.
Pikiranku banyak tersita karena itu, siang dan malam.
Ya, akibatnya penyakitku yang sangat memalukan kambuh: gatal-gatal -_-
Di saat-saat paling stress, tertekan, dikejar deadline, atau menegangkan, aku biasanya akan terserang gatal-gatal, dari ujung rambut hingga ujung kaki. 
You know, like a monkey. A red monkey. Karena gatal-gatalnya memerah.
Aku LINE mama,  "Ma, gatal-gatalku muncul lagi karena stress,"
Dan seketika ia meneleponku, kita berbicara dengan santai, saling bertukar cerita, dan tak lupa menertawakan ibu-ibu "tetangga" yang tingkahnya aneh. (anyway, if you know me so so well, and we are close enough, you and I, we, will be hanging around laughing at people most of the time). 
Setelah berbicara ngalor ngidul sampe kupingku mendidih, mama sampai pada intinya, "Udah, ga usah dipikirin kali yang skripsi itu. Santai aja. Mama booking tiket untuk pulang buat Natal ya,"
Dan seketika ada perasaan hangat yang menjalar di dada, membuatku terenyuh.
Membuat produksi hormon kortisolku yang berlebihan berhenti dan gatal-gatalku lebih baik.
Ya, aku masih punya malaikat yang selalu menghujaniku dengan doa dan dukungannya.
Kenapa aku harus takut dan khawatir?
Itu cuma data berukuran 18 MB, kok.
Setara dengan 5 buah lagu alaynya Kang*n Band.

Senin, 06 Oktober 2014

Dear Riu


Belakangan ini aku tersadar akan satu hal: Semakin seorang beranjak dewasa, semakin dia  teringat akan masa lalunya.
Itu kenapa ada reuni, ada temu kangen, ada gathering, dll, dll.
OK, aku ga bilang diriku sudah “tua”, karena anyway I’m just entering a wonderful 20th!
Tapi saat ini aku pengen jujur. Untuk pertama kalinya. Sebagai seorang dewasa.
Aku tidak ingin kehilangan sahabatku (lagi).
Dan itu berasal dari perenunganku akan masa lalu.

.....

Jadi baru beberapa jam yang lalu aku mengecek akun ask.fm yang sudah lama kubuat namun jarang kubuka. I mean, come on, bahkan sampe sekarang jumlah pertanyanku baru 28 dan itu juga banyak pertanyaan random dari ask.fm yang kujawab sendiri haha -_- Intinya, aku tidak terlalu berbakat membuat orang lain penasaran akan what’s-going-on-in-my-life.
Jujur aja aku bukan orang yang suka ngeliatin timeline di ask.fm, karena kalopun pertanyaannya menarik, jawabannya panjangnya masyaolloh. Tak ubahnya seperti membaca roman zaman Renaissance.
Namun kemudian mataku tertuju pada suatu pertanyaan yang rada “eye-catching”.
Pertanyaan ini dialamatkan ke ask.fm salah satu temen aku di SMA.
Kira-kira pertanyaannya adalah “What do u think about doing sex on treadmill?”
OK, bukan kira-kira lagi. Itu memang pertanyaannya. Maaf agak ga enak dibaca.
Dan temenku kira-kira menjawab, “Wow. Gw ditanyain sama king of sex...”
Lagi-lagi, bukan kira-kira.
Terus aku penasaran, seperti apakah yang disebut sebagai King of Sex itu???
Apakah dia memiliki sosok berbulu lebat dan perkasa? Otot-otot besar dan senyum yang rupawan? Rambut klimis ala Ciamis? Atau just a random skinny guy with skinny jeans who would  talk about sex all the time?
Aku pun membuka akunnya.
Fotonya keren, ala-ala anak gaul yang kekinian.
Lalu aku pun tertarik membaca satu per satu pertanyaannya yang dijawab lugas, lucu, kritis, dan fantastis. What an open-minded with a good sense of humor guy! Yah, walaupun sebagian besar dari topik bahasannya berbau sex, tetapi dia pintar “membungkusnya” sedemikian rupa hingga tidak terlihat menjijikkan. Like he had an elegant way to say “Hi, sexy guy right here!
He is a guy. Unfortunately, he is also a gay.
Scroll down, scroll down, scroll down, and then scroll up.
Mataku tiba-tiba tertuju pada nama aslinya.
(sebut saja) Riu.
Dan aku tertegun sejenak, mengingat-ingat namanya yang begitu familiar.
And.... gotcha!
He was my bestfriend.
Yeps, you read it. I use past tense.
Dia sahabat cowo terbaik yang aku punya selama SD sampai SMA kelas 1.
(Andaikan Bahasa Indonesia ada past tensenya...)
This is sad.
If you have no idea about him, lemme write it. Just make it for him.

......

Dear Riu,
Aku inget masa-masa ketika aku masih suka mati-matian sama cowo, naksir sampe 2 jam nunggu di depan rumahnya, layaknya psikopat, kau selalu ada. Riu, kau berusaha menjadi mak comblang yang baik walaupun pada akhirnya gagal. Ketika  kau ada masalah di rumahnya, karena kau broken home, kau selalu datang ke rumahku dan kita bakal cerita ketawa-ketawa, menggosipi orang yang tak bersalah, sampe malem. Kita selalu sepaham dengan banyak hal, terutama hal-hal aneh yang tidak sewajarnya ada. Hey, aku rasa “bakat” mengomentari segala sesuatu dari A-Z ku itu datang darimu. Sampe mamaku teriak-teriak nyuruh kita ngerjain PR. Riu, kau selalu punya list-list lagu paling keren pada saat itu. Dan karena aku belum punya HP yang canggih, kau selalu meminjamkan handphone-mu untuk aku mendengar musik. Seringkali kau meminjamkan memori card handphone-mu berhari-hari karena aku ingin memindahkan lagu-lagumu. Seringkali kita pergi ke KFC yang jaraknya sekitar guling-guling-dari-rumah-nyampe hanya untuk membeli eskrimnya. Seringkali aku meminta uangmu juga, btw. Yeps, kau selalu punya lebih banyak uang jajan dan aku selalu mengeluhkan hal itu. Kau selalu datang ke kelasku pas istirahat, walaupun kau sebenarnya punya teman di kelasmu sendiri, tapi you know, they were not in the same level hahaha. Mereka ga akan ngerti dengan topik bahasan kita.  Oh iya! Inget ga saat kita disuruh cari kepompong untuk tugas IPA? Kita cari kepompong bareng-bareng di kuburan dekat rumahmu malem-malem...sambil pegangan tangan! Simply karena aku takut hantu pada saat itu. Dan kita dapat banyak kepompong! Yah tentu saja kau yang mengambilnya dari pohon karena aku ga suka sama benda-benda menggeliat itu. Bahkan pada saat SMP , ketika aku dan kau tidak bersekolah di SMP yang sama, kau masih sering datang ke rumah. Bahkan kau sering datang diam-diam, tanpa mengabariku terlebih dahulu. Kita pergi ke Sun Plaza, yang pada saat itu sedang eksis-eksisnya. Kita nonton film horor Indonesia alay yang lagi in pada saat itu hahaha. Ketika aku ulang tahun, kau menghadiahi aku baju Billabong, karena pada saat itu SEMUA orang mabok Billabong, Roxy, Quick Silver, dll, dan aku ga punya satupun karena harganya mahal. Dan kau membuatku terlihat keren. Kau selalu mendengarkanku curhat tentang orang yang sama selama 4 tahun! Dan kau sempat menyukai seorang cewe cantik, bule, anak Cahaya. Namanya Sasha, remember? Kita punya banyak selfie dengan gaya yang aneh-aneh dan sok lucu. Kau, kau selalu berbagi denganku. Kau berbagi segalanya; pelajaran hidup, arti persahabatan, tawa, tangis, cerita, gambar, lagu, foto, bahkan...video xxx (you know what I mean! Hahaha. Well pada saat itu kita hanya remaja labil yang tak tahu arah ._.) Kau cerita banyak tentang keluargamu. Tentang segala konteks “Life is not fair and I am fucked up” yang dengannya aku banyak belajar.
Kau sangat mengerti aku, dan keanehan-keanehanku yang hanya aku tonjolkan kepada satu atau dua orang di dunia ini. Dan kau cukup beruntung pernah menyelami karakterku sedalam itu :’)

Kau seniat itu bersahabat denganku.

Dan kau ga pernah menyerah untuk bilang “Abby, I’m here. Anytime you need me, bitch.” Sembari tersenyum hangat dan merangkulkan tanganmu di bahuku. Ya, aku lupa, kau selalu memakai kata-kata tak senonoh yang selalu terdengar senonoh di telingaku. Because you were my bestfriend.

Tapi aku sejahat itu. Suatu saat kau mengajakku jalan-jalan di sekitar sekolah dan aku menolak karena lagi ngerjain tugas. Lalu kau ambil HP Nokia 3210 ku dan tidak mengembalikannya sampai jam pulang sekolah. Lalu aku datang ke kelasmu dengan emosi yang tak tertahankan lagi. Aku memakimu di depan teman-temanmu hanya demi sebuah HP Nokia 3210. Aku tahu kau punya perasaan yang  jauh lebih lembut dari hati cewe manapun. I knew you were already fucked up. Tapi aku tetap mengatakan hal terlarang itu sewaktu bertengkar pada saat itu. I let you down.
Sebenarnya aku tahu rasanya berada di posisimu. Hanya aku terlambat menyadari dan terlambat untuk mau berganti posisi denganmu untuk merasakan bagaimana seorang sahabat yang selalu bisa diandalkan mempermalukanmu di depan umum dengan 1 kata yang terdiri dari A, N, J, I, N, G itu dengan keras. Right in front of your sad face. What was wrong with me? I don’t know. Rasanya ingin kucampakkan saja HP itu ke sungai Babura di belakang sekolah jika aku tahu itu yang akan memisahkan kita sekarang. Sepele.  Tapi itulah kenyataannya.
Haruskah aku semarah itu padamu?
Tidak. Tidak sama sekali.

Dan sekarang lihatlah kita berdua! Setelah lima tahun berlalu.
Dua sisi dunia yang berbeda. Kau, dengan hidupmu yang fun, dan aku dengan segala kesehajaan ala kadarnya :’)

Tetapi jika aku boleh bertanya, are you OK? Kenapa kau masih mengatakan hidupmu berantakan? Kenapa kau tidak lagi menyukai cewe cantik seperti dulu? Kenapa kau begitu sinis menanggapi hidup belakangan ini? Kenapa kau merokok? Kenapa kau jadi raja sex, literally? Kenapa kau mabuk? Kenapa kau membuang nasihat yang berarti dari orang lain?  What’s (really) going on with your life? Did I miss something? Ga usah ditanya sebenernya aku tahu diri kok, udah kehilangan banyak hal dalam hidupmu. Masih berhakkah aku mengajukan pertanyaan tadi?

Jujur ada perasaan nyesek yang begitu hebat yang aku sendiri bingung kenapa bisa muncul. Apakah ini hanya sekedar “Ya ampun ternyata gue udah gede aja ya, ga nyangka time flies so fast, dulu perasaan mainannya masih alib berondok” atau karena suatu hal sesimpel “I miss you like crazy.”? Aku pilih yang kedua. Karena pada akhirnya bukan tanpa alasan aku memberanikan diri ask di kolom pertanyaan mu. Aku menanyakan kabarmu. Bukan semata-mata karena aku ingin basa basi dan akhirnya menemukan jawaban semacam “Baik hehe apa kabar jg?” tapi karena aku pengen bilang “Riu, I’m here. Anytime you need me, motherfucker!”. Because I want to give a damn about your life. I do care.
 Iya, aku tahu kok itu terlambat. Aku tahu ga akan semudah mencukur bulu ketek lah membuat kau jadi sahabatku lagi. Pada akhirnya mungkin kau ga akan pernah jadi sahabatku lagi. Bisa saja dalam hatimu sudah membeku dan kau hanya bisa bilang “Siapa sih lo?” tanpa bisa aku salahkan lagi. Itu hakmu. Pada akhirnya kita hanya akan menjadi dua strangers yang sama-sama ngerasa awkward karena kehadiran satu sama lain.
Tapi tidak apa-apa. Aku sadar bahwa waktu tidak bisa diputar. Selama mesin waktu belum ditemukan, kita ga bisa seenak jidat melakukan apa yang kita mau. Setiap tindakan pasti berujung pada satu konsekuensi yang pasti. Termasuk aku, sewaktu menyakiti hatimu dulu tanpa pernah megucapkan kata M-A-A-F sekalipun, sampai sekarang. Yang mungkin kalo kukatakan sekarang kau akan bingung dan menganggapku sedang berhalusinasi.

Tapi terima kasih sudah membuatku belajar. Karena seperti biasa, kau selalu membiarkanku untuk menerima sesuatu dari padamu.
Aku sadar bahwa persahabatan bukan hanya dibangun dari interaksi-interaksi hebat, seperti liburan bareng ke Pulau Maldives, mendaki Mount Everest bareng dan hampir mati karena cuaca buruk, memberikan kado ulang tahun berupa liontin persahabatan yang terbuat dari berlian, dll. Persahabatan itu muncul dari hal-hal simpel yang mungkin sepele. Persahabatan itu sesimpel menjaga komunikasi dan selalu membiarkan sahabatmu punya tempat dan waktu spesial dalam keseharianmu, biarpun hanya sebatas “Hi”. Persahabatan itu sesimpel bisa menahan dirimu untuk mengucapkan kata kasar. Persahabatan itu sesimpel kesanggupan hati untuk meminta maaf.  Persahabatan itu berbicara tentang usaha mengalahkan ego. Persahabatan itu membutuhkan hati.

Aku adalah subjek yang bersalah.
Aku tahu, mungkin kalau kita masih sahabatan, hidupmu mungkin belum tentu berbeda. Yah, pada akhirnya kau mungkin tetap akan berada pada orientasi seksual yang sama, kau tetap menjalani hidup seperti sekarang. Tapi aku berharap ada di sana. Aku berharap aku bisa menemanimu. Dan tetap menjadi seorang cewe yang selalu bisa kau andalkan.  Seperti halnya aku bisa mengandalkanmu dulu.

Maaf untuk keegoisanku. Maaf jika bahkan aku menjadi salah satu alasan kau makin kecewa dengan kehidupan ini. Maaf jika rumah yang selalu kau datangi diam-diam tidak bisa lagi menjadi tempatmu berteduh dari masalah dan tangan yang selalu kau genggam erat ini sudah terlalu asing untuk menjadi penenang hatimu. Maaf. Maaf. Maaf.
Jika nasi telah menjadi bubur, setidaknya balaslah pertanyaanku di ask.fm.
Katakanlah kau baik-baik saja. Walaupun hanya sekadar basa basi.

Terima kasih telah meninggalkanku. Dan menyisakan orang-orang yang begitu baik di sekitarku sampai sekarang. Aku janji aku ga mau kehilangan mereka lagi. Aku janji aku hanya akan mengelus dada, atau paling buruk, nangis, ketika mereka menyakitiku. Melukai perasaanku. Aku janji ga akan ngomong kasar lagi dan hilang kendali lagi. Aku janji akan sering meminta maaf. Aku ga mau kehilangan mereka seperti aku pernah kehilanganmu.
Aku janji.

Karena aku tahu, persahabatan sangat berarti dan seseorang sepertimu tidak akan bisa kembali...


Selasa, 09 September 2014

(Bukan) Iklan

Maaf random,
Tapi baru kali ini aku benar-benar merasa puas akan sebuah produk.
Yah, beginilah nasib seorang perfeksionis :(
Ini bukan iklan, pemirsa.
Ini hanya ungkapan hati seorang customer yang puas.
Dan produk yang berhasil memenangkan hatiku adalah..........
L'oreal Extraordinary Oil!
Ini penampakannya:

Aku sebenernya jarang banget pake pake produk buat rambut gini.
Alasannya karena lebih ke pasrah aja sama rambut yang udah aneh dari lahir.
Rambut yang keriting kasar kusam kering bercabang.
Dan salahnya, aku hanya menggunakan shampo dan hampir tidak pernah menggunakan conditioner.
Seribu masalah nol solusi hahaha -_-
Terus aku putuskan untuk menjadi seseorang yang lebih baik, dengan membeli serum ini yang jujur aja hasil rekomendasi dari temen. 
(Visit : Intan Pertiwi Sianipar).
Dan eh...ternyata bagus.
Memang sih, harganya agak mahal :(
Aku sarankan kalo mau beli mending di Carrefour daripada Hypermart.
Beda harganya bisa jauh banget! Aku beli di Carrefour kena Rp71.000,00, sedangkan temen yang beli di Hypermart kena Rp89.000,00 :(
Bagi anak kos lumayan harus nabung sih buat belinya, mungkin bisa dikurangin jajan gorengan dan capuccinno cincaunya.
Tapi worth it, kok.
Hasilnya, rambutku jadi lembut, ringan, mudah diatur, tetapi tidak lepek.
*KOK JADI KAYAK IKLAN?!
Intinya sih produk ini ngefek di rambutku.
Dari 5 bintang, aku kasih 4,5!
Sekian review dari seorang customer yang perfeksionis.
Semoga tulisan kali ini membuat blog-ku semakin berguna dan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara :')

20th

6 September 2014.
Akhirnya memasuki dekade ke-3 dalam kehidupan.
Fyuh!
Sudah sampai sejauh ini ternyata aku menjalani lika liku kehidupan.
Tidak terasa sudah memasuki dekade yang kata orang tahun-tahun "paling menentukan" dalam hidup.
Di situ lulusnya, dapet kerjanya, ketemu jodohnya, punya anaknya, dan sebagainya.
6 September kali ini terasa sangat berbeda dari biasanya.
Tidak terlalu banyak hingar bingar dan emosi yang terbuang.
Lebih banyak perenungan dan pikiran yang melayang-layang...ke masa depan.
Teman-teman datang untuk menyiapkan surprise, ucapan, kado, kue, dan sebagainya.
Itu sangat berarti buatku. Lebih dari apapun. Perasaan di mana kau tahu bahwa hidupmu dipenuhi orang-orang yang menyayangimu. Dan hidup menjadi worth living.
Namun di balik itu semua aku berpikir,
Sejauh apa kehidupan ini akan membawaku?
Memasuki kepala 2 buatku bukan sekedar, "Congrats you are not a teenager anymore! Now you can be drunk, have sex dan raise a kid ". Tidak sama sekali.
Umur 20 menyadarkan aku untuk segera mengemasi lampu beserta minyaknya untuk menyambut mempelai.
Ya, artinya bersiap-siap untuk segala kemungkinan.
Karena aku tahu, hidup akan selalu tidak tertebak. Statistika ada biasnya.
Oleh sebab itu aku kembali menapaki kontemplasi yang sama, tentang bagaimana hidup ini akan berjalan.
Pada akhirnya aku sampai lagi pada suatu kesimpulan yang biasa.
Bahwa aku akan berserah.
Tentang apa hidup ini bercerita, siapa orang-orang yang akan bertahan, dan mengapa hal-hal yang ada harus terjadi pada waktu dan tempatnya, aku memilih untuk menutup mata dan telingaku.
Berpura-pura polos, layaknya anak bayi.
Dia lemah dan bodoh, tetapi walaupun dia tidak mengerti, dia akan selalu aman.
Akan ada tangan-tangan yang merengkuhnya, lembut seperti sutra.
Hingga dia tahu siapa dirinya, pada akhirnya.
Analogi anak bayi ini jujur saja baru kutemukan 2 menit yang lalu, bagai ilham yang datang tak diundang.
Aku bersyukur Dia mengaruniaiku naluri untuk merasakan ini semua.
Hingga satu-satunya yang boleh kuketahui adalah bahwa aku "aman".
Di puncak maupun di palung, aku akan aman.
Karena bukan tugasku untuk tahu tentang apa yang akan terjadi.
Bukan hematku untuk mengerti alasan itu akan terjadi.
Bukan porsiku.

Selamat 6 September yang ke-20, Anita Kezia Zonebia.

Selasa, 26 Agustus 2014

Key: Discipline

Kalau dunia itu ibarat bola mata yang sangat besar dan sangat sensitif terhadap setiap gerakan benda yang di depannya, maka yang menggerakkannya, menurutku, adalah kedisiplinan.
Disiplin. Atau komitmen. Konsistensi. Yah, sama saja.
Sebagai manusia yang tidak disarankan untuk terlalu naif, kita pasti pengen eksis.
That's why people made Instagram, Twitter, Path, et cetera.
Pengen dunia dan segala hingar bingarnya memperbincangkan kita.
In a positive way.
Right into your face.
Yah, ga salah sih. Ga ada yang salah.
Itu sangat wajar.
Bahkan jika ingin dirohanikan pun, dengan cara-cara tersebut kita bisa menjadi role model yang baik bagi banyak orang, right?  Begitulah misi agama kita semua.
Namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita bisa seperti itu?
Hmm menurut hematku sebagai seorang "pengamat" sosial media a.k.a kepoerz, yang dibutuhkan adalah sebuah kedisiplinan. Eksistensi manusia hanyalah hasil manis dari memukul rotan ke tangan sendiri.
Contoh? Banyak.
Misalnya nih, sekarang di Instagram temen-temen cewe aku lagi eksis banget foto pake bikini di pantai yang aduhay. Likers-nya? Wah jangan ditanya. Bisa sampe ratusan, bahkan ribuan.
Bagus. Keren. Fantastis. Indah.
Tapi sadar ga sih untuk bisa terlihat bagus keren fantastis indah di bikini two-pieces gitu susah banget???
It is not (so) gifted, girls, come on!
Coba deh scrolling down ke foto-foto yang sebelumnya.
Ada foto tali skipping, sepatu olahraga, dan barbel kan? Atau mungkin di Path-nya selalu check-in di Celebrity Fitness tiap jam 6 pagi.
Wow! Niat banget kan.
Sementara kita diam-diam menatap iri pada foto-fotonya....sambil makan donat 300 kalori -_-
Contoh lain deh. Biar ga matrealistis banget.
Kita pasti bangga dong kalo jadi asisten dosen multijurusan. I mean, pasti ada perasaan "Siapa sih yang ga kenal gue?"
Eksis tiada tara.
Namun, kita kadang hanya memandang dari sisi kitanya saja, si penggigit2 jari.
Mungkin kita iri dengan kejeniusan mereka yang seolah-olah sudah dikaruniai IQ 222 sejak lahir.
Lets be realistic, people.
Lets get into their shoes. Mereka juga belajar mati-matian kok untuk mendapatkannya. Mereka mencatat detil setiap kata dosen di kelas. Mereka berusaha mendekati dosen sedemikian rupa. What ever lah mau dibilang penjilat or so, yang penting usaha!
Mereka melalui berbagai rangkaian tes yang mungkin ga semua orang mau capek-capek melakukannya. Ada disiplin untuk memotivasi diri sendiri, from hero to zero.
Contoh lain.
Ini pasti banyak lah.
Aktivis-aktivis himpunan yang eksisnya melebihi rektor kampusnya sendiri.
Kebanyakan dari kita mikirnya itu adalah karena mereka pinter bersosialisasi karena mereka anak-anak extrovert yang dikaruniai bakat ngomong sana-sini.
Tapi tidak, lagi-lagi itu karena mereka disiplin.
Disiplin untuk membentangkan jaring sosialnya, disiplin bergaul dengan sesepuh-sesepuh himpunan yang biasanya bikin lieur, bahkan disiplin untuk memasang poker face demi menyenangkan hati orang lain.
Kebayang juga ga sih, pulang malem-malem abis rapat (worse case, subuh), badan udah capek, mata udah berat seolah-olah bulu matanya terbuat dari besi, dan pulang-pulang harus ngerjain tugas demi mempertahankan statusnya sebagai mahasiswa?
Mungkin sebagian orang mikir, "apaan sih sibuk2 di kampus belajar aja ga bener"
Okay guys I got it.
Tapi tanpa mereka-mereka ini jurusanmu mungkin (lagi-lagi) ga eksis, lho.
Inget juga kalo 3+6 dan 4+5 itu sama-sama menghasilkan 9. Mereka punya caranya sendiri untuk berhasil di mata masyarakat.
Contoh lain banyak. Mungkin ribuan.
Kuncinya adalah disiplin. Apapun yang kamu mau, cobalah untuk membangun sebuah komitmen yang kecil standard error-nya. Artinya, komitmen itu ga cuman sebatas karena dipengaruhi mood ketika membuatnya.
Niscaya, kembali lagi, semua bisa dirohanikan.
Apa yang kamu tabur, itulah yang kamu tuai.
Tuhan sayang sama kita, tapi tidak selamanya setiap rejeki itu didapat seperti durian jatuh.
If you want existence, commit.
Karena aku percaya, bahkan Victoria's Secret Angel pernah menderita dulunya untuk membentuk badan seindah itu :')

Kamis, 14 Agustus 2014

Dear Uvan

Aku pernah ada di posisi yang sama.
Aku mendahuluimu lima tahun merasakan semua hal itu.
Gimana stress-nya mempertahankan angka-angka 8 di rapotmu.
Gimana rasanya harus berhadapan dengan A-Sui tiap minggu.
Gimana lelahnya sore sepulang bimbel.
Gimana menjalani dilema antara sekolah dan hal-hal lain.
Aku pernah, Van.
Dan di luar pengakuan bahwa masa SMA adalah masa yang indah,
Aku hancur.
Aku dapat nilai 14 di Kimia.
Aku harus menguras otakku sampe kering utk ngerti Fisika, Kimia, Matematika, dan ilmu yg kita sebut pasti.
Sampe aku menyerah.
Dan bisa dikatakan kalah.
Tapi aku ga peduli, bodo amat.
Namun beda halnya kalau itu terjadi sama adikku sendiri.
Follower, hater, lover, and brother of mine.
Ketika aku tahu bahwa kau kewalahan dengan hal yg sama,
Aku peduli.
Dan lebih parahnya, aku patah hati.
Ga kuat rasanya aku membayangkan kau menggeleng pasrah melihat soal-soal Try Out dan menunduk malu melihat pengumumannya.
Sementara cita-citamu adalah pada bidang itu.
Van, aku bukan dan ga akan pernah jd hug-me person.
Aku juga jarang ada untuk selalu mendukungmu di saat-saat itu.
Tp aku selalu dan akan terus berdoa buatmu.
Agar Tuhan memampukanmu dan menenangkanku.
Aku tahu bahwa kau tinggal berusaha sedikit lagi.
Dengerin omongan Mama sedikit lagi.
Coba untuk fokus sedikit lagi.
Tolong jauhkan tanganmu dari smartphone itu!
Tolong gunakan waktu yg ada karena hari-hari adalah jahat.
Dan detik-detik akan terus mengintimidasimu dengan kejam.
Jangan patah semangat, Van.
Tolong jangan.
Karena akan lebih patah lagi semangatku.
Kemanapun kau melangkah, yakinlah itu adalah porsimu.
Mengeluh bukanlah pilihan.
Kemanapun kau berjalan, yakinlah semua telah terencana.
Kami mendukungmu.
Tuhan memberkatimu.

Rabu, 13 Agustus 2014

Just beware,
Days are evil.

an angel...
Could be a cutthroat bitch, too.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Man to Man

Ketika manusia mulai nakal dan bertanya-tanya dengan pengertiannya,

"Tuhan lo kemana aja sih?"

Dia, dengan jantan akan menghadapi manusia itu,
Like man to man.
Dan kembali bertanya,

" Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian!" (Ayub 38: 4).

Yang kalo dibahasagaulkan artinya kira-kira, "Lo yang kemana aja. Gue di sini-sini aja, kali."

Stop mempertanyakan eksistensi-Nya.
Nite :))

Rabu, 09 Juli 2014

Siapa yang Sombong?

Selamat pagi saya ucapkan dari pusat ibukota yang kejam. 
Dari dekat tugu Monas dikelilingi gedung pencakar langit.
Di mana banyak orang sombong

Berikut hanya sebuah ilustrasi, selamat menikmati!

Ada seorang wanita kaya yang berjalan di sebuah pusat perbelanjaan.
Ia merupakan CEO sukses sebuah perusahaan yang bergerak di bidang finansial.
Ia membawa barang-barang belanjaannya yang begitu banyak, sampai tangannya sakit dan merah karena menahan beban belanjaan yang terlalu berat. 
Kantong-kantong belanjaan itu isinya baju-baju trendy, perhiasan gemilau, dan sepatu catchy yang dipakai untuk menunjang penampilannya sehari-hari.
Ia kemudian berjalan melewati lorong yang menjual berbagai macam peralatan kantor.
Ia ingin membeli alat tulis untuk keperluan kantornya.
Kemudian ia melewati seorang bapak tua yang merupakan cleaning service yang bertugas di area itu.
Lalu sang wanita bertanya, "Permisi, Pak. Saya mau tanya. Bapak tahu dimana toko Gramed*a?" dengan senyum centil yang merekah di bibir merahnya.
Bapak itu kemudian menoleh, menatap wanita itu dari atas ke bawah dan dengan dingin mengatakan, "Sana. Belok aja,".
Agak 'terkesima', sang wanita pun menuruti arahan sang bapak cleaning service. Sesudah berbelok ke arah yang ditunjuk, ternyata di sana tidak ada toko yang dimaksud. Wanita tersebut harus bertanya-tanya lagi ke beberapa orang dan baru sepuluh menit kemudian ia berhasil menemukan toko tersebut. Ternyata ia harus menyusuri tempat itu dan berbelok beberapa kali lagi untuk menemukan toko yang dimaksud.
Setelah selesai membeli perlengkapan yang ia perlukan, sang wanita pulang melewati tempat di mana ia bertemu dengan bapak tua tadi.
Karena merasa sedikitnya telah terbantu, sang wanita tersenyum kepada bapak tersebut sambil mengangguk sopan.
Namun bapak tua itu hanya menatapnya sekilas dan membuang muka.
Pertanyaannya, siapa yang sombong?

Tidak harus dijawab lagi, semua pasti dapat membuat kesimpulan yang benar.
Ini bukan tentang berapa banyak uangmu atau bagaimana bagus penampilanmu.
Sombong adalah sifat yang mungkin untuk dimiliki semua umat manusia, dalam keadaan apapun.
Ketika kau ada di posisi wanita itu yang harus kau lakukan adalah jangan ubah dirimu!
Tetaplah menjadi 'manusia' yang ramah dan rendah hati.
Orang yang berpikir, "Apaan ini orang kaya senyam senyum? Ga tau apa gue ini orang susah!" sesungguhnya adalah orang sombong. Ia yang paling sombong.
Karena seseorang dikatakan tidak punya apa-apa ketika ia memang tidak punya apa-apa untuk dibagikan.
Ia terlalu pelit dan egois untuk membagikan sesuatu karena memang ia tidak punya apa-apa.
Bahkan hanya seulas senyum.

Selasa, 10 Juni 2014

Sekadar Motivasi


Berperang Melawan Angka Nol

Oleh : Anita Kezia Zonebia


            Energi merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hukum kekekalan energi pun menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, hanya dapat diubah bentuknya. Tidak salah jika manusia harus menggunakan energi untuk dapat melakukan aktivitasnya sehari-hari, untuk mengubah energi menjadi sesuatu yang berguna bagi kehidupannya. Namun yang menjadi masalah adalah ketika sumber daya di bumi yang menjadi tempat berpijak ini terbatas untuk memuaskan kebutuhan manusia yang tidak terbatas. Itulah sebabnya manusia sebagai makhluk yang berakal budi dituntut untuk bisa mengalokasikan sumber daya tersebut secara efektif dan efisien, tak terkecuali energi. Bahan bakar minyak yang merupakan hasil dari pembusukan fosil makhluk purbakala jelas merupakan sumber daya alam yang akan habis karena tidak dapat diperbaharui. Data Biro Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan penurunan produksi minyak di Indonesia yang cukup signifikan dari tahun 1996 hingga 2012, yaitu sekitar 42,5%, yang kemudian semakin menimbulkan masalah kelangkaan ketika dunia memasuki era globalisasi dan bahan bakar minyak menjadi hal yang sangat krusial.

            Untuk lebih membuka cakrawala pemikiran kita, mari sejenak kita melihat pada konsep keberlanjutan. Para ekonom dan ahli lingkungan telah banyak menemukan teori dan rumus mengenai hal ini, namun sesungguhnya ketika kita dapat menjamin generasi yang akan datang mampu menikmati sumber daya yang dapat kita nikmati sekarang, maka sesimpel itulah kita dapat memahami konsep keberlanjutan. Keberlanjutan adalah sesimpel membiarkan anak cucu kita menikmati udara segar dan memastikan tetap ada kayu yang cukup untuk mereka bisa menulis di atas kertas. Bagaimana dengan bahan bakar minyak? Hal ini jelas tidak berbeda. Di era modernisasi ini produktivitas meroket, teknologi semakin canggih, dan manusia semakin mudah untuk mengaksesnya. Data menunjukkan, pada tahun 2012, jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 94,4 juta, jauh meningkat apabila dibandingkan dengan tahun 1996 yang hanya 2,4 juta. Jelas masuk akal apabila kebutuhan bahan bakar minyak semakin mengingkat, belum lagi jika kebutuhan pabrik dan rumah tangga dihitung. Angka-angka ini akan berujung kepada satu angka, yaitu 0, jika kita tidak mencari solusinya. Sangat besar kemungkinan kita untuk merampas hak generasi berikutnya dalam menggunakan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan mereka.

            Apa tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah hancurnya konsep keberlanjutan ini? Solusi demi solusi sudah banyak dibahas dalam forum ilmiah maupun nonilmiah, dalam disertasi seorang profesor maupun hanya dalam status seorang mahasiswa di jejaring sosial. Seorang novelis asal Inggris berkata, “The waste of plenty is the resource of scarcity.Efisiensi dan pengehematan energi tentu saja harus dilakukan, dimulai dengan tidak menggunakan motor hanya untuk membeli bakwan di warung yang berjarak 100 meter dari rumah. Meskipun kecil, namun jika semua orang melakukannya, kita dapat berkontribusi untuk menjamin keberlanjutan dan bersikap ramah pada lapisan ozon yang melindungi kita dari bahaya sinar ultraviolet. Namun apakah konsep efisiensi hanya dapat diinterpretasikan sesempit itu? Tidak. Sebuah mobil keluaran tahun 2000an yang memutuskan untuk mengisi bahan bakar di counter bertuliskan “Pertamax” juga berjasa dalam gerakan heroik ini. Mengapa? Karena subsidi bahan bakar merupakan insentif bagi masyarakat untuk menggunakan lebih banyak energi tanpa pertimbangan yang rasional. Masyarakat menjadi tidak peka untuk melihat bahwa energi terlalu mahal untuk dibuang-buang.

            Solusi lain yang tak kalah brilian adalah dengan mengembangkan energi terbarukan yang dapat menjadi substitusi bahan bakar minyak dan dipercaya menghasilkan lebih sedikit emisi. Di Indonesia khususnya, banyak ilmuwan cerdas yang mampu mengembangkan energi terbarukan dari kayanya sumber daya alam yang dimiliki oleh negeri tercinta ini. Lalu apa yang menjadi masalahnya? Pada hari Jumat, 23 Mei 2014, bertempat di sebuah universitas negeri di Bandung, direktur utama sebuah perusahaan minyak dan gas milik negara berujar, “Jika subsidi bahan bakar minyak tidak dihapuskan, sulit bagi negara ini untuk menyentuh ranah energi terbarukan,”. Ratusan pasang mata tertuju pada sosok itu, mengangguk, dan dalam hati membenarkannya. Pengembangan energi terbarukan  merupakan investasi yang mahal. Selain itu, diperlukan modal yang cukup besar untuk mengubah teknologi pabrik-pabrik dan kendaraan bermotor menjadi bahan bakar energi terbarukan, misalnya gas. Jika masyarakat masih terus “dimanjakan” oleh subsidi bahan bakar minyak, tidak akan pernah terbersit dalam pikirannya untuk menggunakan bahan bakar energi terbarukan yang lebih mahal. Pabrik otomotif juga tidak akan mau mengubah teknologi kendaraan yang diproduksinya menjadi teknologi energi terbarukan karena masyarakat tetap ingin memakai kendaraan berbahan bakar minyak yang lebih murah. Padahal, mau tidak mau, mengingat ketersediaan yang semakin menipis dan faktor ketidakpastian dalam memperoleh minyak mentah, kita harus segera berpindah dari zona nyaman menuju energi yang lebih menjanjikan bagi generasi kita dan generasi yang akan datang.

            Seorang ekonom asal Inggris, Thomas Malthus, pernah memprediksi sebuah penderitaan hebat yang akan dialami umat manusia karena sumber daya yang ada diramalkan tidak dapat mencukupi kebutuhan manusia. Namun kenyataannya Malthus salah karena ia tidak mempertimbangkan otak-otak brilian manusia yang menciptakan teknologi sehingga sampai sekarang justru peradaban manusia menjadi semakin maju. Melihat hal ini, seharusnya bertambahlah kepercayaan diri kita untuk mau berubah karena kita bukanlah manusia yang malas dan tidak produktif, seperti yang pernah diasumsikan oleh Malthus.

Masyarakat dan pemerintah sudah seharusnya menyingsingkan lengan baju dan bekerja sama untuk mengatasi masalah kelangkaan ini. Masyarakat bisa membantu pemerintah dengan tidak membeli bahan bakar minyak bersubsidi apabila ia mampu membeli yang tidak bersubsidi. Masyarakat juga bisa memberlakukan pola hidup sehat dengan bersepeda ke kantor atau berjalan kaki ke sekolah. Pemerintah boleh menghapuskan subsidi bakar minyak yang kemudian akan dialihkan pada investasi bahan bakar energi terbarukan, seperti di Malaysia dan Thailand yang sudah mewajibkan teknologi bahan bakar gas untuk semua taxinya. Memang, pada awalnya pencabutan subsidi akan menyebabkan inflasi, namun dana yang tadinya digunakan untuk subsidi bisa dipakai untuk membangun sarana dan fasilitas umum yang lebih baik, misalnya berobat gratis. Pemerintah harus transparan dan mampu menjamin bahwa masyarakat tahu kemana uangnya akan mengalir dan apa yang sedang diperjuangkan bersama-sam. Sektor riil juga bisa berkontribusi dengan mengganti teknologi pabrik berbahan bakar minyak dengan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.  

Seorang artis asal Amerika, Sharon Stone, pernah berkata “I think we have to be not so afraid of scarcity. We have to be willing to give away all things.Ya, kita tidak perlu takut membayangkan tidak akan ada lagi cukup energi yang digunakan oleh kita atau anak cucu kita di masa yang akan datang. Kita hanya boleh takut jika hanya duduk diam dan tidak berbuat apapun untuk memperbaikinya. Data boleh mengatakan bahwa dalam dua belas tahun lagi produksi minyak di Indonesia akan habis, tetapi kita masih bisa mengusahakan banyak hal untuk menjamin bahwa tidak akan ada angka nol. Tidak akan ada kata “berhenti” bagi mereka yang kemudian akan menyusul kita menggunakan energi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.



Senin, 09 Juni 2014

Lihatlah Bajunya!

Hari ini genap sebulan lagi Indonesia memilih. Udah ga zaman rasanya jawaban semacam "Ga tau liat nanti," atau "Siapa aja deh terserah," ketika ada yang bertanya, "Kamu pilih nomor satu atau dua?"
Belakangan ini media massa berpesta kampanye. Siapapun kamu dan siapapun pilihanmu bebas untuk dipublikasikan selama masih ada UU No. 9/1998.
Orang-orang ini bersuara karena mereka sudah yakin pada pilihannya dan itu bagus.
Menentukan pemimpin yang ideal adalah pekerjaan yang susah-susah gampang.
Kalo punya banyak waktu sih silakan saja screening CV masing-masing calon. Lihat track record-nya dan derajat kontribusinya selama ini dalam menjalankan amanah memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia #merdeka!
Tapi ada ga orang yang bahkan ga tahu mereka dari partai mana? Ada saja.
Untuk orang-orang yang seperti itu, entar karena mereka malas atau karena ga mau tahu sama sekali, saya mau bilang : Tentukan pilihanmu!
Hal yang paling simpel yang bisa dilakukan adalah lihat dari sudut pandang disiplin ilmumu.
Jujur saja, sampai hari ini, tanggal 9 Juni 2014 jam 17.30 tadi saya masih bingung mau memilih siapa.
Rasanya semua kata-kata provokatif yang ada di media sosial itu mampu menghipnotis saya untuk....tidak memilih siapa-siapa. Karena saya bertambah bingung -_-
Sampai tiba-tiba dosen saya mengunduh poster di bawah ini dalam akun Facebook-nya:
Sebagai seorang mahasiswa sejati, saya pun mempunyai beban untuk melihat sekilas poster yang diunduh oleh dosen saya. Dan ternyata menarik.
Topik subsidi BBM merupakan topik yang ga habis-habisnya dibahas oleh seluruh lini masyarakat Indonesia, termasuk saya, yang memang tertarik pada bidang ekonomi lingkungan. 
Saya coba untuk menganalisisnya.
Kalo dilihat dari baris pertama, memang kedua calon ga mau berkomentar apa-apa ketika ditanya, yah mungkin ingin menghindari pertanyaan skeptis yang bertubi-tubi dari golongan masyarakat "penuntut" (if you know what I mean).
Namun seperti pepatah "Diam berarti emas", sebenarnya kedua calon ini sudah mempersiapkan strategi emasnya dalam versinya masing-masing. 
Tetapi bagi saya hanya satu dari dua strategi tersebut yang layak disebut emas.
Mulai dari pasangan yang kanan dulu.
Pasangan ini menekankan pada investasi energi terbarukan agar ketergantungan masyarakat terhadap BBM yang semakin langka dan mahal bisa ditekan. Which is good....and costly at first.
Bayangkan jika tiap mobil di Indonesia harus mempunyai konverter kit seharga Rp7.000.000,00 tiap unitnya. Sekilas kebijakan ini terlihat merugikan. Namun ternyata ada insentif dan disinsentif yang mengarahkan pilihan masyarakat kepada peralihan energi gas tanpa memaksakannya. 
Penghapusan subsidi secara berkala juga rasanya akan tepat karena wake up, people, minyak kita udah mau habis dan semakin hari harganya semakin mahal. Subsidi hanya akan menjadikan masyarakat semakin suka untuk menghabiskannya.
Mau tidak mau kita harus belajar untuk "move on" dari BBM, seberapa mahal dan susahnya pun itu untuk menjamin keberlanjutan penggunaan energi. Lihat saja Malaysia yang sudah mewajibkan seluruh taxi berbahan bakar gas. Sulitkah itu? Sebenarnya tidak. Toh ada Rp280 trilyun, bukan? ;)
Energi terbarukan yang minim emisinya juga pada akhrinya menguntungkan masyarakat dari sudut pandang kesehatan.
Kebijakan efisiensi dan pengehamatan juga sepertinya baik. Well done, siapapun ekonom di balik kebijakan si nomor 2 ini.
Coba lihat strategi sisi kiri yang terlihat begitu heroik akan menghapus subsidi BBM bagi orang kaya.
Wow.
Pertanyaannya adalah, apa definisi orang kaya yang sebenarnya? Manusia itu tidak pernah puas dan kekayaan itu relatif bagi setiap unit individu yang ada. 
Kalaupun kemudian ada batasan-batasan yang dibuat guna mengidentifikasikan orang kaya itu yang seperti apa, tetap ada yang namanya asymmetric information.  Kita tidak akan benar-benar bisa memisahkan antara orang kaya dan miskin secara akurat.
Lalu manfaat apa yang bisa dirasakan oleh orang kaya? Bukankah mereka juga berkontribusi dalam devisa negara?
Mendaftarkan mobil mana yang termasuk mobil orang kaya juga rasanya tidak tepat.
Siapa menyangka saudagar kaya yang hartanya ga akan habis tujuh generasi hanya memilih mobil Carry sederhana menjadi teman seperjalanannya?
Tidak menjual premium pada hari libur? Rakyat Indonesia pintar, Pak. Sebagian besar akan mengisi minyak sebanyak mungkin di malam sebelum hari libur dan kebijakan ini menjadi tidak efektif.
Insentif yang diberikan kepada perusahaan listrik saya rasa agak berlebihan mengingat perusahaan listrik dewasa ini memang sudah banyak berenergi gas dan fakta bahwa perusahaan listrik itu milik negara, untuk apa memberikannya insentif ketika bisa mengontrolnya? 
Sangat disayangkan, kebijakan energi pasangan ini masih menyisakan banyak pertanyaan bagi saya.
Dan selama masih belum ada jawabannya, 
I'm standing on the right side.


Yaps, jadi sesimpel itulah saya menentukan RI 1 buat saya sampai sejauh ini.
Mengandalkan apa yang pernah saya pelajari dan apa yang saya minati.
Kembali lagi, berusahalah untuk tidak golput.
Kalau kamu adalah seorang mahasiswa desain grafis yang memutuskan untuk mentok di golput, tunggu dulu.
Coba lihat baju yang dikenakan para calon.
Pilihlah yang paling fashionable!
Well, setidaknya pemimpin itu harus senantiasa rapi dan enak dilihat kan?
Setidaknya kamu punya alasan untuk memilih.
Dan apabila ada ratusan juta jiwa yang seperti itu, menilai para calon berdasarkan disiplin ilmu masing-masing, maka  kita sedang berada pada jalur yang tepat menentukan pemimpin yang cerdas dan handal dalam multidisiplin ilmu, pemimpin yang ideal bagi bangsa.

So, let's go on road to RI 1!



They are written, but may be unsaid.