Selasa, 10 Juni 2014

Sekadar Motivasi


Berperang Melawan Angka Nol

Oleh : Anita Kezia Zonebia


            Energi merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hukum kekekalan energi pun menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, hanya dapat diubah bentuknya. Tidak salah jika manusia harus menggunakan energi untuk dapat melakukan aktivitasnya sehari-hari, untuk mengubah energi menjadi sesuatu yang berguna bagi kehidupannya. Namun yang menjadi masalah adalah ketika sumber daya di bumi yang menjadi tempat berpijak ini terbatas untuk memuaskan kebutuhan manusia yang tidak terbatas. Itulah sebabnya manusia sebagai makhluk yang berakal budi dituntut untuk bisa mengalokasikan sumber daya tersebut secara efektif dan efisien, tak terkecuali energi. Bahan bakar minyak yang merupakan hasil dari pembusukan fosil makhluk purbakala jelas merupakan sumber daya alam yang akan habis karena tidak dapat diperbaharui. Data Biro Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan penurunan produksi minyak di Indonesia yang cukup signifikan dari tahun 1996 hingga 2012, yaitu sekitar 42,5%, yang kemudian semakin menimbulkan masalah kelangkaan ketika dunia memasuki era globalisasi dan bahan bakar minyak menjadi hal yang sangat krusial.

            Untuk lebih membuka cakrawala pemikiran kita, mari sejenak kita melihat pada konsep keberlanjutan. Para ekonom dan ahli lingkungan telah banyak menemukan teori dan rumus mengenai hal ini, namun sesungguhnya ketika kita dapat menjamin generasi yang akan datang mampu menikmati sumber daya yang dapat kita nikmati sekarang, maka sesimpel itulah kita dapat memahami konsep keberlanjutan. Keberlanjutan adalah sesimpel membiarkan anak cucu kita menikmati udara segar dan memastikan tetap ada kayu yang cukup untuk mereka bisa menulis di atas kertas. Bagaimana dengan bahan bakar minyak? Hal ini jelas tidak berbeda. Di era modernisasi ini produktivitas meroket, teknologi semakin canggih, dan manusia semakin mudah untuk mengaksesnya. Data menunjukkan, pada tahun 2012, jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 94,4 juta, jauh meningkat apabila dibandingkan dengan tahun 1996 yang hanya 2,4 juta. Jelas masuk akal apabila kebutuhan bahan bakar minyak semakin mengingkat, belum lagi jika kebutuhan pabrik dan rumah tangga dihitung. Angka-angka ini akan berujung kepada satu angka, yaitu 0, jika kita tidak mencari solusinya. Sangat besar kemungkinan kita untuk merampas hak generasi berikutnya dalam menggunakan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan mereka.

            Apa tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah hancurnya konsep keberlanjutan ini? Solusi demi solusi sudah banyak dibahas dalam forum ilmiah maupun nonilmiah, dalam disertasi seorang profesor maupun hanya dalam status seorang mahasiswa di jejaring sosial. Seorang novelis asal Inggris berkata, “The waste of plenty is the resource of scarcity.Efisiensi dan pengehematan energi tentu saja harus dilakukan, dimulai dengan tidak menggunakan motor hanya untuk membeli bakwan di warung yang berjarak 100 meter dari rumah. Meskipun kecil, namun jika semua orang melakukannya, kita dapat berkontribusi untuk menjamin keberlanjutan dan bersikap ramah pada lapisan ozon yang melindungi kita dari bahaya sinar ultraviolet. Namun apakah konsep efisiensi hanya dapat diinterpretasikan sesempit itu? Tidak. Sebuah mobil keluaran tahun 2000an yang memutuskan untuk mengisi bahan bakar di counter bertuliskan “Pertamax” juga berjasa dalam gerakan heroik ini. Mengapa? Karena subsidi bahan bakar merupakan insentif bagi masyarakat untuk menggunakan lebih banyak energi tanpa pertimbangan yang rasional. Masyarakat menjadi tidak peka untuk melihat bahwa energi terlalu mahal untuk dibuang-buang.

            Solusi lain yang tak kalah brilian adalah dengan mengembangkan energi terbarukan yang dapat menjadi substitusi bahan bakar minyak dan dipercaya menghasilkan lebih sedikit emisi. Di Indonesia khususnya, banyak ilmuwan cerdas yang mampu mengembangkan energi terbarukan dari kayanya sumber daya alam yang dimiliki oleh negeri tercinta ini. Lalu apa yang menjadi masalahnya? Pada hari Jumat, 23 Mei 2014, bertempat di sebuah universitas negeri di Bandung, direktur utama sebuah perusahaan minyak dan gas milik negara berujar, “Jika subsidi bahan bakar minyak tidak dihapuskan, sulit bagi negara ini untuk menyentuh ranah energi terbarukan,”. Ratusan pasang mata tertuju pada sosok itu, mengangguk, dan dalam hati membenarkannya. Pengembangan energi terbarukan  merupakan investasi yang mahal. Selain itu, diperlukan modal yang cukup besar untuk mengubah teknologi pabrik-pabrik dan kendaraan bermotor menjadi bahan bakar energi terbarukan, misalnya gas. Jika masyarakat masih terus “dimanjakan” oleh subsidi bahan bakar minyak, tidak akan pernah terbersit dalam pikirannya untuk menggunakan bahan bakar energi terbarukan yang lebih mahal. Pabrik otomotif juga tidak akan mau mengubah teknologi kendaraan yang diproduksinya menjadi teknologi energi terbarukan karena masyarakat tetap ingin memakai kendaraan berbahan bakar minyak yang lebih murah. Padahal, mau tidak mau, mengingat ketersediaan yang semakin menipis dan faktor ketidakpastian dalam memperoleh minyak mentah, kita harus segera berpindah dari zona nyaman menuju energi yang lebih menjanjikan bagi generasi kita dan generasi yang akan datang.

            Seorang ekonom asal Inggris, Thomas Malthus, pernah memprediksi sebuah penderitaan hebat yang akan dialami umat manusia karena sumber daya yang ada diramalkan tidak dapat mencukupi kebutuhan manusia. Namun kenyataannya Malthus salah karena ia tidak mempertimbangkan otak-otak brilian manusia yang menciptakan teknologi sehingga sampai sekarang justru peradaban manusia menjadi semakin maju. Melihat hal ini, seharusnya bertambahlah kepercayaan diri kita untuk mau berubah karena kita bukanlah manusia yang malas dan tidak produktif, seperti yang pernah diasumsikan oleh Malthus.

Masyarakat dan pemerintah sudah seharusnya menyingsingkan lengan baju dan bekerja sama untuk mengatasi masalah kelangkaan ini. Masyarakat bisa membantu pemerintah dengan tidak membeli bahan bakar minyak bersubsidi apabila ia mampu membeli yang tidak bersubsidi. Masyarakat juga bisa memberlakukan pola hidup sehat dengan bersepeda ke kantor atau berjalan kaki ke sekolah. Pemerintah boleh menghapuskan subsidi bakar minyak yang kemudian akan dialihkan pada investasi bahan bakar energi terbarukan, seperti di Malaysia dan Thailand yang sudah mewajibkan teknologi bahan bakar gas untuk semua taxinya. Memang, pada awalnya pencabutan subsidi akan menyebabkan inflasi, namun dana yang tadinya digunakan untuk subsidi bisa dipakai untuk membangun sarana dan fasilitas umum yang lebih baik, misalnya berobat gratis. Pemerintah harus transparan dan mampu menjamin bahwa masyarakat tahu kemana uangnya akan mengalir dan apa yang sedang diperjuangkan bersama-sam. Sektor riil juga bisa berkontribusi dengan mengganti teknologi pabrik berbahan bakar minyak dengan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.  

Seorang artis asal Amerika, Sharon Stone, pernah berkata “I think we have to be not so afraid of scarcity. We have to be willing to give away all things.Ya, kita tidak perlu takut membayangkan tidak akan ada lagi cukup energi yang digunakan oleh kita atau anak cucu kita di masa yang akan datang. Kita hanya boleh takut jika hanya duduk diam dan tidak berbuat apapun untuk memperbaikinya. Data boleh mengatakan bahwa dalam dua belas tahun lagi produksi minyak di Indonesia akan habis, tetapi kita masih bisa mengusahakan banyak hal untuk menjamin bahwa tidak akan ada angka nol. Tidak akan ada kata “berhenti” bagi mereka yang kemudian akan menyusul kita menggunakan energi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.



Senin, 09 Juni 2014

Lihatlah Bajunya!

Hari ini genap sebulan lagi Indonesia memilih. Udah ga zaman rasanya jawaban semacam "Ga tau liat nanti," atau "Siapa aja deh terserah," ketika ada yang bertanya, "Kamu pilih nomor satu atau dua?"
Belakangan ini media massa berpesta kampanye. Siapapun kamu dan siapapun pilihanmu bebas untuk dipublikasikan selama masih ada UU No. 9/1998.
Orang-orang ini bersuara karena mereka sudah yakin pada pilihannya dan itu bagus.
Menentukan pemimpin yang ideal adalah pekerjaan yang susah-susah gampang.
Kalo punya banyak waktu sih silakan saja screening CV masing-masing calon. Lihat track record-nya dan derajat kontribusinya selama ini dalam menjalankan amanah memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia #merdeka!
Tapi ada ga orang yang bahkan ga tahu mereka dari partai mana? Ada saja.
Untuk orang-orang yang seperti itu, entar karena mereka malas atau karena ga mau tahu sama sekali, saya mau bilang : Tentukan pilihanmu!
Hal yang paling simpel yang bisa dilakukan adalah lihat dari sudut pandang disiplin ilmumu.
Jujur saja, sampai hari ini, tanggal 9 Juni 2014 jam 17.30 tadi saya masih bingung mau memilih siapa.
Rasanya semua kata-kata provokatif yang ada di media sosial itu mampu menghipnotis saya untuk....tidak memilih siapa-siapa. Karena saya bertambah bingung -_-
Sampai tiba-tiba dosen saya mengunduh poster di bawah ini dalam akun Facebook-nya:
Sebagai seorang mahasiswa sejati, saya pun mempunyai beban untuk melihat sekilas poster yang diunduh oleh dosen saya. Dan ternyata menarik.
Topik subsidi BBM merupakan topik yang ga habis-habisnya dibahas oleh seluruh lini masyarakat Indonesia, termasuk saya, yang memang tertarik pada bidang ekonomi lingkungan. 
Saya coba untuk menganalisisnya.
Kalo dilihat dari baris pertama, memang kedua calon ga mau berkomentar apa-apa ketika ditanya, yah mungkin ingin menghindari pertanyaan skeptis yang bertubi-tubi dari golongan masyarakat "penuntut" (if you know what I mean).
Namun seperti pepatah "Diam berarti emas", sebenarnya kedua calon ini sudah mempersiapkan strategi emasnya dalam versinya masing-masing. 
Tetapi bagi saya hanya satu dari dua strategi tersebut yang layak disebut emas.
Mulai dari pasangan yang kanan dulu.
Pasangan ini menekankan pada investasi energi terbarukan agar ketergantungan masyarakat terhadap BBM yang semakin langka dan mahal bisa ditekan. Which is good....and costly at first.
Bayangkan jika tiap mobil di Indonesia harus mempunyai konverter kit seharga Rp7.000.000,00 tiap unitnya. Sekilas kebijakan ini terlihat merugikan. Namun ternyata ada insentif dan disinsentif yang mengarahkan pilihan masyarakat kepada peralihan energi gas tanpa memaksakannya. 
Penghapusan subsidi secara berkala juga rasanya akan tepat karena wake up, people, minyak kita udah mau habis dan semakin hari harganya semakin mahal. Subsidi hanya akan menjadikan masyarakat semakin suka untuk menghabiskannya.
Mau tidak mau kita harus belajar untuk "move on" dari BBM, seberapa mahal dan susahnya pun itu untuk menjamin keberlanjutan penggunaan energi. Lihat saja Malaysia yang sudah mewajibkan seluruh taxi berbahan bakar gas. Sulitkah itu? Sebenarnya tidak. Toh ada Rp280 trilyun, bukan? ;)
Energi terbarukan yang minim emisinya juga pada akhrinya menguntungkan masyarakat dari sudut pandang kesehatan.
Kebijakan efisiensi dan pengehamatan juga sepertinya baik. Well done, siapapun ekonom di balik kebijakan si nomor 2 ini.
Coba lihat strategi sisi kiri yang terlihat begitu heroik akan menghapus subsidi BBM bagi orang kaya.
Wow.
Pertanyaannya adalah, apa definisi orang kaya yang sebenarnya? Manusia itu tidak pernah puas dan kekayaan itu relatif bagi setiap unit individu yang ada. 
Kalaupun kemudian ada batasan-batasan yang dibuat guna mengidentifikasikan orang kaya itu yang seperti apa, tetap ada yang namanya asymmetric information.  Kita tidak akan benar-benar bisa memisahkan antara orang kaya dan miskin secara akurat.
Lalu manfaat apa yang bisa dirasakan oleh orang kaya? Bukankah mereka juga berkontribusi dalam devisa negara?
Mendaftarkan mobil mana yang termasuk mobil orang kaya juga rasanya tidak tepat.
Siapa menyangka saudagar kaya yang hartanya ga akan habis tujuh generasi hanya memilih mobil Carry sederhana menjadi teman seperjalanannya?
Tidak menjual premium pada hari libur? Rakyat Indonesia pintar, Pak. Sebagian besar akan mengisi minyak sebanyak mungkin di malam sebelum hari libur dan kebijakan ini menjadi tidak efektif.
Insentif yang diberikan kepada perusahaan listrik saya rasa agak berlebihan mengingat perusahaan listrik dewasa ini memang sudah banyak berenergi gas dan fakta bahwa perusahaan listrik itu milik negara, untuk apa memberikannya insentif ketika bisa mengontrolnya? 
Sangat disayangkan, kebijakan energi pasangan ini masih menyisakan banyak pertanyaan bagi saya.
Dan selama masih belum ada jawabannya, 
I'm standing on the right side.


Yaps, jadi sesimpel itulah saya menentukan RI 1 buat saya sampai sejauh ini.
Mengandalkan apa yang pernah saya pelajari dan apa yang saya minati.
Kembali lagi, berusahalah untuk tidak golput.
Kalau kamu adalah seorang mahasiswa desain grafis yang memutuskan untuk mentok di golput, tunggu dulu.
Coba lihat baju yang dikenakan para calon.
Pilihlah yang paling fashionable!
Well, setidaknya pemimpin itu harus senantiasa rapi dan enak dilihat kan?
Setidaknya kamu punya alasan untuk memilih.
Dan apabila ada ratusan juta jiwa yang seperti itu, menilai para calon berdasarkan disiplin ilmu masing-masing, maka  kita sedang berada pada jalur yang tepat menentukan pemimpin yang cerdas dan handal dalam multidisiplin ilmu, pemimpin yang ideal bagi bangsa.

So, let's go on road to RI 1!



Senin, 02 Juni 2014

Teaching

The best part of being a teacher is,

There's always an appreciation, no matter what.

They are written, but may be unsaid.