Ketemu ini di D: di folder "blog" yang udah lama ga kebuka.
Semoga memberkati (buat yang kebetulan lewat) :)
STILL
Manusia itu terbatas. Ia tidak cukup tinggi untuk meraih
bintang. Matanya tidak dapat melihat dasar laut. Tangannya tidak cukup untuk
memeluk dunia. Kakinya tidak cukup cepat untuk berlari mengalahkan cahaya.
Masih merasa lebih? Manusia itu terbatas. Ia tidak cukup tinggi untuk
menjangkau layangannya yang nyangkut di pohon. Matanya seringkali tidak berfungsi
tanpa kacamata. Jangankan memeluk dunia, tangannya tidak mampu memeluk
tiruannya. Kakinya tidak cukup cepat untuk berlari ketika hujan mulai turun dan
membasahi jemurannya.
Manusia itu terbatas. Masalah dunia akan selalu datang
dengan berbagai “kekuatannya”, “kehebatannya”, “kemahadahsyatannya”. Hukum
Fisika berbicara. Sesuatu yang besar akan cenderung menginterfensi yang kecil. But the problem is (problem buat si
masalah), kehidupan kita tidak berdasar atas hukum fisika, kimia, matematika,
social, politik, ekonomi, hukum, budaya, komunikasi, kedokteran, farmasi,
pertanian (kok jadi nama-nama jurusan?). Kidding.
Well, kehidupan kita berdasar pada :
Dia
Manusia itu terbatas dan masalah dunia enggan berhenti meneror
kita. Tapi, haruskah kita gentar?
Beberapa minggu ini aku terinspirasi dengan salah satu lagu
Hillsong United. Dan mungkin bagiku, lagu
ini menjadi jawabannya.
“… when the
oceans rise and thunders roar
i will soar with You above the
storm
Father You are king over the flood
i will be still and know you are God…”
Dia yang menutupi keterbatasan manusia. Membuat segala yang
terbatas menjadi tidak terbatas. Membuat segala yang kurang menjadi cukup.
Membuat segala yang tidak terjangkau menjadi terjangkau. Membuat segala yang
kecil menjadi besar. Membuat segala yang “too” menjadi “done”. Membuat segala
yang ribet menjadi ringkas. Membuat yang “Gila lo?” menjadi “Gila lo!”. And finally, membuat semua yang tidak
percaya menjadi mau-tidak-mau-dan-harus-mau percaya :)