Senin, 29 Juli 2013

Kalah :)


Dengan ini aku letakkan tongkat estafetku,
Aku berhenti.
Tiada ada gunanya lagi berjuang dan berkeringat.
Kelelahan sudah merampas napasku.
Maafkan sepak terjang yang pernah meresahkan.
Tapi tersenyumlah sekarang, karena semuanya sia-sia.
Karena pada akhirnya kedua bola mata itu masih menginginkanmu :)
Teruntuk kamu yang melukis binar di matanya,
Aku berlutut kalah.
Aku bukan orangnya.



Jumat, 26 Juli 2013


hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah...
- Chairil Anwar

Senin, 15 Juli 2013

My Heaven on Earth

Dear my heaven on earth,
Percayakah kau kalo kita tak lain adalah dua insan yang sama-sama 'dipersiapkan' untuk saling mengucapkan "You are my heaven on earth"?
Heaven. Surga.
Ketika saatnya tiba, aku akan mengakuimu sebagai surgaku, begitu pula denganmu.
Surga di bumi bagaikan air di padang gurun.
Kau, akan menjadi kenikmatanku. Dan aku, dengan segala hiasanku, akan menjadi kenikmatanmu, pelepas dahagamu. Puncak segala keindahanmu.
Madu akan kalah manis, kapas akan kalah lembut.
Tapi apakah kau tau, surgaku?
Janganlah kita sembarang mengucap surga, karena bagiku kau bahkan lebih dari itu.
Surga bagiku lebih dari manisnya kecupan dan halusnya belaian.
Surga bagiku adalah surga.
Dengan segala kemuliaannya dan kesuciannya.
Surga tidak fana, sayang.
Surga bukan fatamorgana di padang gurun. Karena seperti yang kukatakan, surga adalah air yang tidak hanya mampu melepas dahaga tubuhmu. Air akan mengobati kekeringan dan menyirami kehidupan.
Surga adalah tujuan. Dan sama seperti surga, aku ingin kita adalah tujuan akhir bagi kita.
Surga adalah tempat yang terang, yang luput dari tipu daya. Dan sama seperti surga, aku ingin kita saling menerangi sampai kegelapan tak sampai hati menghampiri.
Surga adalah tempat tinggal Sang Penyebab Utama.
Dan sama seperti surga, aku ingin kita ini selayak itu untuk tinggal bersama-Nya.
Aku tidak tahu sampai kapan aku harus melihat fatamorgana sebelum aku akhirnya berjumpa dengan air.
Tapi aku yakin, surga akan worth-it.
So, dear my heaven on earth,
let's find each other! :)

Minggu, 07 Juli 2013

Don't Judge.


Peggy namanya. Awal aku benar-benar mengerti kesungguhan kalimat “don’t judge”. Teh Peggy dulunya asisten dosen yang ngajarin praktikum Pengantar Ilmu Ekonomi Makro. Dengan perawakan tinggi-pake-banget, pertama kali masuk make outfit item-item dan muka sedingin es yang diriasi smokey eyes tebal udah sanggup bikin kita menarik kesimpulan teteh yang satu ini akan berlaku strict sama kita sekelas. Singkat cerita, satu semester bersamanya harus berakhir dan di akhir semester itu pula Teh Peggy dapat beasiswa master ke Prancis. Praktikum terakhir Teh Peggy neraktir kita satu kelas di WS (if u know what I mean), awal dari semua pelajaran ini.
Kalimat-kalimat terakhir yang aku inget dari dia adalah,

“Cewe harus bisa jaga diri,”

“Kalo lo udah bilang ya, itu berarti ya. Semua omongan harus bisa dipertanggungjawabkan. That’s why I have this (sambil menunjukkan cincin platinum yang bertengger di jari manisnya),”

“Jadi cewe harus punya modal,”

“Karena pelacur saja harus makan. Dan dia hanya punya tubuh sebagai modalnya. Don’t judge.”

Aku garis bawahi kata-kata yang terakhir, ya. Don’t judge. Karena itulah awal dari semua pembelajaran ini.

Awalnya aku berpikir, kenapa sih kita dilarang nge-judge orang? Apa yang salah dengan sebuah penilaian instan?  Ya salah sendiri orang itu menciptakan citra yang bisa bikin dia dinilai jelek sama masyarakat. Masa kita dilarang berkomentar? Masa kita harus tutup semua panca indera supaya ga bisa at least dalam pikiran sendiri nge-judge mereka? Hm.

Tapi kemudian aku memutuskan untuk mengubah pandangan itu.
Hal yang kemudian didukung oleh berbagai pelajaran penting.

Pelajaran pertama dari seorang pembuat tato di Pangandaran. Tampangnya sangar, dengan otot besar dan badan kekar dibalut setelan hitam-hitam bergambar tengkorak. Suaranya sedikit parau, khas seorang perokok. Aku dan temanku pergi ke sana untuk membuat tato temporer, sesuatu yang ga afdol kalo ga dibikin pas liburan ke pantai. Setelah terjadi penawaran dan ketemu yang namanya harga ekuilibrium, Bang Tato mulai melukis tato bunga-bunga andalannya di tangan kami. Berawal dari a lil' thing called basa-basi, pembicaraan pun merembet kemana-mana.

“Kalo mau bikin tato jangan yang gambarnya monoton, entar cepat bosen…”

“Abang bikin tato udah lama, berawal dari hobi. Keluarga Abang broken home, Bapak pergi ninggalin Ibu. Ketika pertama kali kenal seni tato, Abang langsung tertarik dan berusaha untuk belajar sama kawan yang pernah sekolah seni. Gitu udah bisa dan mau balik ke rumah, yang nerima Abang cuman Ibu. Kakak malu sama Abang karena badan Abang udah penuh tato sekarang. Ibu mendukung Abang, dan itu yang selalu membuat Abang senang untuk sesekali pulang ke rumah. Ibu jualan di pasar dan ga pernah mau nerima duit sepeser pun dari Abang. Ibu bilang, simpan saja untuk modal menikah Abang,”

“Terkadang masyarakat menilai terlalu jauh. Seperti halnya batik, tato hanyalah bagian dari budaya…”
Kemudian dia menambahkan satu gambar kupu-kupu mungil sebagai bonus, sembari menyingsingkan lengan baju yang menutupi tato Bunda Maria-nya.

Pelajaran kedua datang dari teman satu kosanku. Di sebelah kamarku sendiri.
Dari awal pertama datang dia udah bikin kegaduhan. Kedatangan pertamanya disambut dengan lolongan Bonzo, anjing kosan yang amat-sangat mengganggu tidur siangku. Ga cuman berakhir di situ, besoknya dia langsung mengundang temen-temennya makan di kosan, ketawa-ketawa, nge-gossip tentang cowo ganteng, teriak-teriak ga jelas yang ributnya ampun luar biasa. Lagi-lagi, selalu berhasil menjadi ‘alarm’ tidur siangku.
Suatu saat aku lewat kamarnya, tiba-tiba tercium bau asap rokok yang kuat. Dan ketika aku menoleh…eng ing eeeeng! She’s smoking OMG! :O Wow wow wow sempat terpikir dalam benak untuk mengadukannya ke ibu kosan hahaha. Tapi demi rasa dan tanggung jawab sosial, kuurungkan niatku. Walaupun asapnya…uhuk, semakin membuat ketidaknyamanan bersama. Yang terbersit dalam benak? Tentu saja, cewe merokok = bukan cewe baik-baik. Terlebih lagi, belum ada dialog yang begitu penting antara aku dan dia.

Setelah dia, muncul lagi anak kosan baru, hijabers cantik bermuka malaikat. Rajin mencuci dan membersihkan kamar. Sama, dengan dia pun aku belum menjalin percakapan apapun, until

“Lagi nyuci juga?” tanyaku, mencoba membuka topik. Walaupun sebenernya ga penting, karena orang yang lagi meres-meres pakaian di ember udah pasti lagi nyuci -_-

“Hm…” katanya, tanpa menoleh sedikitpun. Se-di-kit-pun.

Well, mungkin dia punya krisis kepercayaan diri, hiburku dalam hati. Aku masih berharap bisa berteman baik dengan dia karena nampaknya, dia tipikal orang yang ramah dan baik banget ke orang lain. From that face, okey.
TAPI, semua berubah ketika aku papasan sama dia di jalan, dimana aku udah pasang senyum termanis, tapi dia cuma ngeliatin, mungkin melototin aku dan lewat gitu aja. Shit men!
Semua kecurigaanku akhirnya terjawab ketika temanku, di samping kamarnya sendiri, sudah sering menjadi korban pengacanggorengan yang dilakukannya.

Beberapa hari kemudian,
Ketika kering kerontang (re : Aqua habis) menyerangku dan aku lagi ga punya duit sama sekali, aku memutuskan untuk minta aqua sama smoking girl di samping kamarku ini.

“Kak, bisa minta Aqua ga? Aqua-ku habis nih hehehe,” kemudian nyengir.

“Wah, aku juga habis nih kebetulan. Ini mau ke indoma…(sensor-ga-ngefek), aku beliin aja ya sekalian,”

“Oh boleh kak, nanti aku ganti ya kak uangnya,”

“Oke.”

Setibanya dari indoma…,

“Kak, berapaan tadi Aqua-nya?” (padahal lagi ga megang duit sama sekali dan udah siap-siapin jawaban “Aduh! Kak! Lupaaaa! Lupa ambil duit! Kaaaaak gimana iniiiiii??!”)

“Ah, gausahlah, cuma 2000an kok.”

“Hah? Serius kak?”

“Iya, nyantai.”

“Makasih kak…”

Ternyata, ke-benalu-anku tidak hanya sampai di situ. Besoknya, dengan begonya aku nge-laundry semua seprei yang aku punya dan selesainya baru tiga hari kemudian. Alhasil, begitu laundry diserahterimakan, aku cuman bisa gigit jari karena ga punya seprei untuk tidur malam hari.
Dengan penuh keberanian, aku mengetuk kamar sebelahku.

“Kak…Nggg…Ada seprei ga? Sepreiku lagi abis kak,”

“Ada sih, kebetulan ini mau ganti seprei juga.”

“Wah, kalo ga kain bali juga gppa kak! Hehehe.”

“Oh, ada kain bali. Hm, tapi pake dulu nih seprei aku. Aku pake yang lama dulu aja gppa kok.”
….

Perlu ga sih aku simpulkan lagi apa yang aku bisa ambil dari cerita-cerita di atas?
Aku rasa engga.
Pada akhirnya di sinilah aku, ngetik dengan nyaman di atas seprei biru halus yang dipinjamkan oleh seorang cewe yang pernah ter-judge buruk.
Dan di sinilah aku, memandang nanar ke arah kamar cewe sombong bermuka malaikat yang pernah ter-judge baik.

Dear society,
Percayalah, kamu, kita, tidak dilarang untuk menghakimi. Tetapi segera pastikan semua penilaianmu benar ketika kata-kata itu meluncur dari mulutmu dan ketika pikiran-pikiran itu terngiang di kepalamu.
Pastikan ucapanmu tidak memakan.
Kenali apa itu dan siapa dia.
Baru berilah penilaian sejujur-jujurnya, karena memang dia pantas mendapatkannya.
Tapi ketika bahkan kau belum tahu siapa namanya, don’t judge.
Just…don’t.
Karena pada akhirnya, kamu bisa saja meleset.
Karena pada akhirnya, seorang Teh Peggy pun hanyalah wanita yang ramah, terbuka, dan hangat. Single parent yang sangat baik.




Rabu, 03 Juli 2013

L.O.V.E

Hai, Cinta.
Sudah lama rasanya aku ga ketemu kamu.
Sudah bertahun-tahun rasanya aku ga nampak batang hidungmu.
Sudah lama kamu ga main ke sini.
Ke mana saja kamu?
Aku lebih sering ketemu sama temen kamu yang lain, si Suka, si Kagum, si Naksir, dan beberapa temen kamu yang aku ga tahu namanya.
Temen-temen kamu unik juga, ya?
Ada yang bikin geregetan, ada yang bikin malu-malu,  ada yang bikin gemes, ada yang bikin cemburu, bahkan ada yang bikin ngeres. Hahaha.
Kamu tahu ga?
Temen-temen kamu sering banget main ke sini. Kadang mereka tinggal satu hari di sini, terus pergi. Ada juga yang tinggal berminggu, sampai berbulan, baru pergi. Terus begitu, mereka bergantian.
Seneng sih, main-main sama mereka. Kalo sekali seneng ya seneng banget. Tapi sekali galau, galau banget juga! Seru. Kayak permen nano-nano, rasanya rame.
Tapi tahu ga?
Cinta
Aku rindu kamu.
Aku hampir lupa bagaimana rupamu.
Sudah lama sekali, aku tahu itu. Kamu juga tahu kan, kapan kita terakhir bertemu?
Tapi untung ada yang mengingatkan aku tentang kamu, sehingga kamu kembali jelas buatku.
Ya, kemarin sore, aku melihat kamu di matanya.
Cinta,
Mungkin kamu ga akan membuat aku segeregetan itu, semalu-malu itu, segemes itu, secemburu itu, bahkan  sengeres itu,
Tapi aku tahu aku akan lebih tegar, lebih berani, lebih tenang, lebih sabar, dan lebih lurus, aku tahu itu.
Kau mengajarkanku banyak tentang hal-hal yang teman-temanmu bahkan tidak tahu.
Ketika aku mengerti keindahan syair puisi yang ga cuman sekadar kata-kata, ketika aku mengerti mengapa ada yang rela mati demi kekasihnya walaupun itu cuma film, ketika aku mengerti betapa dalamnya perasaanku bisa tersentuh oleh sebuah lagu, dan ketika aku mengerti artinya mencintai dengan dewasa, di situlah aku tahu engkau ada.
Terima kasih untuk hal-hal yang telah kembali.
Terima kasih untuk kita yang bertemu kembali.
Selamat datang, Cinta.


Selasa, 02 Juli 2013

V


Does it mean 'kepo', huh?
Hahaha. Sebenernya kata kepo itu harus dicoret dari muka bumi.
Dicoret kayak gini nih. Kepo.
Ya, sebagai seorang Virgo yang sangat kepo, aku memilih kata perhatian.
Perhatian lebih pantas menggambarkan kekepoanku padamu.
#abaikan #udahmalem
          

They are written, but may be unsaid.