Selasa, 27 Agustus 2013
Senin, 26 Agustus 2013
Expectation
Oke, aku agak sedikit bermasalah dengan ekspektasi akhir-akhir ini.
Permintaan maaf sebesar-besarnya untuk....tada...my best man on earth, Papa.
Ini aku loh Pa, anak kecilmu yang emang bandel dan suka ga mau nurut.
Bukan maksudku kok langsung pergi gitu aja ketika Papa nasihatin or, marahin aku kemarin. Dan bukan maksudku juga malam ini, barusan tadi, nyuekin mentah-mentah tawaran dinner di nasgor Kampung Keling, yang aku tahu adalah sebagai permintaan maaf Papa.
Hanya saja, mungkin ini wujud nyata betapa aku sangat bermasalah dengan ekspektasi.
Pa, papa tahu kan, aku ga pernah mau orang lain berekspektasi terlalu tinggi samaku?
Bahkan Papa pernah bilang, "Kalo Papa denger kamu gagal dari kamu sendiri sih, Papa yakin itu ga bener-bener gagal."
Seringkali aku ga jujur dengan keadaan, tanpa ada maksud untuk bener-bener ga jujur, hanya agar ketika kenyataannya terkuak, aku mau semua bernapas lega.
Aku jarang menyanjung.
Aku ga pernah muji Papa.
Karena aku pun ga terlalu senang diperlakukan seperti itu.
Aku cuma diem ketika Papa berhasil memotong banyak truk di depan mobil kita dengan kecepatan 120 km/jam dan saat itu mobil di depan hampir menabrak kita.
But you did it perfectly.
And I was very proud of you, saking bangganya sehingga ketika Papa nanya "Keren kan Papa bawa mobil?", aku jawab "Hah, biasa aja." -_-
Aku dieeeem banget Pa, bahkan kadang aku merasa kita sedikit awkward di beberapa moment.
Kita ga pernah deket sampe aku masuk SMP.
Papa pernah kerja jauh banget dan cuma pulang sekali seminggu. Itu membuat kita jarang ketemu dan jujur Pa, kau pernah bukan menjadi orang yang penting dalam hidupku.
Untuk 12 tahun pertama hidupku kau cuma seorang lelaki tua yang aku takuti. Aku ga pernah berani memandang matamu bahkan ketika Papa memintaku.
Ada Tulang, yang saat itu berhasil merebut tempatmu, menggantikan peranmu.
Bahkan Papa pasti inget "that dark age", ketika masalah keluarga kita sangat amat rumit, dan itu semua berawal dari ulah Papa.
Jujur Pa, aku down.
Karena sekali sentuh lagi, semuanya kandas.
Tapi aku inget banget, siang itu, ketika aku tidak benar-benar tidur, Papa datang dan mengelus kepalaku, sambil bilang "maafin Papa ya, Inang."
Thank God semuanya berubah 180 derajat.
Now that I have you.
Dan Pa, ketahuilah, sejak saat itu aku benar-benar merasa menjadi seorang anak perempuan.
Sampai sekarang, you've been truly amazing.
Papa selalu bisa jadi orang yang diandalkan.
Ga pernah aku ga ngerasa aman kalo Papa udah nge back up aku.
Ketika aku berjanji akan mencintai lelaki yang bisa mengatakan "tidak" pada keinginanku yang aneh-aneh, itu semua karena Papa.
Aku bisa memaklumi mengapa Papa melarangku ini itu, tanpa harus aku berontak, karena aku tahu maksudnya jelas dan benar.
Papa financial support yang hebat, lebih hebat dari mama, aaaand i'm very happy for that :p
Aku tahu, terkadang Papa suka marah. Sifat Papa yang keras terkadang ga cocok samaku. Kita bagaikan dua banteng yang sama-sama menyeruduk dan ga mau kalah. Tapi pada akhirnya kita mau sama-sama menurunkan ego, dan belajar banyak dari itu.
Bahkan seringkali Papa yang menaikkan bendera putih deluan.
Banyak Pa, banyak yang buat aku akhirnya luluh.
12 tahun bukan waktu yang singkat, tp semua ga berarti lagi ketika Papa bilang,
"Papa tahu dulu Papa ga deket sama kamu. Papa nyesal, dan Papa pengen perbaiki."
Yah, inilah aku Pa.
Aku udah telanjur bangga sama Papa.
Aku udah telanjur sayang.
Ga akan aku biarin Papa kecewa sama aku.
Apalagi dengan ekspektasi Papa padaku, yang walaupun Papa ga sebutin itu sebesar apa, tapi aku yakin, hampir sama besarnya dengan rasa sayang Papa samaku.
I'm trying to please everyone Pa.
Termasuk Papa.
So, ketika kemarin aku udah berusaha kasih penjelasan terbaik kenapa aku melakukan kesalahan, tapi Papa tetep nyalahin aku, aku kecewa.
Itu yang membuat aku bungkam sampe sekarang.
Aku kecewa karena ternyata aku mengecewakan.
Dan mungkin alasan keduaku marah adalah karena aku lagi pengen manja. Oke, ngeselin memang -_-
Tapi ngeliat Papa galau karena aku masih ga mau ngomong itu....lucu juga! Hahaha.
Ya, aku janji besok aku bakal ngomongin Papa. Tenang aja :p
Tapi tadi aku sempet sedih juga mikirin udah tinggal berapa hari lagi aku di rumah.
6 hari lagi aku harus balik ke Bandung, yang berarti aku harus berurusan lagi dengan ekspektasi.
Di sana ekspektasi orang-orang tinggi, Pa.
Aku dituntut ini itu karena memang itu tanggung jawabku. Bukan salah siapa-siapa, ini wajar.
Dan secara ga langsung, semua dituntut untuk menjadi se-perfect itu.
Aku ga bisa membuat mereka menurunkan ekspektasinya, seperti yang selalu kulakukan pada Papa dan Mama.
Dan itu berarti aku harus mencoba lebih keras untuk tidak mengecewakan.
Tapi aku tenang.
Karena di sini akan selalu ada orang-orang yang aku tahu punya ekspektasi yang tinggi padaku (walaupun aku sudah mati-matian menurunkannya), tapi ga akan menurunkan kasih sayangnya sepersen pun ketika aku melenceng.
And maybe it's you and Mama, Pa.
I love you both.
I will always do....no matter what.
And I'm sorry for being this kind of girl.
Hear, there's always a loudest sound in my deepest heart saying : Thank you.
You know what?
I'd kill for your expectations.
Sabtu, 24 Agustus 2013
Kamis, 22 Agustus 2013
Kartini Kesiangan
Quote :
"Karena hal mengenakan kebaya adalah sesederhana kedewasaan."
Yeah!
Senin, 19 Agustus 2013
Minggu, 18 Agustus 2013
Perfection
Namaku A-Ke-Z.
"Biarlah cita-citamu tercapai dari A hingga Z," kata mereka.
Sesempurna Azoth.
(Photo taken from Tokyo Murder, a novel).
Rabu, 14 Agustus 2013
Look Back
Terima kasih sudah membuat karet penahan di pinggangku.
Supaya aku ga bisa kemana mana lagi, ke tempat yang terlalu jauh dari jangkauanku.
Karena sekarang aku tahu, tidak ada satupun partikelku yang luput dari Engkau, pula masa depanku.
Aku bersyukur untuk perihal-Mu yang ajaib,
untuk segala kejadianku yang luar biasa.
Untuk orang-orang yang datang dan pergi,
Dan untuk hikmat yang dapat diambil.
Seperti alir mengalir dengan pasrahnya, aku siap.
Aku tahu, aku akan berakhir di lautan tenang, ga peduli berapa banyaknya batu yang harus berhempasan melawanku.
Aku, kehidupanku, dan Kau, bukan vicious circle.
Aku lebih suka mengilustrasikan pokok anggur.
Kau pokokku, sentralku.
Aku rantingMu,
Dan kehidupanku adalah buahnya.
Yang jika masam, akan membuatku segera ditebang.
Aku tahu, bukan aku yang akan terpilih jika masuk surga berbicara tentang timbangan.
Hidupku seringkali sia-sia belaka.
Dosa merajalela.
Panca indera diciptakan untuk kesia-siaan!
Terkadang aku muak.
Tapi begitu pun aku tersadar, semua memanglah sia-sia,
HANYA jika itu tanpaMu.
Klise? Mungkin.
Sebelum pada akhirnya aku mengaminkan ini :
"... sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa."
- Yohanes 15 : 5
They are written, but may be unsaid.