Minggu, 21 Oktober 2012,
semalam sebelum UTS ESDM, minim persiapan, kurang doa, suasana hati
berkecamuk.
Aku pergi ke bawah dengan langkah gontai mengetuk pintu kamar sahabatku.
Satu pertanyaan bodoh saat itu : 'Eh, aku kok ga fokus ya?'
Kenapa itu pertanyaan bodoh?
Karena sebenarnya itu pertanyaan retorik untukku sendiri.
Aku tahu kok kenapa aku bisa ga fokus malam ini. Aku tahu. Aku kenal diriku.
Tapi aku malas jujur ke diri sendiri. Aku memilih mendengar jawaban 'Mungkin
kau lagi ngantuk' atau 'Mungkin karena udah mumet', daripada jawaban samar yang
tak bersuara seperti 'Karena dia sedang merasuki pikiranmu'.
Ya.
Aku memikirkanmu malam ini. Di saat aku harus meng-SKS (sistem kebut
semalam)- kan bab demi bab matkul yang akan diujikan besok, yang ga jelas
nasibnya, aku memilih untuk menceritakannya di sini.
Apa yang membuatku begini mungkin samar-samar.
Yang aku tahu kau sangat menginspirasiku.
Aku banyak belajar darimu, jujur.
Aku jadi tahu apa itu memperjuangkan sesuatu dengan keras seperti yang kau
lakukan saat ini, untuk hasil yang memang kau harapkan.
Aku jadi menertawakan diriku sendiri di kala aku mulai mendapati diriku
terlalu lemah untuk ini semua. Untuk tugas, untuk tanggung jawab, untuk
pekerjaan, untuk kuliah, untuk segalanya...termasuk untuk perasaan.
Aku jadi malu terlalu cepat menangis.
Aku jadi malu terlalu cepat bilang "Ah yaudalah ya!" di saat aku
tahu kau sering terjerembab dalam kesakitan memperjuangkan hal lain.
Aku mengagumimu.
Dan semua yang ada padamu.
Karena itu membuatku tersadar, bahwa bukan tanpa alasan orang-orang berkata
"People change. Come on!"
Orang berubah. Aku tahu kau juga berubah. Mungkin aku juga.
Serindu-rindunya aku akan semuanya dulu, yakinlah bahwa itu telah berakhir.
Kita tidak mungkin menginjak sungai yang sama. Airnya pasti sudah berbeda.
Tapi aku mengagumi perubahanmu. Hanya saja aku tidak mengagumi perubahanku.
Mungkin dulu kita sama-sama ulat, sekarang pun kita sudah sama-sama
kupu-kupu.
Tapi aku sadar, bahwa corak kita berbeda. Kau, yang kulihat sekarang sudah
menjadi kupu-kupu cantik dengan warna-warni segar dipandang mata.
Sedangkan aku? Aku lah si kupu-kupu cokelat itu.
Aku sering melihatmu, diam-diam memperhatikanmu, dan terlalu sering mencari
tahu tentangmu, tapi apakah itu cukup membuatku sama sepertimu?
Bahkan aku iri dengan lingkunganmu!
Aku iri dengan teman-temanmu! Sumpah, aku mengagumimu!
Kau bukan perwujudan keinginan dagingku. Tidak.
Bahkan aku tidak pernah bermimpi untuk menyentuh sehelai rambut pun darimu.
Aku tidak pernah memimpikan akan bercinta denganmu, barang sekalipun.
Yang aku tahu adalah...bahwa aku bahagia bisa menjadi bagianmu, walaupun itu
hanya bagaikan titik dalam sebuah lukisan abstrak di kanvas yang luas.
Aku pernah berharap bahwa suatu saat kupu-kupu indah itu akan terbang berdua
dengan kupu-kupu cokelatnya, menuju sinar matahari sore yang akan memakannya
habis.
Tapi kau tahu? Bahkan pujangga manapun tidak pernah menceritakan tentang
kupu-kupu indah bersanding denga kupu-kupu cokelat jelek. Tidak satupun.
Ada suatu hal yang membuatku selalu terenyuh, yang mungkin ada karena aku
terlalu sering mendengar cerita dongeng dulu : Perasaan bahwa Tuhan menyimpanmu
untukku.
Kecil, redup, samar, halus, tapi ada!
Ya, aku akan semangat karenanya!
Aku akan bersemangat untuk mengupas kulit cokelatku ini.
Aku akan memperjuangkan semuanya.
Aku mau menjadi yang sepantas itu untukmu.
Aku mau berada di lingkaranmu, suatu saat!
Walaupun bukan sekarang, aku tahu, tapi si kecil yang redup, samar, dan
halus itu akan selalu ada.menjadi minyak yang akan membakar semangatku untuk
menjadi sama sepertimu.
Aku percaya suatu saat aku akan ganti kulit.
Dan saatnya nanti dimana aku sudah menjadi warna-warni, aku akan menemuimu
di taman itu pada sore hari.
Kita akan bermain di sana sampai kelelahan, sampai akhirnya matahari sore
yang tenang menjadi puncak kebersamaan kita, yang kemudian tenggelam dalam
keabadian.
Aku percaya...