Jumat, 26 Oktober 2012

Ave Maria...


She was lost in so many different ways
Out in the darkness with no guide
I know the cost of a losing hand
Never thought the grace of God go high

You are my heaven on earth
You are my last, my first
And then I hear this voice inside
Ave Maria

I've been alone when I'm surrounded by friends
How could the silence be so loud?
But I still go home knowing that I've got you
There's only us when the lights go down

You are my heaven on earth
You are my hunger, my thirst
I always hear this voice inside
Singing Ave Maria

Sometimes love can come and pass you by
While your busy making plans
Suddenly hit you and then you realize
It's out of your hands, baby you got to understand

You are my heaven on earth
You are my last, my first
And then I hear this voice inside
Ave Maria...
Ave Maria...
Ave Maria... 

Jadi lagu ini ga begitu populer karena dibumbui banyak sekali kontroversi dari masyarakat dan kalangan Gereja Katholik.
Padahal lagu ini satu album sama Single Ladies-nya yang sangat sangat booming waktu itu.
Beyonce dianggap terlalu "vulgar" dan nekat menyanyikan lagu yang kata pengkritiknya sih ga ada meaning-nya buat dia. Dia dianggap terlalu nasty untuk lagu itu. Dia juga dianggap sembarangan menyamakan seorang tokoh agama yang begitu suci dalam lirik lagunya, seorang "Haily Marry".

Tapi buatku, ini masterpiece...
Tapi buatku, arti lagu ini sangat nyata, curahan hati seorang wanita yang memiliki perasaan yang dalamnya tak terukur, bagai perasaan seorang Maria.
Perasaan sepi dan kehilangan, dalam dan suram, yang sakitnya pasti tak tertahan, ia tanggung demi cintanya.
Buatku, perumpamaan ini indah.

Bravo, Beyonce! 


Minggu, 21 Oktober 2012

Karya Lama

Ini aku tulis pas nugas Pengantar Ilmu Ekonomi Makro.

Semoga membantu deh buat yang disuruh ngerjain tugas yang sama. Hahahahaha :D
Beharap suatu saat bisa nulis untuk masyarakat.



DAMPAK UNDERGROUND ECONOMY TERHADAP PDB (PRODUK DOMESTIK BRUTO) INDONESIA

By : Me

Underground atau dalam Bahasa Indonesia disebut “bawah tanah” merupakan tempat yang tersembunyi, gelap, dan jauh dari permukaan. Sebuah benda yang disimpan di dalam tanah tidak dapat terlihat dari permukaan dan orang tidak akan mengetahui keberadaan pasti benda tersebut. Tidak ada, tetapi ada. Lalu apa kaitannya dengan ilmu ekonomi atau sistem perekonomian yang ada di Indonesia saat ini sehingga terdapat istilah “underground economy”? Layaknya ruang bawah tanah yang gelap, underground economy dekat dengan symbol kegelapan, persembunyian, dan mungkin kejahatan.
Menurut Philip Smith (1994),  adalah aktivitas produksi barang dan jasa baik legal maupun illegal, yang lepas dari pendeteksian dalam mengestimasi produk domestik bruto. Menurut definisinya, kita langsung mengetahui ada hubungan yang erat antara underground economy dan Produk Domestik Bruto (PDB). Sebelumnya, produk domestik bruto didefinisikan sebagai nilai pasar dari semua barang dan jasa akhir (final) yang diproduksi dalam sebuah negara pada suatu periode.

PBD dapat menjadi indikator kesehatan suatu perekonomian dalam sebuah negara dan besarnya produktivitasnya.  PDB yang meningkat pesat dapat menjadi pertanda bahwa pertumbuhan ekonomi suatu negara lebih maju daripada kenaikan harga barang dan jasanya. PDB dicatat dari hasil transaksi keuangan yang dilakukan segala sektor dalam suatu negara. Kegiatan ekonomi ini diukur dengan nilai uang yang akhirnya akan dicatat sebagai PDB. Namun yang menjadi masalah, bagaimana jika tidak semua transaksi tercatat? Bagaimana jika ada transaksi yang terlewat secara tidak sengaja atau bahkan disengaja? Disinilah dimulai babak baru tentang apa yang disebut “underground economy”.

Pernahkah Anda membeli barang di daerah perbatasan Indonesia dengan luar negeri dan mendapatkan harga yang jauh lebih murah dibandingkan harga pasaran di Indonesia? Inilah yang disebut black market (pasar gelap). Black market merupakan salah satu praktik nyata dari underground economy atau banyak pula yang menyebut mereka sama. Jika kita melihat dari sisi konsumen yang membeli barang pada black market,  ada marginal utility yang lebih besar dimana konsumen dapat memperoleh barang yang diinginkannya dengan pengorbanan yang lebih kecil. Itu jika ditilik secara mikro. Namun bagaimana dengan kondisi keseluruhan, kondisi keuangan daerah, kondisi keuangan negara, atau yang bisa kita sebut sebagai kondisi makroekonomi? Tidak akan “sesejahtera” itu. Barang-barang yang dijual pada black market umumnya adalah barang impor. Sesuai dengan hukum yang mengatur dan sesuai dengan pertimbangan kesejahteraan produk dalam negeri, barang-barang impor harus dikenai pajak. Memang wajar jika alhasil di Indonesia harganya menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan harga pasaran di daerah dimana produk itu berasal. Namun tidaklah wajar apabila di suatu daerah masih di wilayah Indonesia, harganya tidak mengikuti dan berada jauh di bawah harga pasaran Indonesia. Namun itu tidak menjadi tanda tanya besar, karena barang-barang tersebut pastilah tidak dikenai pajak impor.

Pajak impor merupakan salah satu kegiatan keuangan yang besar sumbangsihnya dalam penerimaan suatu negara atau dalam bahasan ini kita sebut PDB. Pajak yang dibayarkan oleh produsen luar negeri terhadap barangnya yang diekspor ke Indonesia, contohnya, akan dibebankan kepada konsumen Indonesia. Hal ini yang menyebabkan harganya melambung tinggi. Hasil dari pembayaran pajak tersebut akan masuk ke kas negara dan dicatat sebagai PDB. Tetapi dalam praktiknya, pajak tersebut tidak semuanya terkutip karena ada oknum-oknum yang berkolusi “menyembunyikan” atau menyelundupkan barang-barang impor agar bebas dari kewajiban pajaknya. Maka wajarlah jika hal ini disebut “underground economy”. Hal-hal yang seharusnya ada menjadi tidak terlihat, tidak kasat mata, dan dengan begitu tidak pula tercatat.

Menurut data BPS, perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan besaran PDB atas dasar harga yang berlaku pada Triwulan I-2011 mencapai Rp1.732,3 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan 2000 mencapai Rp594,0 triliun. Angka yang terakhir menunjukkan aktivitas ekonomi yang tercatat, yang “tampak” atau sah hitam di atas putih. Lalu bagaimana sisanya? Selisihnya bukanlah nilai yang kecil. Segala aktivitas yang terkait dengan underground economy, walaupun ada sisi positif yang bisa kita ambil, semua itu tetap merugikan negara dari segi PDB. Bahkan para pengamat melihat Indonesia sebagai negara berkembang yang disinyalir mempunyai kegiatan ekonomi informal yang cukup besar. “Banyak uang hilang dari kantong”, begitulah istilahnya.

Kegiatan underground economy sangat berdampak pada PDB suatu negara. Mikroekonomi dan makroekonominya, keduanya akan dirugikan. Secara mikro, PDB yang minim akan menurunkan investasi infrastruktur sektor publik, sedangkan secara makro, gambaran PDB yang minim dan seluruh data yang dicatat tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya dan sebenarnya tidak layak dipakai untuk mengambil suatu keputusan/kebijakan ekonomi. Ditambah lagi, apa mungkin utang negara terselesaikan dengan tingkat PDB yang minim? Oleh sebab itu, marilah kita bersama-sama “membersihkan” praktik underground economy, dimulai dari hal kecil, misalkan dengan tidak membeli produk  smartphone di black market. Satu perubahan akan sangat berguna untuk sejuta perubahan. Sebut saja dengan  demonstrative effect”.

:)

Kupu-Kupu


Minggu, 21 Oktober 2012,
semalam sebelum UTS ESDM, minim persiapan, kurang doa, suasana hati berkecamuk.
Aku pergi ke bawah dengan langkah gontai mengetuk pintu kamar sahabatku.
Satu pertanyaan bodoh saat itu : 'Eh, aku kok ga fokus ya?'
Kenapa itu pertanyaan bodoh?
Karena sebenarnya itu pertanyaan retorik untukku sendiri.
Aku tahu kok kenapa aku bisa ga fokus malam ini. Aku tahu. Aku kenal diriku.
Tapi aku malas jujur ke diri sendiri. Aku memilih mendengar jawaban 'Mungkin kau lagi ngantuk' atau 'Mungkin karena udah mumet', daripada jawaban samar yang tak bersuara seperti 'Karena dia sedang merasuki pikiranmu'.
Ya.
Aku memikirkanmu malam ini. Di saat aku harus meng-SKS (sistem kebut semalam)- kan bab demi bab matkul yang akan diujikan besok, yang ga jelas nasibnya, aku memilih untuk menceritakannya di sini.
Apa yang membuatku begini mungkin samar-samar.
Yang aku tahu kau sangat menginspirasiku.
Aku banyak belajar darimu, jujur.
Aku jadi tahu apa itu memperjuangkan sesuatu dengan keras seperti yang kau lakukan saat ini, untuk hasil yang memang kau harapkan.
Aku jadi menertawakan diriku sendiri di kala aku mulai mendapati diriku terlalu lemah untuk ini semua. Untuk tugas, untuk tanggung jawab, untuk pekerjaan, untuk kuliah, untuk segalanya...termasuk untuk perasaan.
Aku jadi malu terlalu cepat menangis.
Aku jadi malu terlalu cepat bilang "Ah yaudalah ya!" di saat aku tahu kau sering terjerembab dalam kesakitan memperjuangkan hal lain.
Aku mengagumimu.
Dan semua yang ada padamu.
Karena itu membuatku tersadar, bahwa bukan tanpa alasan orang-orang berkata "People change. Come on!"
Orang berubah. Aku tahu kau juga berubah. Mungkin aku juga.
Serindu-rindunya aku akan semuanya dulu, yakinlah bahwa itu telah berakhir.
Kita tidak mungkin menginjak sungai yang sama. Airnya pasti sudah berbeda.
Tapi aku mengagumi perubahanmu. Hanya saja aku tidak mengagumi perubahanku.
Mungkin dulu kita sama-sama ulat, sekarang pun kita sudah sama-sama kupu-kupu.
Tapi aku sadar, bahwa corak kita berbeda. Kau, yang kulihat sekarang sudah menjadi kupu-kupu cantik dengan warna-warni segar dipandang mata.
Sedangkan aku? Aku lah si kupu-kupu cokelat itu.
Aku sering melihatmu, diam-diam memperhatikanmu, dan terlalu sering mencari tahu tentangmu, tapi apakah itu cukup membuatku sama sepertimu?
Bahkan aku iri dengan lingkunganmu!
Aku iri dengan teman-temanmu! Sumpah, aku mengagumimu!
Kau bukan perwujudan keinginan dagingku. Tidak.
Bahkan aku tidak pernah bermimpi untuk menyentuh sehelai rambut pun darimu. Aku tidak pernah memimpikan akan bercinta denganmu, barang sekalipun.
Yang aku tahu adalah...bahwa aku bahagia bisa menjadi bagianmu, walaupun itu hanya bagaikan titik dalam sebuah lukisan abstrak di kanvas yang luas.
Aku pernah berharap bahwa suatu saat kupu-kupu indah itu akan terbang berdua dengan kupu-kupu cokelatnya, menuju sinar matahari sore yang akan memakannya habis.
Tapi kau tahu? Bahkan pujangga manapun tidak pernah menceritakan tentang kupu-kupu indah bersanding denga kupu-kupu cokelat jelek. Tidak satupun.
Ada suatu hal yang membuatku selalu terenyuh, yang mungkin ada karena aku terlalu sering mendengar cerita dongeng dulu : Perasaan bahwa Tuhan menyimpanmu untukku.
Kecil, redup, samar,  halus, tapi ada!
Ya, aku akan semangat karenanya!
Aku akan bersemangat untuk mengupas kulit cokelatku ini.
Aku akan memperjuangkan semuanya.
Aku mau menjadi yang sepantas itu untukmu.
Aku mau berada di lingkaranmu, suatu saat!
Walaupun bukan sekarang, aku tahu, tapi si kecil yang redup, samar, dan halus itu akan selalu ada.menjadi minyak yang akan membakar semangatku untuk menjadi sama sepertimu.
Aku percaya suatu saat aku akan ganti kulit.
Dan saatnya nanti dimana aku sudah menjadi warna-warni, aku akan menemuimu di taman itu pada sore hari.
Kita akan bermain di sana sampai kelelahan, sampai akhirnya matahari sore yang tenang menjadi puncak kebersamaan kita, yang kemudian tenggelam dalam keabadian.
Aku percaya...

They are written, but may be unsaid.