Beberapa minggu belakangan ini aku selalu menonton, membaca,
menyaksikan sesuatu yang agak “berat”, let’s call it interstellar stuff.
Hal-hal tentang dilatasi waktu, gravitasi, matahari, dimensi kesekian, dan
teman-temannya yang lain. Jujur aja aku ga punya kapasitas untuk membahasnya
secara ilmiah, karena aku ga mendalami ilmunya dan yang bisa kubanggakan
hanyalah pengetahuan hasil dari menonton film semacam “Einstein & Eddington”.
Weeeeell -_-
Beberapa pengetahuan yang aku dapat hanyalah hal-hal standar
semacam: waktu adalah ukuran yang relatif, di mana satu hari di bumi tidak sama
dengan 1 hari di “sana”, alam semesta diibaratkan bentangan kain, dan
planet-planet di dalamnya seumpama bola-bola yang diluncurkan di atasnya
Menyaksikan film, buku, atau artikel tentang alam semesta ini selalu membuatku berdecak kagum. Mungkin, apabila aku tidak menjadi ekonom,
aku akan mencoba peruntunganku di bidang astrologi, eh, maksudnya astronomi. Mungkin
aku akan menjadi salah satu anggota misi terbang ke planet X yang katanya ada
kehidupan. Hahaha.
Anyway, point yang mau kusampaikan adalah, alam semesta ini
merupakan misteri besar yang belum, dan tidak akan, pernah terpecahkan. Apa
yang manusia ketahui hanyalah remah-remah yang ada dalam satu kaleng Khong
Ghuan utuh. Film seperti Lucy, Interstellar, Einstein & Eddington, Armagedon,
dan sejenisnya memang mungkin masih belum bisa diterima sebagai suatu fakta
yang mungkin dan dapat terjadi dalam kehidupan nyata. Tapi siapa yang tahu?
Mungkin 500 tahun lagi terbang ke bulan adalah sebiasa naik commuter
Jakarta-Bekasi (aku bukan mau bilang Bekasi itu sejauh bulan kok, bukan). Kita, khususnya, manusia yang hidup sekarang, sekali lagi,
adalah seperseratus dari remah-remah Khong Ghuan.
Berbicara tentang alam semesta, bagi saya yang percaya,
tidak akan pernah lepas dari membicarakan penciptanya. Newton, dalam
mengemukakan teorinya, menyisakan satu pertanyaan tak terjawab sampai akhir
hayatnya dan ia menyisakan satu tempat untuk Tuhan menjawabnya. Mereka
mengatakan bahwa seorang ilmuwan bisa gila bukan karena mereka terlalu pintar,
namun karena ada pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa dijawab, namun mereka
tetap mengeraskan hati, dan tidak berterima kalau jawabannya haruslah sesuatu yang
berhubungan dengan Sang Pencipta. Bagaimana dengan kita yang hanya terima jadi?
Akankah kita masih boleh sombong?
Hal lain yang kupelajari adalah tentang cinta sejati. Kenapa
cinta sejati? Dalam film Interstellar, ia menggambarkan sebuah perjalanan ke
planet X yang dianggap bisa menggantikan bumi sebagai tempat hidup manusia.
Digambarkan dalam film tersebut, bahwa setiap jam yang mereka habiskan di
planet X itu sama dengan tujuh tahun kehidupan di bumi. Itu memang fiksi, tapi aku yakin pasti semua
sudah diperhitungkan dan memang ada dasar teorinya, yaitu relativitas waktu. Btw,
itu masih tempat yang bisa terjangkau oleh manusia, walaupun dengan pesawat
ulang-alik tercanggih. Coba lau pikir aja. Surga, yang bahkan tidak mampu
dilihat keberadaannya, akan sama seperti apa satu jam di sana dengan di bumi? Ya,
mungkin 75 tahun hidupmu hanya berlaku 1 jam di sana, atau 1 menit, atau...1
detik? Tidakkah kau lihat sekarang, bahwa hidup adalah kesia-siaan? Siapa yang
sanggup mencintai seseorang begitu dalam hanya dengan 1 detik melihatnya?
Dalam film Interstellar dijelaskan seorang ayah yang sangat
mencintai putrinya namun harus bertugas pergi ke planet X dalam misi
penyelamatan umat manusia. Ketika ia kembali ke bumi, ia tidak banyak berubah,
namun putrinya sudah menjadi seorang nenek. Begitulah analoginya. Konsep
kekekalan itu tidak bisa dipisahkan dari cinta sejati. If we love one person with a deep, true, heart, does time matters? No.
Dalam film Lucy, aku inget beberapa hal yang dikatakannya,
salah satunya adalah “Time is the only
true unit of measure, it gives proof to the existence of matter, without time,
we don’t exist”. Sekarang, simak apa kata Alkitab tentang waktu, “There is a time for everything, and a season
for every activity under the heavens,”. Aku melihat ayat tersebut artinya
gini: Segala sesuatu di bawah surga, pasti ada masanya. Bumi bisa berbeda waktu
dengan Saturnus, planet X, atau planet-planet lain. Boleh ada perbandingan waktu, namun tetap ada “waktu”.
Tuhan memberikan masa untuk semua kehidupan di alam semesta ini. Tapi di surga,
waktu tidak berlaku. Itulah konsep kekekalan yang sejati menurutku. Tidak ada
siang, tidak ada malam, tidak ada waktu tidur. Satu hari di pelataranNya akan
sama dengan waktu yang tak terhingga di bumi. Konsep penciptaan menjadi jelas
ketika kitab berkata, “Hari pertama Allah menciptakan langit dan bumi,”. Ya, satu
hari di surga mungkin sama dengan milyaran tahun di bumi ketika langit dan bumi
dipercaya timbul dari hasil evolusi yang amat sangat lama.
Karena konsep itulah, Tuhan bebas mengintervensi setiap
hidup manusia, baik masa lalu, masa sekarang, ataupun masa depannya. Ya, ia
datang dari dimensi yang lebih tinggi untuk memberikan masa bagi ciptaanNya,
mereka yang hanya ditemuinya 1 detik dan langsung mencintainya saat itu juga.
Aku sudah agak lama memikirkan misteri ini. Aku mau
membagikannya agar mereka, yang mungkin harus dicekokin dengan logika, menjadi
mengerti.
Teruntuk mereka yang memilih untuk tidak percaya karena tidak melihat,
marilah renungkan lagi misteri ini. It has made perfect sense for me. What about you?