Selasa, 29 Oktober 2013

Bandung


Dear Bandung,

Terima kasih untuk semua hal-hal yang tidak bisa aku pelajari di text book,
Yang tidak bisa aku hitung di kalkulator.

Terima kasih sudah membuatku berani mengusir lebah di kamarku dengan hanya berbekal sapu dan kenekatan.

Terima kasih sudah membuatku tidak takut keluar ke kamar mandi sendirian jam 3 subuh.

Terima kasih sudah membuatku berdisiplin agar tidak terlambat ujian jam 7 pagi.

Terima kasih sudah membuatku berlatih menjadi ibu-ibu yang bijak dalam menghemat uang kiriman.

Terima kasih untuk logat berbicara yang sudah enak didengar.

Terima kasih untuk warna-warni kreativitas yang bergairah.

Terima kasih untuk sikap toleransi yang sudah terpatri kuat di hati.

Terima kasih sudah membuatku mengerti akan indahnya keluar dari zona nyaman.

Terima kasih sudah menyadarkanku bahwa lilin memang sepantasnya ada di tempat gelap.

Terima kasih sudah menamparku ketika aku hanya berkoar-koar tanpa berbuat.

Terima kasih sudah menendangku ketika aku hanya duduk diam berdoa tanpa berdampak.

Terima kasih sudah membuka khasanahku selebar-lebarnya akan ilmu, akan pengetahuan, dan akan ilham.

Terima kasih sudah mempertemukanku dengan mereka-mereka yang menjadi teladan.

Terima kasih sudah memperlihatkan padaku hal-hal yang tadinya aku pikir hanya ada di layar kaca, dan tidak lupa memberikan nilai-nilai kehidupan sebagai pesan nasihat.

Terima kasih sudah mengajarkan apa itu komitmen dan arti pentingnya kesetiaan.

Terima kasih untuk nikmatnya terjaga demi sebuah nilai yang harus dipertanggungjawabkan.

Terima kasih untuk hangatnya persahabatan dan berharganya tiap momen.

Terima kasih untuk air mata yang sudah lebih bisa dibendung, hanya untuk tidak merasa lemah.

Terima kasih untuk pertemuan dengan Sang Khalik.

Terima kasih untuk udara yang sejuk, untuk angin yang segar.

Terima kasih untuk mawar merah yang murah.

Terima kasih untuk lantunan biola yang indah di Simpang Dago.

Dan untuk baju yang sangat cantik ini.

Terima kasih, 

Terima kasih, Bandung.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Oh.

Tuhan memang satu, kita yang tak sama~
Tidak, tidak.
Tuhan kita bahkan tidak satu.
Jadi ini rasanya.
Oh.
Aku mengerti sekarang.

Senin, 14 Oktober 2013

Pil pahit

Tau ga kenapa kenyataan yang buruk dinamain "pil pahit"?
Karena, ketika memikirkannya secara mendalam, menelan ludah itu jadi susah banget.
Kayak ada pil pahit di dalam mulut :(

Ibu kosan, oh, ibu kosan~

Jumat, 11 Oktober 2013

Pindah

Karena sesungguhnya bumi bagai terbelah dua ketika mendengar ada yang mampu meninggalkanMu.
Dan pindah ke Yang Lain.
Tuhan, bukan maksud hati menghakimi,
Karena bisa saja suatu saat aku mempertanyakan hal yang sangat prinsipil ini.
Tapi mengapa sampai saat ini,
Kau terlalu indah untuk kutinggalkan?
Mengapa sampai saat ini Kau terlalu hebat untuk kulupakan?
Dan bagiku Kau lebih dari sekedar prinsip.
Ajari aku Tuhan, untuk tidak pernah mempertanyakanMu di saat seluruh dunia berpaling.
Ajari aku untuk tetap merendahkan diri, sehingga aku tetap mengakui bahwa Kau memang di luar logikaku.
Ajari aku untuk tidak pernah pindah.
Atau bahkan memikirkannya.

Sedikit kontemplasi,
Diiringi lagu "Ku Tak Akan Menyerah" :)

Rabu, 02 Oktober 2013

Lil Conversation

X    : Hati-hati kamu, anak Ekonomi itu rawan sombong.

Me : Hah masa?

X    : Iya, karena segala sesuatunya akan dihitung  dengan nilai uang. Barang, tenaga, ide, waktu, semuanya "diuangkan". Hahahaha (ketawa annoying).

Me  : ...

X    : Sampe pada akhirnya dia sadar, uang buka segalanya.

"...Karena dia akan sampai pada titik, bahwa di dunia ini, ada hal-hal yang tidak ternilai." - Unknown.

Lesson

Hari ini belajar sesuatu di kelas Keuangan Internasional-nya Pak Boediono :
Spot Exchange Rate (nilai tukar sebenarnya) berbanding lurus dengan Expected Exchange Rate (nilai tukar ekspektasi).

Ketika orang berekspektasi US$ terapresiasi, maka ia akan melakukan action beli sebanyak-banyaknya mata uang itu dengan harapan bisa mendpt profit dari naiknya nilai US$ di masa depan, sampai akhirnya mata uang itu benar-benar terapresiasi.

Bingung?
Yah, intinya sih, "Apa yang kita pikirkan terjadi, itulah yang akan terjadi."
Ternyata rumusnya itu ada loh :")
Jadi congratulation utk orang-orang yang bisa banget optimis dan positif tujuannya kesampean meskipun di saat-saat paling genting.
Dengan sedikit action dan kerja keras,
Terjadilah sesuai dengan imanmu! :D

Huft

Bete. Kesel. Sedih. Marah.
Bad news dimana-mana.
Kerjaan numpuk, tanggung jawab ngantri.
Banyak yang skipped dan ga ter-handle.
Harus menghadapi jiwa-jiwa sesat.
Capek.
Bahkan utk menyeka air mata, tangan terlalu capek.
Tapi yah...
Ternyata di klimaks ada antiklimaks juga.
Ternyata kalo dipikir-pikir tuh ga harus selebay ini juga.
Ternyata aku ga sendiri.
Siapapun kamu, kita ga pernah sendiri.
Langsung adem ketika melihat temen-temen yg sama sama sedang berjuang.
Yang tidak sesembrono itu meninggalkan track-nya masing masing.
Bersyukur atas apa yang sedang ditabur, dan apa yang akan dituai.
Sebenernya kalo ditawarin "Mau ga bete? Mau ga kesel? Mau ga sedih? Mau ga marah? Tinggalin ini semua, mau?"
Dengan bangga dan bersyukur, aku bakal jawab "Nggak" juga kok.
So, dear para aktivis di luar sana, yang mau ga mau, suka ga suka, waktu, tenaga, pikiran, perasaan, sampe air matanya sering sekali terkuras, SEMANGAT!
Tanpa kamu, dunia statis.
Pohon tetap akan menjadi pohon, tanpa dia akan berbuah.
Karena ini, itu, semua hanya pendewasaan.
Dan harusnya kita semua tahu,this too shall pass. :)

They are written, but may be unsaid.