Dear Bandung,
Terima kasih untuk semua hal-hal
yang tidak bisa aku pelajari di text book,
Yang tidak bisa aku hitung di
kalkulator.
Terima kasih sudah membuatku
berani mengusir lebah di kamarku dengan hanya berbekal sapu dan kenekatan.
Terima kasih sudah membuatku
tidak takut keluar ke kamar mandi sendirian jam 3 subuh.
Terima kasih sudah membuatku
berdisiplin agar tidak terlambat ujian jam 7 pagi.
Terima kasih sudah membuatku berlatih
menjadi ibu-ibu yang bijak dalam menghemat uang kiriman.
Terima kasih untuk logat berbicara
yang sudah enak didengar.
Terima kasih untuk warna-warni kreativitas yang bergairah.
Terima kasih untuk sikap
toleransi yang sudah terpatri kuat di hati.
Terima kasih sudah membuatku
mengerti akan indahnya keluar dari zona nyaman.
Terima kasih sudah menyadarkanku
bahwa lilin memang sepantasnya ada di tempat gelap.
Terima kasih sudah menamparku
ketika aku hanya berkoar-koar tanpa berbuat.
Terima kasih sudah menendangku
ketika aku hanya duduk diam berdoa tanpa berdampak.
Terima kasih sudah membuka khasanahku
selebar-lebarnya akan ilmu, akan pengetahuan, dan akan ilham.
Terima kasih sudah
mempertemukanku dengan mereka-mereka yang menjadi teladan.
Terima kasih sudah memperlihatkan
padaku hal-hal yang tadinya aku pikir hanya ada di layar kaca, dan tidak lupa
memberikan nilai-nilai kehidupan sebagai pesan nasihat.
Terima kasih sudah mengajarkan
apa itu komitmen dan arti pentingnya kesetiaan.
Terima kasih untuk nikmatnya terjaga
demi sebuah nilai yang harus dipertanggungjawabkan.
Terima kasih untuk hangatnya
persahabatan dan berharganya tiap momen.
Terima kasih untuk air mata yang
sudah lebih bisa dibendung, hanya untuk tidak merasa lemah.
Terima kasih untuk pertemuan
dengan Sang Khalik.
Terima kasih untuk udara yang
sejuk, untuk angin yang segar.
Terima kasih untuk mawar merah
yang murah.
Terima kasih untuk lantunan biola
yang indah di Simpang Dago.
Dan untuk baju yang sangat cantik
ini.
Terima kasih,
Terima kasih,
Bandung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar