Minggu, 07 Juli 2013

Don't Judge.


Peggy namanya. Awal aku benar-benar mengerti kesungguhan kalimat “don’t judge”. Teh Peggy dulunya asisten dosen yang ngajarin praktikum Pengantar Ilmu Ekonomi Makro. Dengan perawakan tinggi-pake-banget, pertama kali masuk make outfit item-item dan muka sedingin es yang diriasi smokey eyes tebal udah sanggup bikin kita menarik kesimpulan teteh yang satu ini akan berlaku strict sama kita sekelas. Singkat cerita, satu semester bersamanya harus berakhir dan di akhir semester itu pula Teh Peggy dapat beasiswa master ke Prancis. Praktikum terakhir Teh Peggy neraktir kita satu kelas di WS (if u know what I mean), awal dari semua pelajaran ini.
Kalimat-kalimat terakhir yang aku inget dari dia adalah,

“Cewe harus bisa jaga diri,”

“Kalo lo udah bilang ya, itu berarti ya. Semua omongan harus bisa dipertanggungjawabkan. That’s why I have this (sambil menunjukkan cincin platinum yang bertengger di jari manisnya),”

“Jadi cewe harus punya modal,”

“Karena pelacur saja harus makan. Dan dia hanya punya tubuh sebagai modalnya. Don’t judge.”

Aku garis bawahi kata-kata yang terakhir, ya. Don’t judge. Karena itulah awal dari semua pembelajaran ini.

Awalnya aku berpikir, kenapa sih kita dilarang nge-judge orang? Apa yang salah dengan sebuah penilaian instan?  Ya salah sendiri orang itu menciptakan citra yang bisa bikin dia dinilai jelek sama masyarakat. Masa kita dilarang berkomentar? Masa kita harus tutup semua panca indera supaya ga bisa at least dalam pikiran sendiri nge-judge mereka? Hm.

Tapi kemudian aku memutuskan untuk mengubah pandangan itu.
Hal yang kemudian didukung oleh berbagai pelajaran penting.

Pelajaran pertama dari seorang pembuat tato di Pangandaran. Tampangnya sangar, dengan otot besar dan badan kekar dibalut setelan hitam-hitam bergambar tengkorak. Suaranya sedikit parau, khas seorang perokok. Aku dan temanku pergi ke sana untuk membuat tato temporer, sesuatu yang ga afdol kalo ga dibikin pas liburan ke pantai. Setelah terjadi penawaran dan ketemu yang namanya harga ekuilibrium, Bang Tato mulai melukis tato bunga-bunga andalannya di tangan kami. Berawal dari a lil' thing called basa-basi, pembicaraan pun merembet kemana-mana.

“Kalo mau bikin tato jangan yang gambarnya monoton, entar cepat bosen…”

“Abang bikin tato udah lama, berawal dari hobi. Keluarga Abang broken home, Bapak pergi ninggalin Ibu. Ketika pertama kali kenal seni tato, Abang langsung tertarik dan berusaha untuk belajar sama kawan yang pernah sekolah seni. Gitu udah bisa dan mau balik ke rumah, yang nerima Abang cuman Ibu. Kakak malu sama Abang karena badan Abang udah penuh tato sekarang. Ibu mendukung Abang, dan itu yang selalu membuat Abang senang untuk sesekali pulang ke rumah. Ibu jualan di pasar dan ga pernah mau nerima duit sepeser pun dari Abang. Ibu bilang, simpan saja untuk modal menikah Abang,”

“Terkadang masyarakat menilai terlalu jauh. Seperti halnya batik, tato hanyalah bagian dari budaya…”
Kemudian dia menambahkan satu gambar kupu-kupu mungil sebagai bonus, sembari menyingsingkan lengan baju yang menutupi tato Bunda Maria-nya.

Pelajaran kedua datang dari teman satu kosanku. Di sebelah kamarku sendiri.
Dari awal pertama datang dia udah bikin kegaduhan. Kedatangan pertamanya disambut dengan lolongan Bonzo, anjing kosan yang amat-sangat mengganggu tidur siangku. Ga cuman berakhir di situ, besoknya dia langsung mengundang temen-temennya makan di kosan, ketawa-ketawa, nge-gossip tentang cowo ganteng, teriak-teriak ga jelas yang ributnya ampun luar biasa. Lagi-lagi, selalu berhasil menjadi ‘alarm’ tidur siangku.
Suatu saat aku lewat kamarnya, tiba-tiba tercium bau asap rokok yang kuat. Dan ketika aku menoleh…eng ing eeeeng! She’s smoking OMG! :O Wow wow wow sempat terpikir dalam benak untuk mengadukannya ke ibu kosan hahaha. Tapi demi rasa dan tanggung jawab sosial, kuurungkan niatku. Walaupun asapnya…uhuk, semakin membuat ketidaknyamanan bersama. Yang terbersit dalam benak? Tentu saja, cewe merokok = bukan cewe baik-baik. Terlebih lagi, belum ada dialog yang begitu penting antara aku dan dia.

Setelah dia, muncul lagi anak kosan baru, hijabers cantik bermuka malaikat. Rajin mencuci dan membersihkan kamar. Sama, dengan dia pun aku belum menjalin percakapan apapun, until

“Lagi nyuci juga?” tanyaku, mencoba membuka topik. Walaupun sebenernya ga penting, karena orang yang lagi meres-meres pakaian di ember udah pasti lagi nyuci -_-

“Hm…” katanya, tanpa menoleh sedikitpun. Se-di-kit-pun.

Well, mungkin dia punya krisis kepercayaan diri, hiburku dalam hati. Aku masih berharap bisa berteman baik dengan dia karena nampaknya, dia tipikal orang yang ramah dan baik banget ke orang lain. From that face, okey.
TAPI, semua berubah ketika aku papasan sama dia di jalan, dimana aku udah pasang senyum termanis, tapi dia cuma ngeliatin, mungkin melototin aku dan lewat gitu aja. Shit men!
Semua kecurigaanku akhirnya terjawab ketika temanku, di samping kamarnya sendiri, sudah sering menjadi korban pengacanggorengan yang dilakukannya.

Beberapa hari kemudian,
Ketika kering kerontang (re : Aqua habis) menyerangku dan aku lagi ga punya duit sama sekali, aku memutuskan untuk minta aqua sama smoking girl di samping kamarku ini.

“Kak, bisa minta Aqua ga? Aqua-ku habis nih hehehe,” kemudian nyengir.

“Wah, aku juga habis nih kebetulan. Ini mau ke indoma…(sensor-ga-ngefek), aku beliin aja ya sekalian,”

“Oh boleh kak, nanti aku ganti ya kak uangnya,”

“Oke.”

Setibanya dari indoma…,

“Kak, berapaan tadi Aqua-nya?” (padahal lagi ga megang duit sama sekali dan udah siap-siapin jawaban “Aduh! Kak! Lupaaaa! Lupa ambil duit! Kaaaaak gimana iniiiiii??!”)

“Ah, gausahlah, cuma 2000an kok.”

“Hah? Serius kak?”

“Iya, nyantai.”

“Makasih kak…”

Ternyata, ke-benalu-anku tidak hanya sampai di situ. Besoknya, dengan begonya aku nge-laundry semua seprei yang aku punya dan selesainya baru tiga hari kemudian. Alhasil, begitu laundry diserahterimakan, aku cuman bisa gigit jari karena ga punya seprei untuk tidur malam hari.
Dengan penuh keberanian, aku mengetuk kamar sebelahku.

“Kak…Nggg…Ada seprei ga? Sepreiku lagi abis kak,”

“Ada sih, kebetulan ini mau ganti seprei juga.”

“Wah, kalo ga kain bali juga gppa kak! Hehehe.”

“Oh, ada kain bali. Hm, tapi pake dulu nih seprei aku. Aku pake yang lama dulu aja gppa kok.”
….

Perlu ga sih aku simpulkan lagi apa yang aku bisa ambil dari cerita-cerita di atas?
Aku rasa engga.
Pada akhirnya di sinilah aku, ngetik dengan nyaman di atas seprei biru halus yang dipinjamkan oleh seorang cewe yang pernah ter-judge buruk.
Dan di sinilah aku, memandang nanar ke arah kamar cewe sombong bermuka malaikat yang pernah ter-judge baik.

Dear society,
Percayalah, kamu, kita, tidak dilarang untuk menghakimi. Tetapi segera pastikan semua penilaianmu benar ketika kata-kata itu meluncur dari mulutmu dan ketika pikiran-pikiran itu terngiang di kepalamu.
Pastikan ucapanmu tidak memakan.
Kenali apa itu dan siapa dia.
Baru berilah penilaian sejujur-jujurnya, karena memang dia pantas mendapatkannya.
Tapi ketika bahkan kau belum tahu siapa namanya, don’t judge.
Just…don’t.
Karena pada akhirnya, kamu bisa saja meleset.
Karena pada akhirnya, seorang Teh Peggy pun hanyalah wanita yang ramah, terbuka, dan hangat. Single parent yang sangat baik.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

They are written, but may be unsaid.