Peggy namanya. Awal aku benar-benar mengerti kesungguhan
kalimat “don’t judge”. Teh Peggy
dulunya asisten dosen yang ngajarin praktikum Pengantar Ilmu Ekonomi Makro.
Dengan perawakan tinggi-pake-banget, pertama kali masuk make outfit item-item dan muka sedingin es yang
diriasi smokey eyes tebal udah sanggup
bikin kita menarik kesimpulan teteh yang satu ini akan berlaku strict sama kita sekelas. Singkat
cerita, satu semester bersamanya harus berakhir dan di akhir semester itu pula Teh Peggy dapat beasiswa master ke Prancis. Praktikum terakhir Teh Peggy neraktir kita
satu kelas di WS (if u know what I mean),
awal dari semua pelajaran ini.
Kalimat-kalimat terakhir yang aku inget dari dia adalah,
“Cewe harus bisa jaga diri,”
“Kalo lo udah bilang ya, itu berarti ya. Semua omongan harus
bisa dipertanggungjawabkan. That’s why I have
this (sambil menunjukkan cincin platinum yang bertengger di jari manisnya),”
“Jadi cewe harus punya modal,”
“Karena pelacur saja harus makan. Dan dia hanya punya tubuh
sebagai modalnya. Don’t judge.”
Aku garis bawahi kata-kata yang terakhir, ya. Don’t
judge. Karena itulah awal dari semua pembelajaran ini.
Awalnya aku berpikir, kenapa sih kita dilarang nge-judge orang? Apa yang salah dengan
sebuah penilaian instan? Ya salah
sendiri orang itu menciptakan citra yang bisa bikin dia dinilai jelek sama
masyarakat. Masa kita dilarang berkomentar? Masa kita harus tutup semua panca
indera supaya ga bisa at least dalam
pikiran sendiri nge-judge mereka? Hm.
Tapi kemudian aku memutuskan untuk mengubah pandangan itu.
Hal yang kemudian didukung oleh berbagai pelajaran penting.
Pelajaran pertama dari seorang pembuat tato di Pangandaran.
Tampangnya sangar, dengan otot besar dan badan kekar dibalut setelan
hitam-hitam bergambar tengkorak. Suaranya sedikit parau, khas seorang perokok.
Aku dan temanku pergi ke sana untuk membuat tato temporer, sesuatu yang ga
afdol kalo ga dibikin pas liburan ke pantai. Setelah terjadi penawaran dan
ketemu yang namanya harga ekuilibrium, Bang Tato mulai melukis tato bunga-bunga
andalannya di tangan kami. Berawal dari a
lil' thing called basa-basi, pembicaraan pun merembet kemana-mana.
“Kalo mau bikin tato jangan yang gambarnya monoton, entar
cepat bosen…”
“Abang bikin tato udah lama, berawal dari hobi. Keluarga Abang
broken home, Bapak pergi ninggalin Ibu.
Ketika pertama kali kenal seni tato, Abang langsung tertarik dan berusaha untuk
belajar sama kawan yang pernah sekolah seni. Gitu udah bisa dan mau balik ke rumah, yang nerima Abang cuman Ibu. Kakak malu
sama Abang karena badan Abang udah penuh tato sekarang. Ibu mendukung Abang,
dan itu yang selalu membuat Abang senang untuk sesekali pulang ke rumah. Ibu
jualan di pasar dan ga pernah mau nerima duit sepeser pun dari Abang. Ibu
bilang, simpan saja untuk modal menikah Abang,”
“Terkadang masyarakat
menilai terlalu jauh. Seperti halnya batik, tato hanyalah bagian dari budaya…”
Kemudian dia menambahkan satu gambar kupu-kupu mungil
sebagai bonus, sembari menyingsingkan lengan baju yang menutupi tato Bunda Maria-nya.
Pelajaran kedua datang dari teman satu kosanku. Di sebelah
kamarku sendiri.
Dari awal pertama datang dia udah bikin kegaduhan.
Kedatangan pertamanya disambut dengan lolongan Bonzo, anjing kosan yang amat-sangat
mengganggu tidur siangku. Ga cuman berakhir di situ, besoknya dia langsung
mengundang temen-temennya makan di kosan, ketawa-ketawa, nge-gossip tentang cowo ganteng,
teriak-teriak ga jelas yang ributnya ampun luar biasa. Lagi-lagi, selalu
berhasil menjadi ‘alarm’ tidur siangku.
Suatu saat aku lewat kamarnya, tiba-tiba tercium bau asap rokok
yang kuat. Dan ketika aku menoleh…eng ing eeeeng! She’s smoking OMG! :O Wow
wow wow sempat terpikir dalam benak untuk mengadukannya ke ibu kosan hahaha.
Tapi demi rasa dan tanggung jawab sosial, kuurungkan niatku. Walaupun asapnya…uhuk,
semakin membuat ketidaknyamanan bersama. Yang terbersit dalam benak? Tentu
saja, cewe merokok = bukan cewe baik-baik. Terlebih lagi, belum ada dialog yang
begitu penting antara aku dan dia.
Setelah dia, muncul lagi anak kosan baru, hijabers cantik bermuka malaikat. Rajin
mencuci dan membersihkan kamar. Sama, dengan dia pun aku belum menjalin
percakapan apapun, until…
“Lagi nyuci juga?” tanyaku, mencoba membuka topik. Walaupun
sebenernya ga penting, karena orang yang lagi meres-meres pakaian di ember udah
pasti lagi nyuci -_-
“Hm…” katanya, tanpa menoleh sedikitpun. Se-di-kit-pun.
Well, mungkin dia
punya krisis kepercayaan diri, hiburku dalam hati. Aku masih berharap bisa
berteman baik dengan dia karena nampaknya, dia tipikal orang yang ramah dan
baik banget ke orang lain. From that
face, okey.
TAPI, semua berubah ketika aku papasan sama dia di jalan,
dimana aku udah pasang senyum termanis, tapi dia cuma ngeliatin, mungkin
melototin aku dan lewat gitu aja. Shit
men!
Semua kecurigaanku akhirnya terjawab ketika temanku, di samping kamarnya
sendiri, sudah sering menjadi korban pengacanggorengan yang dilakukannya.
Beberapa hari kemudian,
Ketika kering kerontang (re : Aqua habis) menyerangku dan
aku lagi ga punya duit sama sekali, aku memutuskan untuk minta aqua sama smoking girl di samping kamarku ini.
“Kak, bisa minta Aqua ga? Aqua-ku habis nih hehehe,”
kemudian nyengir.
“Wah, aku juga habis nih kebetulan. Ini mau ke indoma…(sensor-ga-ngefek),
aku beliin aja ya sekalian,”
“Oh boleh kak, nanti aku ganti ya kak uangnya,”
“Oke.”
Setibanya dari indoma…,
“Kak, berapaan tadi Aqua-nya?” (padahal lagi ga megang duit
sama sekali dan udah siap-siapin jawaban “Aduh! Kak! Lupaaaa! Lupa ambil duit!
Kaaaaak gimana iniiiiii??!”)
“Ah, gausahlah, cuma 2000an kok.”
“Hah? Serius kak?”
“Iya, nyantai.”
“Makasih kak…”
Ternyata, ke-benalu-anku tidak hanya sampai di situ. Besoknya,
dengan begonya aku nge-laundry semua seprei
yang aku punya dan selesainya baru tiga hari kemudian. Alhasil, begitu laundry diserahterimakan, aku cuman bisa
gigit jari karena ga punya seprei untuk tidur malam hari.
Dengan penuh keberanian, aku mengetuk kamar sebelahku.
“Kak…Nggg…Ada seprei ga? Sepreiku lagi abis kak,”
“Ada sih, kebetulan ini mau ganti seprei juga.”
“Wah, kalo ga kain bali juga gppa kak! Hehehe.”
“Oh, ada kain bali. Hm, tapi pake dulu nih seprei aku. Aku
pake yang lama dulu aja gppa kok.”
….
Perlu ga sih aku simpulkan lagi apa yang aku bisa ambil dari
cerita-cerita di atas?
Aku rasa engga.
Pada akhirnya di sinilah aku, ngetik dengan nyaman di atas
seprei biru halus yang dipinjamkan oleh seorang cewe yang pernah ter-judge buruk.
Dan di sinilah aku, memandang nanar ke arah kamar cewe
sombong bermuka malaikat yang pernah ter-judge
baik.
Dear society,
Percayalah, kamu, kita, tidak dilarang untuk menghakimi.
Tetapi segera pastikan semua penilaianmu benar ketika kata-kata itu meluncur
dari mulutmu dan ketika pikiran-pikiran itu terngiang di kepalamu.
Pastikan ucapanmu tidak memakan.
Kenali apa itu dan siapa dia.
Baru berilah penilaian sejujur-jujurnya, karena memang dia
pantas mendapatkannya.
Tapi ketika bahkan kau belum tahu siapa namanya, don’t judge.
Just…don’t.
Karena pada akhirnya, kamu bisa saja meleset.
Karena pada akhirnya, seorang Teh Peggy pun hanyalah wanita yang
ramah, terbuka, dan hangat. Single parent
yang sangat baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar