Senin, 03 Juni 2013

Teruntuk Engkau.

Ingatkah Kau kapan terakhir kali aku menemui-Mu?
Ya, kemarin di Gereja.
Tetapi lebih dari itu, "menemui"-Mu secara pribadi, lewat lirihnya bisikan, lewat sayupnya kata-kata, bahkan hangatnya air mata?
Lewat segala hal yang tulus. Yang berasal dari hatiku.
Ingatkah Kau kapan terakhir kali aku benar-benar memanggil-Mu ketika aku ingin Kau ada di sampingku?
Ingatkah Kau kapan terakhir kali aku bersyukur melihat matahari, hujan, dan bulan?
Ingatkah Kau kapan terakhir kali aku menangis karena telah mengecewakan hati-Mu?
Ingatkah Kau kapan terakhir kali aku bernyanyi begitu hikmat sampai tanganku terangkat karena ia tahu sepenggal lirik tak lagi sanggup menyamai-Mu?
Ingatkah Kau kapan terakhir kali aku membuka mata saat pagi dan seketika langsung mengingat-Mu?
Tuhan yang kekal sampai kekal,
Aku tidak ingat lagi.
Aku berada dalam palung yang paling dalam sekarang.
Aku cuma bisa melihat kegelapan dan merasakan kedalaman.
Aku melihat kegelapan yang mutlak. Kepekatan yang bulat.
Ya, aku melihat cahaya. Cahaya yang berasal dari sengat ikan-ikan jelek penghuni samudera terdalam yang hanya sementara...dan berbahaya. 
Cahaya yang semu, cahaya yang mudah sirna, cahaya yang menggigit.
Aku tersesat, Tuhan.
Aku terpeleset.
Aku tahu dosa itu licin, tapi aku tetap berjalan di atasnya.
...
Apa yang aku rasakan adalah kosong.
Sekalipun ada sukacita, aku tidak begitu menikmatinya.
Tapi ketika dukacita menyusulnya, aku merasa makin tenggelam.
...
Hari ini aku menulis untukMu.
Aku ingin kembali, Tuhan.
Tariklah aku lagi.
Karena aku yakin semua pertanyaanku terjawab.
Aku tahu, Kau masih ingat.

Dan untuk ini,
"Never will I leave you, never will I forsake you" - Hebrews 13 : 5
Aku ucapkan terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

They are written, but may be unsaid.