Senin, 09 Juni 2014

Lihatlah Bajunya!

Hari ini genap sebulan lagi Indonesia memilih. Udah ga zaman rasanya jawaban semacam "Ga tau liat nanti," atau "Siapa aja deh terserah," ketika ada yang bertanya, "Kamu pilih nomor satu atau dua?"
Belakangan ini media massa berpesta kampanye. Siapapun kamu dan siapapun pilihanmu bebas untuk dipublikasikan selama masih ada UU No. 9/1998.
Orang-orang ini bersuara karena mereka sudah yakin pada pilihannya dan itu bagus.
Menentukan pemimpin yang ideal adalah pekerjaan yang susah-susah gampang.
Kalo punya banyak waktu sih silakan saja screening CV masing-masing calon. Lihat track record-nya dan derajat kontribusinya selama ini dalam menjalankan amanah memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia #merdeka!
Tapi ada ga orang yang bahkan ga tahu mereka dari partai mana? Ada saja.
Untuk orang-orang yang seperti itu, entar karena mereka malas atau karena ga mau tahu sama sekali, saya mau bilang : Tentukan pilihanmu!
Hal yang paling simpel yang bisa dilakukan adalah lihat dari sudut pandang disiplin ilmumu.
Jujur saja, sampai hari ini, tanggal 9 Juni 2014 jam 17.30 tadi saya masih bingung mau memilih siapa.
Rasanya semua kata-kata provokatif yang ada di media sosial itu mampu menghipnotis saya untuk....tidak memilih siapa-siapa. Karena saya bertambah bingung -_-
Sampai tiba-tiba dosen saya mengunduh poster di bawah ini dalam akun Facebook-nya:
Sebagai seorang mahasiswa sejati, saya pun mempunyai beban untuk melihat sekilas poster yang diunduh oleh dosen saya. Dan ternyata menarik.
Topik subsidi BBM merupakan topik yang ga habis-habisnya dibahas oleh seluruh lini masyarakat Indonesia, termasuk saya, yang memang tertarik pada bidang ekonomi lingkungan. 
Saya coba untuk menganalisisnya.
Kalo dilihat dari baris pertama, memang kedua calon ga mau berkomentar apa-apa ketika ditanya, yah mungkin ingin menghindari pertanyaan skeptis yang bertubi-tubi dari golongan masyarakat "penuntut" (if you know what I mean).
Namun seperti pepatah "Diam berarti emas", sebenarnya kedua calon ini sudah mempersiapkan strategi emasnya dalam versinya masing-masing. 
Tetapi bagi saya hanya satu dari dua strategi tersebut yang layak disebut emas.
Mulai dari pasangan yang kanan dulu.
Pasangan ini menekankan pada investasi energi terbarukan agar ketergantungan masyarakat terhadap BBM yang semakin langka dan mahal bisa ditekan. Which is good....and costly at first.
Bayangkan jika tiap mobil di Indonesia harus mempunyai konverter kit seharga Rp7.000.000,00 tiap unitnya. Sekilas kebijakan ini terlihat merugikan. Namun ternyata ada insentif dan disinsentif yang mengarahkan pilihan masyarakat kepada peralihan energi gas tanpa memaksakannya. 
Penghapusan subsidi secara berkala juga rasanya akan tepat karena wake up, people, minyak kita udah mau habis dan semakin hari harganya semakin mahal. Subsidi hanya akan menjadikan masyarakat semakin suka untuk menghabiskannya.
Mau tidak mau kita harus belajar untuk "move on" dari BBM, seberapa mahal dan susahnya pun itu untuk menjamin keberlanjutan penggunaan energi. Lihat saja Malaysia yang sudah mewajibkan seluruh taxi berbahan bakar gas. Sulitkah itu? Sebenarnya tidak. Toh ada Rp280 trilyun, bukan? ;)
Energi terbarukan yang minim emisinya juga pada akhrinya menguntungkan masyarakat dari sudut pandang kesehatan.
Kebijakan efisiensi dan pengehamatan juga sepertinya baik. Well done, siapapun ekonom di balik kebijakan si nomor 2 ini.
Coba lihat strategi sisi kiri yang terlihat begitu heroik akan menghapus subsidi BBM bagi orang kaya.
Wow.
Pertanyaannya adalah, apa definisi orang kaya yang sebenarnya? Manusia itu tidak pernah puas dan kekayaan itu relatif bagi setiap unit individu yang ada. 
Kalaupun kemudian ada batasan-batasan yang dibuat guna mengidentifikasikan orang kaya itu yang seperti apa, tetap ada yang namanya asymmetric information.  Kita tidak akan benar-benar bisa memisahkan antara orang kaya dan miskin secara akurat.
Lalu manfaat apa yang bisa dirasakan oleh orang kaya? Bukankah mereka juga berkontribusi dalam devisa negara?
Mendaftarkan mobil mana yang termasuk mobil orang kaya juga rasanya tidak tepat.
Siapa menyangka saudagar kaya yang hartanya ga akan habis tujuh generasi hanya memilih mobil Carry sederhana menjadi teman seperjalanannya?
Tidak menjual premium pada hari libur? Rakyat Indonesia pintar, Pak. Sebagian besar akan mengisi minyak sebanyak mungkin di malam sebelum hari libur dan kebijakan ini menjadi tidak efektif.
Insentif yang diberikan kepada perusahaan listrik saya rasa agak berlebihan mengingat perusahaan listrik dewasa ini memang sudah banyak berenergi gas dan fakta bahwa perusahaan listrik itu milik negara, untuk apa memberikannya insentif ketika bisa mengontrolnya? 
Sangat disayangkan, kebijakan energi pasangan ini masih menyisakan banyak pertanyaan bagi saya.
Dan selama masih belum ada jawabannya, 
I'm standing on the right side.


Yaps, jadi sesimpel itulah saya menentukan RI 1 buat saya sampai sejauh ini.
Mengandalkan apa yang pernah saya pelajari dan apa yang saya minati.
Kembali lagi, berusahalah untuk tidak golput.
Kalau kamu adalah seorang mahasiswa desain grafis yang memutuskan untuk mentok di golput, tunggu dulu.
Coba lihat baju yang dikenakan para calon.
Pilihlah yang paling fashionable!
Well, setidaknya pemimpin itu harus senantiasa rapi dan enak dilihat kan?
Setidaknya kamu punya alasan untuk memilih.
Dan apabila ada ratusan juta jiwa yang seperti itu, menilai para calon berdasarkan disiplin ilmu masing-masing, maka  kita sedang berada pada jalur yang tepat menentukan pemimpin yang cerdas dan handal dalam multidisiplin ilmu, pemimpin yang ideal bagi bangsa.

So, let's go on road to RI 1!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

They are written, but may be unsaid.