Berperang Melawan Angka Nol
Oleh : Anita Kezia Zonebia
Energi merupakan hal yang tidak
dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hukum kekekalan energi pun menyatakan
bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, hanya dapat diubah bentuknya.
Tidak salah jika manusia harus menggunakan energi untuk dapat melakukan
aktivitasnya sehari-hari, untuk mengubah energi menjadi sesuatu yang berguna
bagi kehidupannya. Namun yang menjadi masalah adalah ketika sumber daya di bumi
yang menjadi tempat berpijak ini terbatas untuk memuaskan kebutuhan manusia
yang tidak terbatas. Itulah sebabnya manusia sebagai makhluk yang berakal budi
dituntut untuk bisa mengalokasikan sumber daya tersebut secara efektif dan
efisien, tak terkecuali energi. Bahan bakar minyak yang merupakan hasil dari pembusukan
fosil makhluk purbakala jelas merupakan sumber daya alam yang akan habis karena
tidak dapat diperbaharui. Data
Biro Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan penurunan produksi minyak di
Indonesia yang cukup signifikan dari tahun 1996 hingga 2012, yaitu sekitar
42,5%, yang kemudian semakin menimbulkan masalah kelangkaan ketika dunia
memasuki era globalisasi dan bahan bakar minyak menjadi hal yang sangat krusial.
Untuk lebih membuka cakrawala
pemikiran kita, mari sejenak kita melihat pada konsep keberlanjutan. Para
ekonom dan ahli lingkungan telah banyak menemukan teori dan rumus mengenai hal
ini, namun sesungguhnya ketika kita dapat menjamin generasi yang akan datang
mampu menikmati sumber daya yang dapat kita nikmati sekarang, maka sesimpel
itulah kita dapat memahami konsep keberlanjutan. Keberlanjutan adalah sesimpel
membiarkan anak cucu kita menikmati udara segar dan memastikan tetap ada kayu
yang cukup untuk mereka bisa menulis di atas kertas. Bagaimana dengan bahan
bakar minyak? Hal ini jelas tidak berbeda. Di era modernisasi ini produktivitas
meroket, teknologi semakin canggih, dan manusia semakin mudah untuk
mengaksesnya. Data menunjukkan, pada tahun 2012, jumlah kendaraan bermotor di
Indonesia mencapai 94,4
juta, jauh meningkat apabila dibandingkan dengan tahun 1996 yang hanya 2,4
juta. Jelas masuk akal apabila kebutuhan bahan bakar minyak semakin mengingkat,
belum lagi jika kebutuhan pabrik dan rumah tangga dihitung. Angka-angka ini
akan berujung kepada satu angka, yaitu 0, jika kita tidak mencari solusinya.
Sangat besar kemungkinan kita untuk merampas hak generasi berikutnya dalam
menggunakan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Apa tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah
hancurnya konsep keberlanjutan ini? Solusi demi solusi sudah banyak dibahas
dalam forum ilmiah maupun nonilmiah, dalam disertasi seorang profesor maupun
hanya dalam status seorang mahasiswa di jejaring sosial. Seorang novelis asal
Inggris berkata, “The waste of plenty is
the resource of scarcity.” Efisiensi dan pengehematan energi tentu saja harus dilakukan,
dimulai dengan tidak menggunakan motor hanya untuk membeli bakwan di warung
yang berjarak 100 meter dari rumah. Meskipun kecil, namun jika semua orang
melakukannya, kita dapat berkontribusi untuk menjamin keberlanjutan dan
bersikap ramah pada lapisan ozon yang melindungi kita dari bahaya sinar
ultraviolet. Namun apakah konsep efisiensi hanya dapat diinterpretasikan
sesempit itu? Tidak. Sebuah mobil keluaran tahun 2000an yang memutuskan untuk
mengisi bahan bakar di counter bertuliskan
“Pertamax” juga berjasa dalam gerakan heroik ini. Mengapa? Karena subsidi bahan
bakar merupakan insentif bagi masyarakat untuk menggunakan lebih banyak energi
tanpa pertimbangan yang rasional. Masyarakat menjadi tidak peka untuk melihat
bahwa energi terlalu mahal untuk dibuang-buang.
Solusi lain yang tak kalah brilian adalah dengan
mengembangkan energi terbarukan yang dapat menjadi substitusi bahan bakar
minyak dan dipercaya menghasilkan lebih sedikit emisi. Di Indonesia khususnya,
banyak ilmuwan cerdas yang mampu mengembangkan energi terbarukan dari kayanya
sumber daya alam yang dimiliki oleh negeri tercinta ini. Lalu apa yang menjadi
masalahnya? Pada hari Jumat, 23 Mei 2014, bertempat
di sebuah universitas negeri di Bandung, direktur utama sebuah perusahaan
minyak dan gas milik negara berujar, “Jika subsidi bahan bakar minyak tidak
dihapuskan, sulit bagi negara ini untuk menyentuh ranah energi terbarukan,”.
Ratusan pasang mata tertuju pada sosok itu, mengangguk, dan dalam hati
membenarkannya. Pengembangan
energi terbarukan merupakan investasi
yang mahal. Selain itu, diperlukan modal yang cukup besar untuk mengubah
teknologi pabrik-pabrik dan kendaraan bermotor menjadi bahan bakar energi
terbarukan, misalnya gas. Jika masyarakat masih terus
“dimanjakan” oleh subsidi bahan bakar minyak, tidak akan pernah terbersit dalam
pikirannya untuk menggunakan bahan bakar energi terbarukan yang lebih mahal. Pabrik
otomotif juga tidak akan mau mengubah teknologi kendaraan yang diproduksinya menjadi
teknologi energi terbarukan karena masyarakat tetap ingin memakai kendaraan berbahan
bakar minyak yang lebih murah. Padahal, mau tidak mau, mengingat ketersediaan
yang semakin menipis dan faktor ketidakpastian dalam memperoleh minyak mentah,
kita harus segera berpindah dari zona nyaman menuju energi yang lebih
menjanjikan bagi generasi kita dan generasi yang akan datang.
Seorang ekonom asal Inggris, Thomas
Malthus, pernah memprediksi sebuah penderitaan hebat yang akan dialami umat
manusia karena sumber daya yang ada diramalkan tidak dapat mencukupi kebutuhan
manusia. Namun kenyataannya Malthus salah karena ia tidak mempertimbangkan
otak-otak brilian manusia yang menciptakan teknologi sehingga sampai sekarang
justru peradaban manusia menjadi semakin maju. Melihat hal ini, seharusnya
bertambahlah kepercayaan diri kita untuk mau berubah karena kita bukanlah
manusia yang malas dan tidak produktif, seperti yang pernah diasumsikan oleh
Malthus.
Masyarakat
dan pemerintah sudah seharusnya menyingsingkan lengan baju dan bekerja sama
untuk mengatasi masalah kelangkaan ini. Masyarakat bisa membantu pemerintah
dengan tidak membeli bahan bakar minyak bersubsidi apabila ia mampu membeli
yang tidak bersubsidi. Masyarakat juga bisa memberlakukan pola hidup sehat
dengan bersepeda ke kantor atau berjalan kaki ke sekolah. Pemerintah boleh menghapuskan
subsidi bakar minyak yang kemudian akan dialihkan pada investasi bahan bakar
energi terbarukan, seperti di Malaysia dan Thailand yang sudah mewajibkan
teknologi bahan bakar gas untuk semua taxinya. Memang, pada awalnya pencabutan
subsidi akan menyebabkan inflasi, namun dana yang tadinya digunakan untuk
subsidi bisa dipakai untuk membangun sarana dan fasilitas umum yang lebih baik,
misalnya berobat gratis. Pemerintah harus transparan dan mampu menjamin bahwa
masyarakat tahu kemana uangnya akan mengalir dan apa yang sedang diperjuangkan bersama-sam.
Sektor riil juga bisa berkontribusi dengan mengganti teknologi pabrik berbahan
bakar minyak dengan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.
Seorang
artis asal Amerika, Sharon Stone, pernah berkata “I think we have to be not
so afraid of scarcity. We have to be willing to give away all things.” Ya, kita tidak perlu takut membayangkan tidak akan ada lagi
cukup energi yang digunakan oleh kita atau anak cucu kita di masa yang akan
datang. Kita hanya boleh takut jika hanya duduk diam dan tidak berbuat apapun
untuk memperbaikinya. Data boleh mengatakan bahwa dalam dua belas tahun lagi
produksi minyak di Indonesia akan habis, tetapi kita masih bisa mengusahakan
banyak hal untuk menjamin bahwa tidak akan ada angka nol. Tidak akan ada kata
“berhenti” bagi mereka yang kemudian akan menyusul kita menggunakan energi untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya.
keren byy!!
BalasHapusanw, kata2 "sekedar motivasi" itu mengingatkanku pada si pria power. Dia pernah bikin folder sekedar motivasi dan totally jadi motivasiku :3