Selasa, 09 September 2014

20th

6 September 2014.
Akhirnya memasuki dekade ke-3 dalam kehidupan.
Fyuh!
Sudah sampai sejauh ini ternyata aku menjalani lika liku kehidupan.
Tidak terasa sudah memasuki dekade yang kata orang tahun-tahun "paling menentukan" dalam hidup.
Di situ lulusnya, dapet kerjanya, ketemu jodohnya, punya anaknya, dan sebagainya.
6 September kali ini terasa sangat berbeda dari biasanya.
Tidak terlalu banyak hingar bingar dan emosi yang terbuang.
Lebih banyak perenungan dan pikiran yang melayang-layang...ke masa depan.
Teman-teman datang untuk menyiapkan surprise, ucapan, kado, kue, dan sebagainya.
Itu sangat berarti buatku. Lebih dari apapun. Perasaan di mana kau tahu bahwa hidupmu dipenuhi orang-orang yang menyayangimu. Dan hidup menjadi worth living.
Namun di balik itu semua aku berpikir,
Sejauh apa kehidupan ini akan membawaku?
Memasuki kepala 2 buatku bukan sekedar, "Congrats you are not a teenager anymore! Now you can be drunk, have sex dan raise a kid ". Tidak sama sekali.
Umur 20 menyadarkan aku untuk segera mengemasi lampu beserta minyaknya untuk menyambut mempelai.
Ya, artinya bersiap-siap untuk segala kemungkinan.
Karena aku tahu, hidup akan selalu tidak tertebak. Statistika ada biasnya.
Oleh sebab itu aku kembali menapaki kontemplasi yang sama, tentang bagaimana hidup ini akan berjalan.
Pada akhirnya aku sampai lagi pada suatu kesimpulan yang biasa.
Bahwa aku akan berserah.
Tentang apa hidup ini bercerita, siapa orang-orang yang akan bertahan, dan mengapa hal-hal yang ada harus terjadi pada waktu dan tempatnya, aku memilih untuk menutup mata dan telingaku.
Berpura-pura polos, layaknya anak bayi.
Dia lemah dan bodoh, tetapi walaupun dia tidak mengerti, dia akan selalu aman.
Akan ada tangan-tangan yang merengkuhnya, lembut seperti sutra.
Hingga dia tahu siapa dirinya, pada akhirnya.
Analogi anak bayi ini jujur saja baru kutemukan 2 menit yang lalu, bagai ilham yang datang tak diundang.
Aku bersyukur Dia mengaruniaiku naluri untuk merasakan ini semua.
Hingga satu-satunya yang boleh kuketahui adalah bahwa aku "aman".
Di puncak maupun di palung, aku akan aman.
Karena bukan tugasku untuk tahu tentang apa yang akan terjadi.
Bukan hematku untuk mengerti alasan itu akan terjadi.
Bukan porsiku.

Selamat 6 September yang ke-20, Anita Kezia Zonebia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

They are written, but may be unsaid.