Selasa, 26 Agustus 2014

Key: Discipline

Kalau dunia itu ibarat bola mata yang sangat besar dan sangat sensitif terhadap setiap gerakan benda yang di depannya, maka yang menggerakkannya, menurutku, adalah kedisiplinan.
Disiplin. Atau komitmen. Konsistensi. Yah, sama saja.
Sebagai manusia yang tidak disarankan untuk terlalu naif, kita pasti pengen eksis.
That's why people made Instagram, Twitter, Path, et cetera.
Pengen dunia dan segala hingar bingarnya memperbincangkan kita.
In a positive way.
Right into your face.
Yah, ga salah sih. Ga ada yang salah.
Itu sangat wajar.
Bahkan jika ingin dirohanikan pun, dengan cara-cara tersebut kita bisa menjadi role model yang baik bagi banyak orang, right?  Begitulah misi agama kita semua.
Namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita bisa seperti itu?
Hmm menurut hematku sebagai seorang "pengamat" sosial media a.k.a kepoerz, yang dibutuhkan adalah sebuah kedisiplinan. Eksistensi manusia hanyalah hasil manis dari memukul rotan ke tangan sendiri.
Contoh? Banyak.
Misalnya nih, sekarang di Instagram temen-temen cewe aku lagi eksis banget foto pake bikini di pantai yang aduhay. Likers-nya? Wah jangan ditanya. Bisa sampe ratusan, bahkan ribuan.
Bagus. Keren. Fantastis. Indah.
Tapi sadar ga sih untuk bisa terlihat bagus keren fantastis indah di bikini two-pieces gitu susah banget???
It is not (so) gifted, girls, come on!
Coba deh scrolling down ke foto-foto yang sebelumnya.
Ada foto tali skipping, sepatu olahraga, dan barbel kan? Atau mungkin di Path-nya selalu check-in di Celebrity Fitness tiap jam 6 pagi.
Wow! Niat banget kan.
Sementara kita diam-diam menatap iri pada foto-fotonya....sambil makan donat 300 kalori -_-
Contoh lain deh. Biar ga matrealistis banget.
Kita pasti bangga dong kalo jadi asisten dosen multijurusan. I mean, pasti ada perasaan "Siapa sih yang ga kenal gue?"
Eksis tiada tara.
Namun, kita kadang hanya memandang dari sisi kitanya saja, si penggigit2 jari.
Mungkin kita iri dengan kejeniusan mereka yang seolah-olah sudah dikaruniai IQ 222 sejak lahir.
Lets be realistic, people.
Lets get into their shoes. Mereka juga belajar mati-matian kok untuk mendapatkannya. Mereka mencatat detil setiap kata dosen di kelas. Mereka berusaha mendekati dosen sedemikian rupa. What ever lah mau dibilang penjilat or so, yang penting usaha!
Mereka melalui berbagai rangkaian tes yang mungkin ga semua orang mau capek-capek melakukannya. Ada disiplin untuk memotivasi diri sendiri, from hero to zero.
Contoh lain.
Ini pasti banyak lah.
Aktivis-aktivis himpunan yang eksisnya melebihi rektor kampusnya sendiri.
Kebanyakan dari kita mikirnya itu adalah karena mereka pinter bersosialisasi karena mereka anak-anak extrovert yang dikaruniai bakat ngomong sana-sini.
Tapi tidak, lagi-lagi itu karena mereka disiplin.
Disiplin untuk membentangkan jaring sosialnya, disiplin bergaul dengan sesepuh-sesepuh himpunan yang biasanya bikin lieur, bahkan disiplin untuk memasang poker face demi menyenangkan hati orang lain.
Kebayang juga ga sih, pulang malem-malem abis rapat (worse case, subuh), badan udah capek, mata udah berat seolah-olah bulu matanya terbuat dari besi, dan pulang-pulang harus ngerjain tugas demi mempertahankan statusnya sebagai mahasiswa?
Mungkin sebagian orang mikir, "apaan sih sibuk2 di kampus belajar aja ga bener"
Okay guys I got it.
Tapi tanpa mereka-mereka ini jurusanmu mungkin (lagi-lagi) ga eksis, lho.
Inget juga kalo 3+6 dan 4+5 itu sama-sama menghasilkan 9. Mereka punya caranya sendiri untuk berhasil di mata masyarakat.
Contoh lain banyak. Mungkin ribuan.
Kuncinya adalah disiplin. Apapun yang kamu mau, cobalah untuk membangun sebuah komitmen yang kecil standard error-nya. Artinya, komitmen itu ga cuman sebatas karena dipengaruhi mood ketika membuatnya.
Niscaya, kembali lagi, semua bisa dirohanikan.
Apa yang kamu tabur, itulah yang kamu tuai.
Tuhan sayang sama kita, tapi tidak selamanya setiap rejeki itu didapat seperti durian jatuh.
If you want existence, commit.
Karena aku percaya, bahkan Victoria's Secret Angel pernah menderita dulunya untuk membentuk badan seindah itu :')

1 komentar:

They are written, but may be unsaid.