Belakangan ini aku tersadar akan satu hal: Semakin seorang beranjak
dewasa, semakin dia teringat akan masa
lalunya.
Itu kenapa ada reuni, ada temu kangen, ada gathering, dll, dll.
OK, aku ga bilang diriku sudah “tua”, karena anyway I’m just
entering a wonderful 20th!
Tapi saat ini aku pengen jujur. Untuk pertama kalinya.
Sebagai seorang dewasa.
Aku tidak ingin kehilangan sahabatku (lagi).
Dan itu berasal dari perenunganku akan masa lalu.
.....
Jadi baru beberapa jam yang lalu aku mengecek akun ask.fm
yang sudah lama kubuat namun jarang kubuka. I mean, come on, bahkan sampe
sekarang jumlah pertanyanku baru 28 dan itu juga banyak pertanyaan random dari
ask.fm yang kujawab sendiri haha -_- Intinya, aku tidak terlalu berbakat
membuat orang lain penasaran akan what’s-going-on-in-my-life.
Jujur aja aku bukan orang yang suka ngeliatin timeline di
ask.fm, karena kalopun pertanyaannya menarik, jawabannya panjangnya masyaolloh.
Tak ubahnya seperti membaca roman zaman Renaissance.
Namun kemudian mataku tertuju pada suatu pertanyaan yang rada
“eye-catching”.
Pertanyaan ini dialamatkan ke ask.fm salah satu temen aku di
SMA.
Kira-kira pertanyaannya adalah “What do u think about doing sex on treadmill?”
OK, bukan kira-kira lagi. Itu memang pertanyaannya. Maaf
agak ga enak dibaca.
Dan temenku kira-kira menjawab, “Wow. Gw ditanyain sama king of sex...”
Lagi-lagi, bukan kira-kira.
Terus aku penasaran, seperti apakah yang disebut sebagai King of Sex itu???
Apakah dia memiliki sosok berbulu lebat dan perkasa?
Otot-otot besar dan senyum yang rupawan? Rambut klimis ala Ciamis? Atau just a random skinny guy with skinny jeans who
would talk about sex all the time?
Aku pun membuka akunnya.
Fotonya keren, ala-ala anak gaul yang kekinian.
Lalu aku pun tertarik membaca satu per satu pertanyaannya
yang dijawab lugas, lucu, kritis, dan fantastis. What an open-minded with a good sense of humor guy! Yah, walaupun
sebagian besar dari topik bahasannya berbau sex, tetapi dia pintar “membungkusnya”
sedemikian rupa hingga tidak terlihat menjijikkan. Like he had an elegant way to say “Hi, sexy guy right here!”
He is a guy.
Unfortunately, he is also a gay.
Scroll down, scroll
down, scroll down, and then scroll up.
Mataku tiba-tiba tertuju pada nama aslinya.
(sebut saja) Riu.
Dan aku tertegun sejenak, mengingat-ingat namanya yang
begitu familiar.
And.... gotcha!
He was my bestfriend.
Yeps, you read it. I
use past tense.
Dia sahabat cowo terbaik yang aku punya selama SD sampai SMA
kelas 1.
(Andaikan Bahasa Indonesia ada past tensenya...)
This is sad.
If you have no idea
about him, lemme write it. Just make it for him.
......
Dear Riu,
Aku inget masa-masa ketika aku masih suka mati-matian sama
cowo, naksir sampe 2 jam nunggu di depan rumahnya, layaknya psikopat, kau selalu ada. Riu, kau berusaha menjadi mak comblang yang baik walaupun pada
akhirnya gagal. Ketika kau ada masalah
di rumahnya, karena kau broken home, kau selalu datang ke rumahku dan kita bakal cerita ketawa-ketawa, menggosipi
orang yang tak bersalah, sampe malem. Kita selalu sepaham dengan banyak hal,
terutama hal-hal aneh yang tidak sewajarnya ada. Hey, aku rasa “bakat”
mengomentari segala sesuatu dari A-Z ku itu datang darimu. Sampe mamaku
teriak-teriak nyuruh kita ngerjain PR. Riu, kau selalu punya list-list lagu paling keren pada saat
itu. Dan karena aku belum punya HP yang canggih, kau selalu meminjamkan
handphone-mu untuk aku mendengar musik. Seringkali kau meminjamkan memori card
handphone-mu berhari-hari karena aku ingin memindahkan lagu-lagumu. Seringkali
kita pergi ke KFC yang jaraknya sekitar guling-guling-dari-rumah-nyampe hanya
untuk membeli eskrimnya. Seringkali aku meminta uangmu juga, btw. Yeps, kau
selalu punya lebih banyak uang jajan dan aku selalu mengeluhkan hal itu. Kau selalu
datang ke kelasku pas istirahat, walaupun kau sebenarnya punya teman di kelasmu
sendiri, tapi you know, they were not in
the same level hahaha. Mereka ga akan ngerti dengan topik bahasan kita. Oh iya! Inget ga saat kita disuruh cari
kepompong untuk tugas IPA? Kita cari kepompong bareng-bareng di kuburan dekat
rumahmu malem-malem...sambil pegangan tangan! Simply karena aku takut hantu pada saat itu. Dan kita dapat banyak
kepompong! Yah tentu saja kau yang mengambilnya dari pohon karena aku ga suka
sama benda-benda menggeliat itu. Bahkan pada saat SMP , ketika aku dan kau
tidak bersekolah di SMP yang sama, kau masih sering datang ke rumah. Bahkan kau
sering datang diam-diam, tanpa mengabariku terlebih dahulu. Kita pergi ke Sun
Plaza, yang pada saat itu sedang eksis-eksisnya. Kita nonton film horor
Indonesia alay yang lagi in pada saat itu hahaha. Ketika aku ulang tahun, kau
menghadiahi aku baju Billabong, karena pada saat itu SEMUA orang mabok
Billabong, Roxy, Quick Silver, dll, dan aku ga punya satupun karena harganya
mahal. Dan kau membuatku terlihat keren. Kau selalu mendengarkanku curhat tentang
orang yang sama selama 4 tahun! Dan kau sempat menyukai seorang cewe cantik,
bule, anak Cahaya. Namanya Sasha, remember? Kita punya banyak selfie dengan gaya
yang aneh-aneh dan sok lucu. Kau, kau selalu berbagi denganku. Kau berbagi
segalanya; pelajaran hidup, arti persahabatan, tawa, tangis, cerita, gambar,
lagu, foto, bahkan...video xxx (you know
what I mean! Hahaha. Well pada saat itu kita hanya remaja labil yang tak
tahu arah ._.) Kau cerita banyak tentang keluargamu. Tentang segala konteks “Life is not fair and I am fucked up”
yang dengannya aku banyak belajar.
Kau sangat mengerti aku, dan keanehan-keanehanku yang hanya
aku tonjolkan kepada satu atau dua orang di dunia ini. Dan kau cukup beruntung
pernah menyelami karakterku sedalam itu :’)
Kau seniat itu bersahabat denganku.
Dan kau ga pernah menyerah untuk bilang “Abby, I’m here. Anytime you need me, bitch.”
Sembari tersenyum hangat dan merangkulkan tanganmu di bahuku. Ya, aku lupa, kau
selalu memakai kata-kata tak senonoh yang selalu terdengar senonoh di
telingaku. Because you were my bestfriend.
Tapi aku sejahat itu. Suatu saat kau mengajakku jalan-jalan
di sekitar sekolah dan aku menolak karena lagi ngerjain tugas. Lalu kau ambil
HP Nokia 3210 ku dan tidak mengembalikannya sampai jam pulang sekolah. Lalu aku
datang ke kelasmu dengan emosi yang tak tertahankan lagi. Aku memakimu di depan
teman-temanmu hanya demi sebuah HP Nokia 3210. Aku tahu kau punya perasaan
yang jauh lebih lembut dari hati cewe
manapun. I knew you were already fucked
up. Tapi aku tetap mengatakan hal terlarang itu sewaktu bertengkar pada
saat itu. I let you down.
Sebenarnya aku tahu rasanya berada di posisimu. Hanya aku
terlambat menyadari dan terlambat untuk mau berganti posisi denganmu untuk
merasakan bagaimana seorang sahabat yang selalu bisa diandalkan mempermalukanmu
di depan umum dengan 1 kata yang terdiri dari A, N, J, I, N, G itu dengan
keras. Right in front of your sad face.
What was wrong with me? I don’t know. Rasanya ingin kucampakkan saja HP itu
ke sungai Babura di belakang sekolah jika aku tahu itu yang akan memisahkan
kita sekarang. Sepele. Tapi itulah
kenyataannya.
Haruskah aku semarah itu padamu?
Tidak. Tidak sama sekali.
Dan sekarang lihatlah kita berdua! Setelah lima tahun
berlalu.
Dua sisi dunia yang berbeda. Kau, dengan hidupmu yang fun, dan aku dengan segala kesehajaan ala
kadarnya :’)
Tetapi jika aku boleh bertanya, are you OK? Kenapa kau masih mengatakan hidupmu berantakan? Kenapa kau tidak lagi menyukai cewe
cantik seperti dulu? Kenapa kau begitu sinis menanggapi hidup belakangan ini? Kenapa
kau merokok? Kenapa kau jadi raja sex, literally? Kenapa kau mabuk? Kenapa kau membuang
nasihat yang berarti dari orang lain? What’s (really) going on with your life?
Did I miss something? Ga usah ditanya
sebenernya aku tahu diri kok, udah kehilangan banyak hal dalam hidupmu. Masih berhakkah aku mengajukan pertanyaan tadi?
Jujur ada perasaan nyesek yang begitu hebat yang aku sendiri
bingung kenapa bisa muncul. Apakah ini hanya sekedar “Ya ampun ternyata gue
udah gede aja ya, ga nyangka time flies
so fast, dulu perasaan mainannya masih alib berondok” atau karena suatu hal
sesimpel “I miss you like crazy.”?
Aku pilih yang kedua. Karena pada akhirnya bukan tanpa alasan aku memberanikan
diri ask di kolom pertanyaan mu. Aku menanyakan kabarmu. Bukan semata-mata
karena aku ingin basa basi dan akhirnya menemukan jawaban semacam “Baik hehe
apa kabar jg?” tapi karena aku pengen bilang “Riu, I’m here. Anytime you need me, motherfucker!”. Because I want to give a damn about your
life. I do care.
Iya, aku tahu kok itu
terlambat. Aku tahu ga akan semudah mencukur bulu ketek lah membuat kau jadi
sahabatku lagi. Pada akhirnya mungkin kau ga akan pernah jadi sahabatku lagi. Bisa
saja dalam hatimu sudah membeku dan kau hanya bisa bilang “Siapa sih lo?” tanpa
bisa aku salahkan lagi. Itu hakmu. Pada akhirnya kita hanya akan menjadi dua strangers yang sama-sama ngerasa awkward karena kehadiran satu sama lain.
Tapi tidak apa-apa. Aku sadar bahwa waktu tidak bisa
diputar. Selama mesin waktu belum ditemukan, kita ga bisa seenak jidat
melakukan apa yang kita mau. Setiap tindakan pasti berujung pada satu
konsekuensi yang pasti. Termasuk aku, sewaktu menyakiti hatimu dulu tanpa
pernah megucapkan kata M-A-A-F sekalipun, sampai sekarang. Yang mungkin kalo
kukatakan sekarang kau akan bingung dan menganggapku sedang berhalusinasi.
Tapi terima kasih sudah membuatku belajar. Karena seperti
biasa, kau selalu membiarkanku untuk menerima sesuatu dari padamu.
Aku sadar bahwa persahabatan bukan hanya dibangun dari
interaksi-interaksi hebat, seperti liburan bareng ke Pulau Maldives, mendaki Mount
Everest bareng dan hampir mati karena cuaca buruk, memberikan kado ulang tahun
berupa liontin persahabatan yang terbuat dari berlian, dll. Persahabatan itu
muncul dari hal-hal simpel yang mungkin sepele. Persahabatan itu sesimpel
menjaga komunikasi dan selalu membiarkan sahabatmu punya tempat dan waktu
spesial dalam keseharianmu, biarpun hanya sebatas “Hi”. Persahabatan itu
sesimpel bisa menahan dirimu untuk mengucapkan kata kasar. Persahabatan itu
sesimpel kesanggupan hati untuk meminta maaf. Persahabatan itu berbicara tentang usaha
mengalahkan ego. Persahabatan itu membutuhkan hati.
Aku adalah subjek yang bersalah.
Aku tahu, mungkin kalau kita masih sahabatan, hidupmu
mungkin belum tentu berbeda. Yah, pada akhirnya kau mungkin tetap akan berada
pada orientasi seksual yang sama, kau tetap menjalani hidup seperti sekarang.
Tapi aku berharap ada di sana. Aku berharap aku bisa menemanimu. Dan tetap
menjadi seorang cewe yang selalu bisa kau andalkan. Seperti halnya aku bisa mengandalkanmu dulu.
Maaf untuk keegoisanku. Maaf jika bahkan aku menjadi salah
satu alasan kau makin kecewa dengan kehidupan ini. Maaf jika rumah yang selalu
kau datangi diam-diam tidak bisa lagi menjadi tempatmu berteduh dari masalah
dan tangan yang selalu kau genggam erat ini sudah terlalu asing untuk menjadi penenang
hatimu. Maaf. Maaf. Maaf.
Jika nasi telah menjadi bubur, setidaknya balaslah
pertanyaanku di ask.fm.
Katakanlah kau baik-baik saja. Walaupun hanya sekadar basa
basi.
Terima kasih telah meninggalkanku. Dan menyisakan
orang-orang yang begitu baik di sekitarku sampai sekarang. Aku janji aku ga mau
kehilangan mereka lagi. Aku janji aku hanya akan mengelus dada, atau paling
buruk, nangis, ketika mereka menyakitiku. Melukai perasaanku. Aku janji ga akan
ngomong kasar lagi dan hilang kendali lagi. Aku janji akan sering meminta maaf.
Aku ga mau kehilangan mereka seperti aku pernah kehilanganmu.
Aku janji.
Karena aku tahu, persahabatan sangat berarti dan seseorang sepertimu tidak akan bisa kembali...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar