Aku pernah ada di posisi yang sama.
Aku mendahuluimu lima tahun merasakan semua hal itu.
Gimana stress-nya mempertahankan angka-angka 8 di rapotmu.
Gimana rasanya harus berhadapan dengan A-Sui tiap minggu.
Gimana lelahnya sore sepulang bimbel.
Gimana menjalani dilema antara sekolah dan hal-hal lain.
Aku pernah, Van.
Dan di luar pengakuan bahwa masa SMA adalah masa yang indah,
Aku hancur.
Aku dapat nilai 14 di Kimia.
Aku harus menguras otakku sampe kering utk ngerti Fisika, Kimia, Matematika, dan ilmu yg kita sebut pasti.
Sampe aku menyerah.
Dan bisa dikatakan kalah.
Tapi aku ga peduli, bodo amat.
Namun beda halnya kalau itu terjadi sama adikku sendiri.
Follower, hater, lover, and brother of mine.
Ketika aku tahu bahwa kau kewalahan dengan hal yg sama,
Aku peduli.
Dan lebih parahnya, aku patah hati.
Ga kuat rasanya aku membayangkan kau menggeleng pasrah melihat soal-soal Try Out dan menunduk malu melihat pengumumannya.
Sementara cita-citamu adalah pada bidang itu.
Van, aku bukan dan ga akan pernah jd hug-me person.
Aku juga jarang ada untuk selalu mendukungmu di saat-saat itu.
Tp aku selalu dan akan terus berdoa buatmu.
Agar Tuhan memampukanmu dan menenangkanku.
Aku tahu bahwa kau tinggal berusaha sedikit lagi.
Dengerin omongan Mama sedikit lagi.
Coba untuk fokus sedikit lagi.
Tolong jauhkan tanganmu dari smartphone itu!
Tolong gunakan waktu yg ada karena hari-hari adalah jahat.
Dan detik-detik akan terus mengintimidasimu dengan kejam.
Jangan patah semangat, Van.
Tolong jangan.
Karena akan lebih patah lagi semangatku.
Kemanapun kau melangkah, yakinlah itu adalah porsimu.
Mengeluh bukanlah pilihan.
Kemanapun kau berjalan, yakinlah semua telah terencana.
Kami mendukungmu.
Tuhan memberkatimu.
such a blessed brother.. :)
BalasHapus