Minggu, 27 Januari 2013

Good Bye, Teddy Bear!

Hai, kamu...
Yap, kamu. Kamu, masih orang yang sama yang pernah menjadi pikiran utama di setiap paragrafku terdahulu.
Miris, karena sampai sekarang kamu pun tak tergantikan.
Malah lebih tepatnya, sekarang kau telah "menggantikan".
Sebenernya pengen nge-post youtube lagunya Glenn Fredly "Januari" di sini, betapa Januari ini terasa begitu berat untuk perjalanan perasaan ini.
Bagaikan jalanan di pegunungan yang awalnya mulus, lalu dia terputus.
Mungkin akan ada hutan untuk bisa berbelok arah dan mencari jalan lain menuju seberang, masih ada jalan yang bisa dicoba.
Tapi kemudian kau sadar, masuk ke hutan terlalu berbahaya, sehingga kau akan berhenti, diam, dan menyadari bahwa jalan itu telah terputus.
There is no way left.
Hmmm kembali ke Januari.
Ini bulan Januari.
Hari ini mungkin adalah klimaks atau antiklimaks dari hebatnya rasa galau karena "jalanan yang putus" itu.
Ada kau di seberangnya, tetapi aku ga bisa lagi ke sana.
Dan sedihnya, kau tak lagi sama.
Hari-hari yang aku lewati selama ini selalu diwarnai keyakinan bahwa aku dan kamu, kita, punya perasaan yang sama.
Warna-warni itu yang jujur, selalu berhasil menjadi pelangi motivasiku, mengalahkan lagu Danza Kuduro yang pernah ku-post di sini juga.
Keyakinan itu membuatku memilihmu menjadi Teddy Bear kesayanganku.
Yah, kau tahu, anak kecil penyuka boneka akan meminjamkan boneka apa saja kepada temannya, merelakan boneka mana saja menghilang dari kotak mainannya, kecuali yg satu itu ; boneka Teddy Bear cokelat, berbulu lembut dan harum, nyaman, dan paling loveable dari semuanya.
Kau Teddy Bear-ku, dan seharusnya pun aku ga akan membiarkanmu begitu saja lepas.
Tapi hari ini...
Setelah hari yang ga enak banget itu, tanggal sekian, bulan Januari tahun 2013, ketika aku akhirnya mendengar kabar tentang kemantapan hatimu kepada seseorang, setelah berhari-hari kulewatkan hanya mencari tahu tentang itu kemana-mana, setelah banyaknya tanda tanya dan kesedihan yang terbuang percuma, setelah sejumlah kata-kata habis tercurah dalam berbagai sesi incomplete-curhat-colongan, i've made my decision.
Kau. Kau memang Teddy Bear-ku.
Dan aku rasa aku sangat menyayangimu.
Lebih dari semua boneka ku.
Lebih dari mereka.
Kau sudah lama di sini, kau sudah menjadi bagian dari segalanya, kau yang mengisi atmosfirku, kau yang bisa aku gambarkan sedetail mungkin, karena kau memang di sini, selama ini...
Tapi lihatlah sekarang.
Ya...
Aku akan melepasmu ke pemilikmu yang baru.
Meski aku ga begitu paham, apakah ini berarti aku "meminjamkan"mu, atau "memberikan"mu kepadanya, yang jelas aku harus melepasmu.
Mungkin mulai sekarang aku bisa bersikap seolah-olah kau adalah boneka Superman usang yang ga akan kusentuh lagi.
Tapi aku tahu itu tidak akan berhasil karena kau memang adalah Teddy Bear. Hanya sekarang kau bukan lagi Teddy Bear-ku...
Hari ini aku memutuskan untuk diam di tepi jalan yang sudah terputus.
Kali ini tidak ada lagi keberanianku untuk memasuki hutan belantara itu, kau tahu.
Karena walaupun aku berani melompati jurang pemisah ini, menuju ke jalan seberang, menuju kepadamu, kau tidak akan lagi menyambutku.
Tidak lagi.
Kalau begitu, apa lagi yang harus kuperjuangkan sekarang?
Sudahlah, ini memang salah.
Sejak awal aku berjalan menuju pegunungan itu, sejak awal aku sudah salah.
Sekarang harus kukumpulkan lagi tenaga itu untuk kembali turun.
Ya, aku akan turun. Dan aku akan berhenti.
Selamat tinggal, kau.
Selamat tinggal, kesayanganku.
Selamat tinggal, kisahku.
Berjanjilah jangan pernah hentikan perjalananmu.
Teruslah kau, sampai ke puncaknya.
Karena kau pantas.
Sebuah Teddy Bear akan selalu pantas...

Dan sekarang dengarlah ini,
"Kisah kita berakhir di Januari..."



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

They are written, but may be unsaid.