Suatu sore yang mendung, di tempat fotocopy sekitaran kampus...
Me : X ; Mas2 Fotocopy : Y.
Y : nge-print neng?
X : iya, a'...
Y : wah formulir itu ya? ikutan juga neng?
X : iya hehehe
Y : kuliahnya jurusan apa neng?
X : SP, a'.
Y : ha? *mukabloon
X : Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan
Y : oh? ada ya? *mukatetepbloon
X : ya adalah :| *masa ngarang -___-
OK, yang di atas itu adalah sepenggal percakapan ku dengan mas2 fotocopy.
Kejadiannya udah lama, sekitar sebulan yang lalu.
Reaksiku pas mas-masnya mempertanyakan eksistensi jurusan ku : ga heran.
Yap, aku ga heran banyak yang ga tau dunia yang sedang dan akan terus aku geluti ini.
Bahkan ga jarang orang-orang ngirainnya aku ini architect-wanna-be, harus bisa bangun-bangun gedung bertingkat dan memperhitungkan nilai ekonomisnya. Helow? Lu kate gw kontraktor merangkap mandor -__-
Economics and Development Studies.
Jurusan yang akan melahirkan para ekonom.
Di sinilah aku menulis untukmu.
Untuk orang-orang yang ada di duniamu.
Dan untuk mereka yang tidak pernah tahu.
Aku mau membuka mata orang lebar-lebar kalo kami bukan arsitek, atau tukang bangun gedung bertingkat, atau kontraktor, atau mandor, atau apapun itu.
Kami adalah ekonom. Setidaknya calon ekonom :)
Ekonom ngapain aja?
Ekonom akan menjadi dokter. Dokter perekonomian di negara tempat dia berkarya. Pernah tahu Great Depression yang melanda Eropa tahun 1930an? Daya beli menurun, bank bangkrut, pengangguran dimana-mana, depresi besar melanda bagaikan virus yang menjalar, menggerogoti tubuh negaranya, yang harus diobati supaya mereka tidak "mati".
In this case, trust your economists, they are your doctor.
Ekonom akan memerintah. Memerintah dalam kebijakan. Kebijakan yang salah adalah kegagalan baginya, itu tidak bisa dipungkiri. Ya, kami akan belajar bertahun-tahun untuk kebijakan-kebijakan itu. Kebijakan yang bisa menyejahterakan, bukan menyengsarakan. Fiskal. Moneter. Semua demi Paretto efisiensi dan ekualitas.
Ekonom akan "membangun". Lebih dari membangun gedung, ia akan membangun negara itu menjadi lebih kaya dan eksis, dimana selanjutnya akan lebih banyak gedung-gedung bertingkat yang layak dibangun:)
Ekonom.
Aku kagum pada mereka.
Kagumku ini bukan kagum yang dibuat-buat karena aku memilih jurusan ini, tidak.
Dulu, sebelum memasuki jurusan ini, ekonom dalam bayanganku selalu seorang yang berdasi, pergi ke kantor, mengerti seluk beluk saham, dan sombong.
Ya, sombong yang "keren".
Tapi di sini, di jurusan ini, aku diajarkan bahwa seorang ekonom sejati, dia tidak sombong.
Ekonom sejati tidak egois.
Ekonom sejati mengerti.
Dia selalu memperhitungkan opportunity cost, dia lebih cermat dari akuntan.
Dia tidak memaksa kehendak karena ia mengerti konsep "It's impossible to make everybody's happy".
Dia selalu mengerti bahwa kepuasan dunia akan berakhir seiring konsep "The Law of Marginal Utility" yang dipelajarinya.
Dia selalu punya firasat yang baik, yang harus selangkah lebih maju dari musuh terberatnya (inflasi).
Dia selalu (harus) peduli tentang kemiskinan dan perasaan menjadi miskin, karena itu yang harus diberantasnya.
Dia mengerti tentang keadilan, karena konsep "efficient not always equal" yang dipelajarinya.
Dia mengerti bahwa tidak sekalipun memberi berarti rugi, karena memberi selalu menambah kepuasan bagi pemberinya.
Dia bisa menghitung, dia bisa me-manage dengan caranya sendiri. Caranya yang unik.
Tetapi...
Menjadi ekonom (atau calon ekonom) bukanlah hal yang gampang.
Sering sekali hampir menyerah sewaktu belajar.
Textbook yang tebal, kalkulus, statistika, kurva, mikro, makro, ekonometrik, rumus, sesungguhnya bukan hal-hal yang terlalu menyenangkan untuk menjadi santapan sehari-hari.
Sering sekali akan dijatuhkan.
Kau tahu?
Sebenernya jauh dalam lubuk hati terasa sekali sedihnya ketika orang-orang bilang,
"Apa? Ekonomi pembangunan? Susah cari kerjanya!"
"Kenapa ga akuntansi aja?"
"Emang gitu lulus pasti jadi menteri? Sebelumnya jadi apa, dong?"
People, coba lihat sekali-sekali ke atas sana. Ya, di sanalah kami akan duduk untuk mempertimbangkan kebijakan untuk kita semua.
Kami tidak akan langsung menjadi menteri. Tapi mungkin kami akan mulai dari hal yang paling kecil.
Kami bisa mencari berapa jumlah roti yang harus kau produksi untuk toko rotimu agar keuntunganmu maksimal.
Kami bisa memulai dengan menyusun anggaran belanjamu perminggu agar semua kebutuhan keluargamu terpenuhi.
Kami bisa memperhitungkan tenaga kerja yang harus kau rekrut dan mesin yang harus kau sewa untuk pabrik kecilmu agar perusahaanmu maju.
Kami bisa memulai hal-hal kecil seperti itu sampai akhirnya kami yang akan memutuskan berapa rupiah yang harus kau tukarkan untuk $1.
Inilah kami, ekonom dan calon ekonom.
Mungkin tidak banyak yang tahu, tidak banyak juga yang (benar-benar) mau.
Tapi kami berjanji, kami tidak "didesain" untuk menghitung dan me-manage hanya satu perusahaan, porsi kami adalah seluruhnya kita. Aku. Kamu. Perusahaanmu. Perusahaanku. Masyarakat, bangsa, dan negara kita.
Kami didesain bukan untuk duduk, tetapi untuk berdiri, membentuk lingkaran, dan bersatu untuk meng-cover semua itu.
Semakin lama aku ada di dalamnya, semakin aku mengerti bahwa sesungguhnya profesi ini mulia.
Yes, we are economists.
Beware of our invisible hands!:)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar