Rabu, 20 Juni 2012

Only Hope


Hai! Kembali dengan saya, kali ini dengan versi yang lebih serius dan menegangkan. Seru. Fantastis. Bombastis. Asoy. Geboy. #ABAIKAN

Sebenernya aku nge-share ini dalam keadaan yang galau-segalau-galaunya. Pernah rasain jadi satu-satunya orang yang tinggal di pulau-tak-terdeteksi-peta? Galau, kan? Pastinya. Tapi ini lebih galau! #ABAIKAN


Topik share kali ini adalah “Jangan Menggantungkan Harap”. Ya, harap. Harapan atau hope yang menurut kamus bahasa Inggris,
something good that you want to happen in the future, or a confident feeling about what will happen in the future
Masuk ke saat hening nan serius…


Aku ga mau terlalu banyak cerita tentang masalah yang lagi aku gumulin ini, karena bisa aja ada temen-temen yang tau persis ini masalah dan mandang dari sudut pandang yang berbeda, atau “terlalu berbeda”.

Jadi aku sekarang berada dalam situasi dimana aku “ditawarkan” dan “akhirnya mau” menggantungkan harapku sama seseorang. Dilihat dari factor A  B  C si orang ini ga bisa diragukan bangetlah. Semua dia ada, apapun dia punya, untuk mewujudkan harapku ini.  Dia baik. Dia berwibawa. Ga ada yang salah sama dia. Mungkin kalo kau ikut kuis probabilita, dan kau megang 99% dia berhasil, probabilita kemenanganmu mungkin bakal 100%. Ga ngerti? Bagi yang ga loading, pokoknya intinya, aku menggantungkan harapku sama orang ini. Aku berharap banyak. Dan mungkin terlalu banyak.


Aku bukan ngelarang setiap orang punya harapan. Harapan itu baik untuk motivasi diri sendiri. Bikin semangat karena kadang harapan itu bikin pikiran kita melayang-layang ngebayangin apa yg  bakal terjadi kemudian ketika harapan itu udah tergenggam di tangan. Pikiran kita jauuuuuuh menerawang. Ya, kayak definisinya dalem kamus itu aja, udah dibilang "something good". Itu juga yang terjadi sama aku. Di saat aku fixed memutuskan untuk percaya sama orang ini, aku mulai mengkhayal, gimana kalo itu semua nyata. Cukup indah. Sangat indah.


Tapi kita manusia dan kita terbatas. Kita kadanga mikir, ini jalan pasti mulus banget, ga ada grudukannya, ga ada batu, ga ada kerikil, bahkan berpasir pun tidak. Tapi salahnya, jalan itu terlalu licin. Saking licinnya, kita terpeleset. Mungkin bukan kerikil yang bisa menghalangi kita, tp masalah yang tak kasat mata itu, bisa jadi penghalang terbesar.

Ini yang sekarang terjadi. Ternyata semua failed. Harapanku kandas. Siapa yang nyangka ternyata  orang itu ga berhasil memperjuangkanku. Apa yang udah aku gantungin lepas, jatuh, dan remuk di tanah.

Aku ga akan pernah nyalahin orang dimana aku menggantungkan harapku. Malah aku mau say thanks banget karena dia udah mengulurkan tangannya dimana aku bisa menggantung harapku disana. Aku bahkan ga akan pernah nyalahin mereka, yang mungkin ikut andil dalam pupusnya harapanku ini. Ga sama sekali. Itu tabiat dan mungkin mereka mengikuti naluri mereka sendiri. It will never be fair sebenernya, tp kau ga harus berkutat hanya untuk menyalahkan pihak-pihak ketiga.


Tapi u know what? Aku menyalahkan aku. Ya, diriku sendiri. Apa karena aku udah gantungin harapan terlalu tinggi, terus angin menggoyangkannya, dan akhirnya jatuh? Bukan. Karena aku ga “meletakkan” harapanku, aku hanya “menggantung”nya. Buatku, ga salah kalo harus meletakkan harapanmu, tapi jangan kau menggantungnya. Apa bedanya? Ya, pertanyaan yang bagus. Jawabannya simple : butuh tangan yang lebih kuat dan lebih besar untukmu meletakkan harapmu di sana, setinggi dan seluarbiasa apa pun itu, bahkan mungkin sampai ga masuk akal hebatnya harapanmu. Hanya satu tempat dimana harapanmu ga akan jatuh seperti kalau kau cuman menggantungkannya; Tuhanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

They are written, but may be unsaid.