Rabu, 14 Agustus 2013

Look Back

Pada akhirnya aku harus pulang, Tuhan.
Terima kasih sudah membuat karet penahan di pinggangku.
Supaya aku ga bisa kemana mana lagi, ke tempat yang terlalu jauh dari jangkauanku.
Karena sekarang aku tahu, tidak ada satupun partikelku yang luput dari Engkau, pula masa depanku.
Aku bersyukur untuk perihal-Mu yang ajaib,
untuk segala kejadianku yang luar biasa.
Untuk orang-orang yang datang dan pergi,
Dan untuk hikmat yang dapat diambil.
Seperti alir mengalir dengan pasrahnya, aku siap.
Aku tahu, aku akan berakhir di lautan tenang, ga peduli berapa banyaknya batu yang harus berhempasan melawanku.
Aku, kehidupanku, dan Kau, bukan vicious circle.
Aku lebih suka mengilustrasikan pokok anggur.
Kau pokokku, sentralku.
Aku rantingMu,
Dan kehidupanku adalah buahnya.
Yang jika masam, akan membuatku segera ditebang.
Aku tahu, bukan aku yang akan terpilih jika masuk surga berbicara tentang timbangan.
Hidupku seringkali sia-sia belaka.
Dosa merajalela.
Panca indera diciptakan untuk kesia-siaan!
Terkadang aku muak.
Tapi begitu pun aku tersadar, semua memanglah sia-sia,
HANYA jika itu tanpaMu.
Klise? Mungkin.
Sebelum pada akhirnya aku mengaminkan ini :

"...  sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa."
- Yohanes 15 : 5

2 komentar:

They are written, but may be unsaid.