“Wajar bila saat ini kuiri pada kalian…
Yang hidup bahagia akan suasana indah dalam rumah…”
Ada yang ngerasa familiar dengan lirik lagu itu?
Wajar aja, karena sebenernya lagu ini sering terdengar
bersama gemerincing tutup botol dan petikan senar ukulele yang usang.
Ya, lagu pengamen.
Jujur, awal denger lagu ini aku ga benar-benar “ngeh” dengan
liriknya.
Pertama kali denger , aku kirain lagu ini berbicara tentang
seseorang yang rindu. Oke, entah apa yang menjadi masalah, mungkin telingaku,
aku dengernya kayak “Percayalah saat ini ku rindu pada kalian.”
Mirip kan? Apa aku yang aneh?
Entah apalah itu, pokoknya dari SMA, dimana kali pertama aku
denger lagu itu, udah tertanam di benak,
hati sanubari, kalo itu adalah lagu cinta pengamen galau yang lagi kangen sama pacarnya,
walaupun aku masih ga tau fungsi kata “kalian” itu apa.
Yang pasti pertama kali denger lagu ini, aku tahu kalo
nadanya enak didenger dan easy listening.
Mungkin easy playing juga, makanya
banyak banget pengamen yang nyanyiin lagu itu, di setiap sudut jalan pasti ada,
kala lagu itu lagi populer.
Waktu pun berlalu, kehidupan aku berjalan tanpa sedikitpun
aku terusik lagi sama lagu itu. Bagaikan kabut ditiup angin, lagu itu ga pernah
lagi aku denger. Tergerus oleh zaman.
Mungkin orang udah bosen dengernya.
Tapi di saat lagu itu udah ga populer lagi, aku jadi tahu
kenapa dulunya lagu itu sangat populer.
Dan ternyata lebih dari itu, saat itu juga aku belajar
tentang sesuatu.
Jadi setting ceritanya itu pas aku makan sama temen berempat
di emperan sekitaran kampus, makan di tempat ayam bakar. Tempatnya aja sih ayam
bakar, mesennya telur dadar juga (maklum anak kos).
Di saat asik makan, kedengeran “Percayalah saat ini kurindu
pada kalian” lagi di sebelah tempat aku dan temen-temen makan. Gimana yah orang
lagi menikmati makanan, pasti juga ga bakalan terlalu serius dengerin lirik
lagu yang dinyanyiin, sampe tiba-tiba salah satu temen aku yang udah selesai
makan bernyanyi lirih…
Jelas.
Lugas.
Di depan mataku.
“Wajar bila saat ini…
Kuiri pada kalian…
Yang hidup bahagia akan suasana…
Indah dalam rumah…”
Aku langsung terdiam saat itu. Terkejut. Lagu itu bukan lagu
galau!
Tapi lebih dari galau.
Lagu itu ga selevel dengan lagu galaunya sang penyanyi
karena kekasihnya.
Lagu itu lagu patah hati seorang anak yang kebahagiaannya
kandas.
Entah kenapa aku jadi pengin nangis.
Ya mungkin emang terdengar lebay. Tapi sadar ga sih, lagu
itu sarat makna?
Sepenggal lirik lagu itu sanggup membuat aku belajar banyak
hari itu, tanpa harus banyak mempelajari hal-hal ribet,. Hanya sepenggal lirik,
beberapa kata.
Aku bisa belajar untuk bersyukur atas kehidupanku, atas
keluarga ku, atas kasih sayang, dan atas cinta.
Aku ga akan pernah sanggup untuk ngerasain apa yang mereka
rasain, apalagi sambil menyanyikannya.
Telur dadar, ayam bakar, emperan, gitar, suara, dan lirik
lagu…
Siang itu mereka membawa pesan yang amat tersirat buatku
untuk bersyukur.
Bukan bersyukur karena mereka boleh iri padaku, tapi
bersyukur aku boleh tidak iri pada siapapun…
Ya, aku bersyukur J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar