Rabu, 19 Maret 2014


Cocokkah Tax-Preferred Saving Account Diterapkan di Indonesia?
oleh : Anita Kesia Zonebia

Tax-preferred saving account merupakan sebuah sistem deposito bebas pajak dengan batasan jumlah kontribusi tertentu yang telah disepakati dan diatur dalam undang-undang yang berlaku. Di Amerika, terdapat program dana pensiun yang sifatnya hampir sama dengan TPSA (Tax-Preffered Saving Account), yaitu program 401(k) dan IRA (Individual Retirement Accounts). Program semacam ini juga berlaku di negara tetangganya, Kanada, yaitu Registered Retirement Savings Plans (RRSPs) dengan batas kontribusi $5000 tidak dikenai pajak. Program serupa juga dikenal dengan istilah TFSA (Tax-Free Saving Account), dimana konstribusi, penarikan, dan penerimaan dari bunga tidak dikenai pajak. Studi yang dilakukan oleh Kevin Milligan (2002) menyimpulkan bahwa kenaikan tingkat pajak sebesar 10% akan meningkatkan kemungkinan terjadinya partisipasi TPSA sebesar 8%. Trend menunjukkan sistem ini mengalami peningkatan partisipan dikarenakan pajak yang semakin membebani masyarakat.

Bagaimana dengan negara kita, Indonesia? Sistem semacam TPSA sudah diberlakukan melalui program DPLK (Dana Pensium Lembaga Keuangan). Tidak ada pengenaan pajak mulai dari kontribusi hingga investasi menghasilkan return, sehingga jumlah investasi bisa maksimal. Pajak hanya dikenakan ketika memasuki usia pensiun dan partisipan boleh menarik dana pensiunnya. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah program semacam ini cocok diterapkan di Indonesia? Jelas, selama batasan jumlah kontribusi ditetapkan secara legal dan pasti, program TPSA memberikan dampak yang positif bagi pelaku ekonomi dan perekonomian itu sendiri.

Tarif pajak yang dikenakan terhadap penghasilan dari bunga tabungan dan deposito adalah 20% dan bersifat final. Tidak dipungkiri jumlah ini membuat sebagian besar orang merasa terbebani dengan pajak. Apalagi jika menabung untuk hari tua harus melewati tahun-tahun inflasi yang besar dan tingkat suku bunga riil yang menurun. Uang yang sudah susah payah diperoleh ketika muda akan ‘termakan’ habis nilainya. Baginya akan sama saja, menabung di bank atau melakukan investasi seperti DPLK. Karena berbicara mengenai kesejahteraan, maka program ini jelas menguntungkan. Pajak tidak akan menjadi kebijakan yang merugikan masyarakat.

Indonesia merupakan salah satu lahan basah bagi investor dengan tingkat suku bunga yang cukup menggiurkan, yaitu sekitar 15%. Investor asing senang berinvestasi di Indonesia karena uang mereka akan ‘bertumbuh’ pesat di sini. Sumber investasi adalah tabungan. Dibutuhkan tabungan yang besar untuk mendukung investasi yang besar. Pemerintah sudah banyak mencetuskan program-program mendorong investasi demi tercapainya pertumbuhan ekonomi cepat 6,5-7%, contohnya dengan kebijakan dividen yang bebas pajak. Sebenarnya hal ini hampir mirip dengan program TPSA yang juga membebaskan pajak pada kondisi tertentu. Menurut teori pertumbuhan Solow, apabila tingkat tabungan suatu negara tinggi, perekonomian akan mempunyai persediaan modal yang besar dan tingkat output yang tinggi. Jika penelitian yang dilakukan oleh Benjamin (2003) benar, maka TPSA dapat menstimulasi tabungan-tabungan baru untuk mendorong investasi. Tidak harus melalui program semacam DPLK, melainkan meningkatnya investasi dalam bentuk lain yang juga merupakan dampak lanjut adanya TPSA menurut beberapa ahli.

Berbicara kembali mengenai pertumbuhan ekonomi, program semacam Keogh Plan yang tidak memungut pajak atas 20% total pendapatan seseorang sampai batas $49,000 juga bisa menjadi kebijakan yang mendukung. Dengan berkurangnya beban pajak, seseorang bisa menggunakan sisa pendapatannya untuk ditabung, diinvestasikan dalam bentuk properti, bahkan dijadikan modal usaha yang  menstimulasi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan.

TPSA juga tidak terbatas pada program dana pensiun dan dunia bisnis, namun juga mencakup bidang lain, seperti kesehatan dan pendidikan. Sebagai contoh, di Amerika, adanya program Education Savings Account yang memungkinkan tiap keluarga mendepositokan $2000 biaya pendidikan per anak yang bebas pajak. Hal ini masih belum familiar di Indonesia. Indonesia lebih memusatkan belanja negara sebesar 20% APBN untuk membangun fasilitas pendidikan dan membiayai tenaga didik yang memadai. Namun, sayangnya, dilihat dari kasus yang selama ini berkembang, dana tersebut acap kali dikorupsi dan dana pendidikan tidak sampai ke tangan orang-orang yang membutuhkan. Akibatnya, peningkatan kualitas pendidikan tidak efektif. Oleh sebab itu, program semacam Education Savings Account ini dapat dilakukan untuk menjamin dampak langsung subsidi pendidikan yang boleh dirasakan masyarakat. Dalam jangka panjang, Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia akan meningkat.

Berbicara mengenai suatu kebijakan memang menuai pro dan kontra, layaknya dua sisi koin. Penerapan TPSA di Indonesia dapat menuai kontra dikarenakan berkurangnya pendapatan negara melalui pajak. Namun sejauh ini analisis menunjukkan dampak yang dapat dirasakan akan lebih general, tidak hanya bagi masyarakat, namun bagi pemerintah. Diharapkan program semacam ini lebih digalakkan lagi karena nyatanya, pajak masih menjadi sesuatu yang membebani sebagian besar masyarakat. Seperti yang dikatakan oleh Winston Churcill, ”There is no such thing as a good tax.”


Tingkat Akhir

Sambil menyeduh Popmie rasa kari yang emang bestfriend banget sama lidah anak muda Indonesia (re : anak kosan), aku menatap tajam pada tab-tab yang lagi aku buka di Google Chrome.
Yaps, hanya halaman blogger ini yang isinya untuk dikonsumsi otak kanan :')
Tanda-tanda memasuki tingkat akhir sudah mulai terasa. Tangan agak bergetar ketika memegang kotak danusan, mungkin karena sudah renta hahaha. Pertanyaan para sahabat bukan lagi "Eh udah nonton Twilight belum?" namun beralih menjadi pertanyaan awkward semacam "Eh udah mikirin judul belum?"
Bzzzzzt! Apa itu judul? Apa itu topik? Topik kan nama orang #ituTaufik. Aku ada dimana? Ini tahun berapa? Namaku siapaaaaa? Huwaaaaaaah :")
Sejenak otak memuat ulang kesadaran yang hampir hilang, istilah kerennya reload.
Yeah, it's time, Abby! Wake up!
Mulai sekarang tongkrongan website harus diganti dari streaming film, online shop, dan facebook jadi hal-hal semacam LinkedIn, web kumpulan jurnal, dan web perusahaan tempat magang (yeps.)
Tempat yang akan selalu terngiang bukan lagi rumah yang hanya bisa didatangi enam bulan sekali di Medan, namun kawasan SCBD dan sekitarnya.
Buka WikiHowTo bukan lagi untuk pertanyaan semacam "How to Lose Weight in 10 Days" tapi sudah menjelma menjadi "How to Make a Good Interview".
Bacaan bukan lagi "Cintaku Bersemi di Kampus", tetapi bacaan semacam "Metode Kuantitatif" (emang ada ya?).
See?
So, let's be productive, dear para penikmat tingkat akhir!

Kamis, 06 Maret 2014


Apalah arti sebuah nama jika tak kenal putus asa.
Semangat!!!

Jumat, 27 Desember 2013

Balon, balon dimana - mana.
Balon menceritakan kehidupan kita semua.
Pertama kali terlahir, hanya sehelai karet lusuh, tak berdaya, namun potensial.
Kemudian kau bertumbuh dan berkembang, menjadi besar dan semakin sempurna.
Kehadiranmu, kemudian membawa kesan bagi orang - orang.
Ada yg menjadi ceria, ada yg terkagum, ada yg biasa saja, bahkan ada yg membenci.
Lalu saatnya tiba, waktumu sudah habis.
Ada yg harus "berhenti di tengah jalan" karena meletus.
Ada yg perlahan - lahan mengempis.
Everything is unexpected.
We just live random life.
Face it.
Like a balloon.

NB : notice sumthing? Yes, i lose weight btw. I'm in 48 now :(

Minggu, 22 Desember 2013

Apakah kau pernah tahu cerita tentang kaca?
Dulu, mereka membara dalam gelora. Panas dan mudah meleleh.
Tapi tidak selamanya, karena mereka harus menjadi kaca.
Di tempat tempahan masing-masing mereka ditempah.
Tidak pernah bertemu, hanya diam dan dingin yang membentuk mereka.
Semakin keras, semakin jujur, dan semakin indah.
Dalam diam dan kaku mereka berdiri.
Lalu bertemu,
dan tersenyum.
Tersadar bahwa masing-masing sudah menjadi kaca untuk yang lain.

Symmetrically, reflects each other.

Selasa, 03 Desember 2013

Chatime

Selasa, 3 Desember 2013

Habis ngajar langsung cao ke ciwalk, karena ngidam pake banget sama...
Chatime!
Sendirian, tanpa teman & kekasih.
Hahaha.
Ketemu beberapa kolega di Chatime dan saling bertegur sapa.
Niatnya pengen langsung pulang, tp hujan rintik-rintik di luar meruntuhkan semangat pulang.
Mengambil tempat duduk paling strategis, musik mulai mengalunkan lagu Pupus. #naooon
Sedikit perenungan, akhirnya sampai juga di saat-saat ini.
2 tahun lebih di Bandung, sama sekali ga terasa.
Denger ada yg panggil "kakak" sama adik kelas sendiri itu rasanya...errr...hard to explain lah.
Bersyukur untuk banyak hal yang sudah berubah di hidupku, untuk hidup yg lebih "berkembang".
Hanya saja tiba-tiba muncul pertanyaan,
"What have you done?".
Apa yang udah aku lakukan selama ini?
Sudahkah aku menjadi mahasiswi hebat seperti yang selalu kurencanakan dahulu?
Belum.
Kemudian aku sadar.
Sekilat apapun aku merencanakan metamorfosisku, semuanya sia-sia.
Perubahan itu bertahap. Tidak bisa sekejap.
Seperti hujan yang perlahan-lahan berhenti, dia tidak berhenti tiba-tiba.
I'm in that process.
Memang, tampaknya tidak ada perubahan yang signifikan.
Tapi jauh di dalam, semuanya sudah berubah.
People change, atmosphere change, you just never know when it bursts. ;)

Minggu, 01 Desember 2013

Almost Is Never Enough (by Ariana Grande & Nathan Sykes)




I'd like to say we gave it a try
I'd like to blame it all on life
Maybe we just weren't right, but that's a lie, that's a lie

And we can deny it as much as we want
But in time our feelings will show

'Cause sooner or later
We'll wonder why we gave up
The truth is everyone knows

Almost, almost is never enough
So close to being in love
If I would have known that you wanted me
The way I wanted you
Then maybe we wouldn't be two worlds apart
But right here in each other's arms

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

If I could change the world overnight
There'd be no such thing as goodbye
You'd be standing right where you were
And we'd get the chance we deserve

Try to deny it as much as you want
But in time our feelings will show

They are written, but may be unsaid.